Adriani Sukmoro

Kursi Roda

Perusahaan tempat saya bekerja yang berkantor pusat di New York mengumumkan rencana penjualan bisnis di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kegiatan kantor jauh berkurang sejak rencana penjualan bisnis diumumkan. Manajemen tidak meluncurkan produk baru lagi, dana perusahaan tak digunakan untuk berinvestasi, juga minim inisiatif bisnis lainnya. Fokus manajemen terpusat pada portofolio yang ada, kelancaran operasional, dan mempertahankan kinerja keuangan.

Kegiatan kantor yang jauh berkurang itu membuat saya bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa dilakukan mengisi waktu selama menunggu penjualan bisnis tuntas? Proses penjualan bisnis bisa memakan waktu beberapa bulan lamanya, bahkan mungkin hingga setahun (atau lebih), tergantung kompleksitas bisnis, kondisi pasar, dan kesepakatan antar kedua penjual dan pembeli bisnis.

Ide muncul di kepala. Mengapa tidak melanjutkan pendidikan saja? Bukankah saya selalu terkesan dengan kandidat yang memiliki gelar S-2 saat proses wawancara kerja? Saya tetap ingin bekerja, jadi perlu mencari pendidikan S-2 yang bisa dilakukan sambil bekerja.

IPMI

Ketika menjadi Recruitment Officer suatu bank asing, sarjana S-2 lulusan Institut Pengembangan Manajemen Indonesia (IPMI) masuk dalam daftar kandidat yang dipertimbangkan. Lulusan S-2 institusi itu sudah memiliki pengalaman kerja (setidaknya 2 tahun) sebelum mengikuti program S-2 IPMI.

Beberapa lulusan IPMI berhasil diterima sebagai management trainee bank asing tadi. Saya pun jadi mengenal IPMI sebagai institusi pendidikan yang menghasilkan sarjana S-2 berkualitas.

Ide yang muncul di kepala, untuk melanjutkan pendidikan S-2 sambil tetap bekerja, mengarahkan pikiran pada IPMI. IPMI menyediakan kelas MBA executive, khusus bagi para profesional yang ingin menjalani pendidikan tingkat magister sambil tetap bekerja. Kuliah dilangsungkan hanya sekali seminggu, setiap hari Sabtu, selama 2 tahun.

IPMI menekankan pendekatan praktis dan berorientasi pada pengalaman. Kurikulumnya dirancang dengan standar internasional dan menggunakan bahasa Inggris, fokus pada pengembangan keterampilan kepemimpinan, pemikiran global, dan pemecahan masalah. Pembelajarannya berbasis studi kasus Harvard, diambil dari Harvard Business Review (HBR), dan melibatkan dosen praktisi bisnis serta akademisi. Saya menganggap pendekatan sedemikian sangat relevan bagi saya, seorang praktisi di perusahaan.

Saya pun mendaftarkan diri, menjadi mahasiswa program MBA executive IPMI.

International Business

Seorang pria menggunakan kursi roda memasuki ruang kuliah ketika perkuliahan sudah dalam semester 3 di IPMI. Beliau dosen yang mengajar mata kuliah International Business.

Handry Satriago, nama yang diperkenalkannya saat mulai mengajar. Mahasiswa memanggilnya ‘Pak Handry’.

Energinya bisa dirasakan mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Ia mendorong setiap mahasiswa bicara, mengeluarkan pendapat tentang studi kasus HBR. Diskusi interaktif dibarengi suara Pak Handry yang khas membuat kelas hidup dan bersemangat. Mahasiswanya jadi rajin membaca studi kasus HBR, agar bisa terlibat dalam diskusi kelas.

Selama 6 bulan mengajar mata kuliah International Business, tak sekali pun ia absen dari tugas. Padahal ia seorang praktisi, menjabat sebagai Business Development Director di General Electric (GE) saat itu. Pasti sibuk di hari kerja, namun terlihat bersemangat menggunakan hari libur Sabtu untuk mengajar.

Kursi roda tak menghalanginya bergerak lincah. Bahkan ia pernah melompatkan tubuhnya ke meja dosen, lepas dari kursi rodanya. Terlihat ia sudah terbiasa melakukannya, tidak jatuh dan tidak meminta bantuan orang lain untuk melakukannya.

