Adriani Sukmoro

Workplace Infidelity

Ungkapan ”3 Ta” sering digunakan untuk menggambarkan tiga godaan besar yang kerap dikaitkan dengan para pemimpin atau orang yang memiliki kekuasaan.

Tahta, “Ta” pertama, menggambarkan posisi tinggi, jabatan, kekuasaan yang diemban seseorang dalam suatu organisasi. Godaan menyalahgunakan jabatan bisa muncul dalam bentuk otoritarianisme, korupsi kekuasaan, atau membuat keputusan sewenang-wenang demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Harta, “Ta” kedua, menggambarkan kekayaan atau aset yang dimiliki seseorang. Godaan ingin memiliki harta berlimpah bisa membuat seseorang yang memiliki jabatan melakukan tindakan korupsi, pencurian, atau penipuan.

Wanita, “Ta” ketiga, menggambarkan godaaan relasi asmara atau hasrat pribadi yang berlebihan. Walau istilah ini bias gender, maknanya sering diperluas menjadi simbol dari godaan nafsu secara umum, tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu. Seseorang yang memiliki jabatan bisa tergoda memiliki relasi asmara dan terlibat dalam skandal seksual atau perselingkuhan.

Konser Coldplay

Headline harian Kompas Minggu 20 Juli 2025 tampil dengan berita tak biasa. Beritanya aktual, tapi bukan menyorot masalah politik, ekonomi, kriminalitas, ketimpangan sosial, dan berita yang umumnya disajikan harian beroplah terbesar di Tanah Air itu.

Headline Kompas hari Minggu itu bertajuk “Kalian yang Selingkuh, Kami yang Kena Batunya” di sisi kiri halaman utama, sementara di sisi kanannya bertajuk “Dari Ruang Rapat ke Ruang Gelap”. Inti berita seputar perselingkuhan antar pekerja kantor di kantor.

Saya menyebut perselingkuhan di kantor dengan istilah office affair, namun Kompas menyorotinya sebagai workplace infidelity. Tak cukup hanya membahas office affair di halaman depan, tulisan bertajuk “Selingkuh? Saatnya Kantor Bertindak” pun hadir di halaman 6 Kompas hari itu.

Tulisan seputar office affair yang diangkat Kompas turut menyoroti kasus perselingkuhan yang terungkap saat konser musik Coldplay di stadium Gillette kota Foxborough (dekat Boston), negara bagian Massachusetts. Dua sejoli yang bermesraan menikmati konser tertangkap kamera Kiss Cam dan terpampang di layar jumbotron. Menyadari mereka terlihat di layar besar, kedua sejoli itu langsung bersembunyi, tak ingin terlihat publik.

Video sejoli yang bersembunyi dari kamera itu menjadi viral. Mengapa viral? Ternyata kedua sejoli tadi bukan orang sembarangan. Mereka petinggi Astronomer, perusahaan teknologi Amerika Serikat. Andy Byron, CEO Astronomer, dan Kristin Cabot, Chief People Officer Astronomer, bukanlah pasangan suami istri. Masing-masing telah menikah dan memiliki keluarga, membuat tampilan mereka sebagai sejoli di konser Coldplay menjadi viral.

Beberapa hari kemudian Andy Byron mengajukan pengunduran diri dari Astronomer. Perselingkuhan seorang CEO dengan karyawan perusahaan tempatnya bekerja (apalagi petinggi perusahaan yang melapor langsung padanya) tidak dapat diterima secara etika bisnis. Walau mungkin tak ada peraturan perusahaan yang mengatur perselingkuhan  antar karyawan, namun tak dapat disangkal situasi sedemikian bisa menimbulkan konflik kepentingan, favoritism, dan risiko lingkungan kerja yang tidak sehat. Lebih jauh lagi, CEO dan petinggi perusahaan dituntut memberi teladan dalam organisasi.

Boeing

Di hari Senin 7 Maret 2005 perusahaan Boeing mengeluarkan pengumuman, bahwa Harry Stonecipher, Presiden dan CEO perusahaan itu, telah mengajukan surat pengunduran diri sehari sebelumnya.

Karier Harry Stonecipher berkembang dengan baik. Ia pernah menjabat sebagai eksekutif di beberapa perusahaan Amerika, sebelum akhirnya bergabung dengan Boeing tahun 1997, menjabat sebagai Presiden dan Chief Operating Officer. Ia pensiun tahun 2002. Namun ia kembali bekerja saat perusahaan Boeing mengangkatnya sebagai Presiden dan CEO Boeing bulan Desember 2003.

Kinerja Boeing di bawah kepemimpinan Harry Stonecipher menunjukkan hasil positif, baik dari segi finansial maupun operasional. Mengapa sang CEO mengundurkan diri walau baru menjabat sebagai CEO setahun lebih dan menunjukkan kinerja baik?