Saya sengaja memakai tas Louis Vuitton ke kampus IPMI saat kelas membahas studi kasus Louis Vuitton berdasarkan bahan HBR. Langsung saja Pak Handry merujuk contoh tas Louis Vuitton itu di depan kelas.

Pak Handry senang ngobrol dengan mahasiswa. Di suatu kesempatan ia mengajak seisi kelas saya hangout di suatu café. Mahasiswa senang, maklum makan malam dan minum di café ditraktir pak dosen. Obrolan seru, mulai dari bisnis, tren saat itu, isu sosial, diselingi berbagai joke segar.

GE

Ketika proses penjualan perusahaan tempat saya bekerja sudah tuntas, saya pun mencari pekerjaan lain. Guess what? Saya diterima bekerja di GE. Maka, saya pun jadi bernaung di perusahaan yang sama dengan Pak Handry, mantan dosen di IPMI.

Saat itu beliau sudah menjabat sebagai CEO GE bisnis korporasi (corporate business); menangani klien-klien korporasi. Sementara saya bergabung dengan GE Finance yang menangani bisnis konsumen (khusus keuangan/kartu kredit).

Mendengar saya bergabung dengan GE, beliau mengajak ngobrol di Starbucks yang terdapat di area kantor. Kali ini, ia tak bersedia dipanggil ‘Pak Handry’, cukup Handry saja. Status hubungan sudah berganti, dari dosen-mahasiswa menjadi kolega kerja di GE. Perusahaan asing memang tak memberi jarak kepangkatan, sesama karyawan cenderung memanggil nama tanpa embel-embel ‘Pak’ atau ‘Ibu’.

Saya jadi mendengar ceritanya tentang penyebab ia harus duduk di kursi roda sambil menikmati minuman Starbucks. Pada usia 17 tahun, Handry terkena penyakit limfoma Hodgkin, penyakit kanker sistem limfatik. Dari referensi yang saya baca, kanker jenis itu menyerang sistem limfatik, bagian dari sistem kekebalan tubuh. Limfoma Hodgkin ditandai dengan pertumbuhan sel limfosit B yang abnormal dan berlebihan, khususnya sel Reed-Sternberg yang khas.

Handry tak mau berhenti duduk di kursi roda, ia melanjutkan hidup. Di bidang pendidikan ia meraih gelar sarjana teknologi industri pertanian dari Institut Pertanian Bogor. Bahkan kemudian melanjutkan studi, meraih gelar magister manajemen dari IPMI dan Monash University.

Di bidang pekerjaan, ia menapak karier dengan bekerja di beberapa perusahaan lokal hingga bergabung dengan GE. Ia berhasil terpilih sebagai CEO GE, puncak kariernya saat itu.

Doktor

Saya menemukan amplop berisi undangan di atas meja kerja di bulan Juli 2010. Undangan untuk menghadiri Sidang Promosi Doktor Handry Satriago.

Saya jadi tahu, Handry melanjutkan pendidikannya hingga jenjang S-3 sambil tetap bekerja. Tak main-main, program S-3 itu diambilnya di Universitas Indonesia. Wah, sungguh tinggi kemauan belajarnya, patut dijadikan teladan.

Saya pun memastikan hadir di sidang disertasi doktoral itu. Lumayan terkesan melihat banyaknya para undangan yang hadir di ruang ujian terbuka tersebut. Handry memang pribadi yang supel, senang berkomunikasi dan membina hubungan sosial. Tak heran banyak yang meluangkan waktu hadir walau ujian terbuka program doktoral itu diadakan pada hari kerja.

Lebih dari sejam lamanya Handry mempertahankan disertasi doktoral bidang manajemen strategis berjudul “The Influence of Followers to Leader’s Performance: A Reverse Pygmalion Effect” di depan dewan penguji. Disertasinya memaparkan bukti-bukti empiris pengaruh ekspektasi bawahan terhadap kinerja pimpinan. Hal ini merupakan kebalikan dari efek Pigmalion yang dipopulerkan psikolog Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson tahun 1968, dimana biasanya pengaruh itu dari atasan kepada bawahan.

Tanya jawab antara Handry dan para penguji berlangsung setelah pemaparan disertasi selesai. Kemudian dewan penguji melakukan diskusi tertutup, mengevaluasi sidang disertasi tadi.

Selang beberapa waktu lamanya, dewan penguji siap melakukan pengumuman hasil sidang disertasi. Disertai doktoral Handry diterima, dan ia dinyatakan berhasil meraih gelar Doktor.

Karangan Bunga

Putri sulung melayangkan lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan usai menyelesaikan pendidikan kesarjanaan. GE mengundangnya untuk proses wawancara dan tes berisi pengetahuan tentang finansial. Saat itu saya sudah tak bekerja di GE, GE Finance tempat saya bekerja telah dijual ke pemilik baru. Bisnis korporasi GE yang dipimpin Handry Satriago tetap beroperasi, sesuai strategi organisasi global GE.

Latar belakang pendidikan Teknik Sipil membuat putri sulung kurang menguasai bidang finansial, walau terbantu dengan pendidikan S-2nya di bidang manajemen. Namun ia berhasil melalui proses wawancara dengan panel interviewer GE yang cukup ketat.

Ia diterima dalam Financial Management Program (FMP), program yang bertujuan mengembangkan calon pemimpin bidang finansial di organisasi GE. Tentu bangga mendengar kabar putri sulung di terima dalam FMP; program itu bergengsi, diminati banyak kandidat yang tertatik pada bidang corporate finance. Apalagi trainee FMP menjalani rotasi penempatan di cabang-cabang GE di berbagai negara selama program itu.

Saking senangnya, saya mengirim karangan bunga kepada Handry, mengucapkan terima kasih atas penempatan putri sulung dalam program FMP. Tak lama kemudian, saya menerima pesan dari Handry di telepon genggam. Ia mengirim foto karangan bunga dalam vas yang saya kirim, karangan bunga itu diletakkan di meja kerjanya.

Serah Terima Jabatan

Gedung sarasehan di kantor pusat PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) hari Rabu 29 Oktober 2014 penuh diisi tamu undangan. Hari itu diadakan serah terima jabatan (sertijab) Direktur Utama (Dirut) PT KAI, dari Ignasius Jonan kepada Edi Sukmoro. Saya tentu wajib hadir dalam acara itu, mendampingi suami yang diangkat sebagai Dirut PT KAI.

Usai sertijab, seluruh hadirin dipersilakan memberi ucapan selamat berpisah kepada Ignasius Jonan yang meninggalkan jabatan (menjadi Menteri Perhubungan), dan selamat melanjutkan kepemimpinan PT KAI kepada suami saya.

Saya jadi bisa menyalami dan menyapa setiap hadirin. Sosok Handry langsung terlihat di antara hadirin yang antri menyalam. Hanya ia seorang yang menggunakan kursi roda, dibantu naik ke podium.

“Congratulation, you deserve it!” begitu ucapannya saat menyalami suami.

Ia sengaja menunggu hingga mendapat waktu berfoto bersama. Kehadiran Handry berhubungan dengan hubungan bisnis PT KAI dengan GE. Beberapa elemen kereta menggunakan produk GE.

Bertemu Lagi

Saya berkesempatan bertemu lagi dengan Handry dalam kegiatan Bank Mandiri yang diadakan di sebuah resort luar kota Jakarta. Saya menjadi salah satu Asesor yang bertugas meng-assess karyawan Bank Mandiri yang dinominasikan sebagai kandidat Best Employee bank itu. Sementara Handry diundang sebagai Guest Speaker, memberi pembekalan dan motivasi bagi peserta Best Employee.

Kemampuannya berkomunikasi membuat peserta yang hadir menyimak pemaparannya. Saya turut menyimak, duduk di barisan paling belakang di ruang yang lumayan besar. Di sela pemaparannya, tiba-tiba Handry mengatakan, ia senang melihat banyaknya peserta yang hadir, termasuk mantan kolega kerjanya yang duduk di barisan belakang. Ia menunjuk ke arah saya. Saya tak menduga Handry memperhatikan hadirin dengan saksama.

Tentu senang berkesempatan bertemu lagi dengan mantan dosen dan mantan kolega kerja. Langsung saja menyempatkan diri membuat dokumentasi pertemuan dengan Handry saat itu.

Pertemuan di acara Bank Mandiri itu merupakan pertemuan terakhir dengan Handry. Berita kepergiannya tersebar di media elektronik. Handry Satriago meninggal dunia 16 September 2023 di usia 54 tahun.

Saya menulis kenangan tentang Handry Satriago hari ini, 16 September. Tanggal kepergiannya dua tahun lalu. Ia seorang pemimpin bisnis yang aktif dalam dunia pendidikan. May he rests in peace…