Ternyata manajemen menerima laporan dari seorang karyawan perusahaan, yang menemukan surel (email) antara CEO Harry Stonecipher dan Debra Peabody, karyawan Boeing berpangkat Vice President. Surel itu tak berkaitan dengan urusan bisnis perusahaan, justru berisi pembicaraan romantis antar kedua pemimpin perusahaan tersebut.

Debra Peabody telah bercerai, sementara Harry Stonecipher berstatus menikah (50 tahun pernikahan). Namun ia telah hidup terpisah dari istrinya beberapa tahun sebelum kasus muncul. Harry Stonecipher bukan atasan langsung Debra Peabody, dan lokasi kantor mereka berbeda. Harry Stonecipher duduk di kantor pusat (saat itu kantor pusat Boeing berada di Chicago), sementara Debra Peabody berkantor di Washington.

Laporan di atas menyebabkan manajemen melakukan investigasi internal. Diketahui kemudian bahwa office affair antara Harry Stonecipher dan Debra Peabody dimulai saat mereka mengikuti kegiatan executive retreat (outing) bulan Januari 2005. Office affair di antara mereka terus berlanjut usai kegiatan outing.

Berdasarkan hasil investigasi internal, manajemen Boeing berpendapat bahwa office affair yang dilakukan Harry Stonecipher menunjukkan ketidakmampuannya membedakan hal baik dan hal buruk (poor judgment). Poor judgment membuat manajemen Boeing tak percaya pada kemampuan Harry Stonecipher memimpin perusahaan. Dikatakan pula, tindakan Harry Stonecipher tidak sejalan dengan pedoman perilaku (code of conduct) perusahaan.

Mau tak mau sang CEO mengajukan pengunduran diri dari perusahaan. Kasus office affair yang terjadi membuat kariernya berakhir di Boeing.

Laporan Suami

Saat menjabat sebagai Chief Human Resources Officer (CHRO) suatu perusahaan, suatu hari saya menerima email dari orang luar perusahaan (pihak eksternal). Pengirimnya suami dari salah satu petinggi perusahaan. Isi email tak berhubungan dengan bisnis perusahaan; tapi melaporkan perselingkuhan yang terjadi antara istrinya dengan salah seorang anak buahnya.

Posisi yang diemban istri pelapor merupakan salah satu posisi kunci dalam organisasi. Hanya mereka yang memiliki kualifikasi tertentu dapat menjabat posisi tersebut. Anak buah yang dituduh berselingkuh dengan istrinya dalam laporan itu juga memiliki kualifikasi penting, salah satu tenaga andalan di departemen. Anak buah itu melapor langsung pada pimpinan perempuan tadi dalam struktur organisasi.

Perusahaan melakukan proses investigasi internal sebagai tindak lanjut laporan di atas. Walau pimpinan perempuan tadi maupun anak buahnya menyangkal adanya hubungan khusus antar mereka, namun beberapa dokumen pendukung yang diserahkan sang suami memberatkan penyangkalan di atas.

Urusan laporan perselingkuhan petinggi perempuan yang dituduhkan sang suami tak hanya menjadi urusan CHRO dan CEO perusahaan di Tanah Air. Kantor regional turut campur, menimbang dampak yang mungkin timbul dari pelaporan, termasuk dampak terhadap reputasi perusahaan.

Mungkin karena pentingnya posisi yang diemban, kompetensi yang menonjol, dan kinerja yang positif; CEO dan manajemen regional memutuskan tidak melakukan tindakan apapun pada pemimpin perempuan tadi. Sanksi hanya dilakukan pada anak buah yang terlibat dalam kasus perselingkuhan, ia diminta mengundurkan diri dari perusahaan.

Keputusan itu tentu menjadi kesempatan bagi pemimpin perempuan tadi untuk tetap berkarier di perusahaan. Namun, berita perselingkuhan yang tersebar luas dan menjadi “pengetahuan umum” di dalam organisasi, membuat petinggi tersebut menanggung beban, kepemimpinannya menjadi goyah. Tak lama kemudian ia mengundurkan diri, pindah ke perusahaan lain.

Seringkali ungkapan “3 Ta” menjadi pengingat agar seseorang, terutama yang memiliki posisi tinggi dalam organisasi, tetap berintegritas dan waspada terhadap godaan yang bisa menjatuhkan dirinya sendiri.

Seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan seringkali tergoda untuk menggunakan posisinya demi keuntungan pribadi, termasuk dalam hubungan romantis. Dalam banyak kasus, office affair yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak etis, atau melanggar norma sosial, menjadi celah bagi keruntuhan kredibilitas seseorang, meskipun secara profesional ia memiliki prestasi.

Work