Adriani Sukmoro

Virgo

Kenapa orang merayakan hari kelahirannya? Sering kali perayaan ulang tahun menjadi wadah mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan menjalani hidup selama sekian tahun. Apalagi jika orang yang merayakan ulang tahun telah melalui beberapa dekade. Banyak pengalaman yang telah dilalui, suka maupun duka.

Selain alasan di atas, ada juga orang yang merayakan ulang tahun karena menjadi tradisi dalam keluarga. Perayaan ulang tahun kerap menggiring keluarga, kerabat, teman, atau kolega kerja berkumpul, bersama-sama meluangkan waktu untuk merayakan. Perayaan ulang tahun pada umumnya bernuansa positif, menguatkan kedekatan hubungan.

The Virgo Ladies

Untuk suatu keperluan, saya harus membuka album berisi foto-foto masa lampau di suatu sore bulan Juli. Foto-foto masa lampau membangkitkan kenangan akan masa itu.

Sebuah foto yang menampilkan saya dan lima mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sedang meniup lilin kue ulang tahun membuat senyum tersungging di bibir. Jadi teringat, saya dan teman-teman seangkatan yang berbintang Virgo, pernah merayakan ulang tahun bersama-sama puluhan tahun lalu, seperti yang ditunjukkan foto itu. Ruly, Tia, Yanti, Ita, Virgo (namanya persis zodiaknya) dan saya, hadir di rumah Ita, merayakan ulang tahun dikelilingi rekan mahasiswa seangkatan.

Foto itu membangkitkan kenangan lainnya, kebersamaan dengan teman-teman seangkatan, sesama mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Di masa itu semangat menggebu di dada, ingin menyelesaikan kuliah dan menyongsong masa depan.

Buntutnya, timbul pemikiran di kepala: mengapa tak mengulang perayaan ulang tahun bersama tahun ini? Mumpung masih bisa kumpul bersama teman-teman kuliah dulu?

Segera saja saya menghubungi the Virgo ladies, teman kuliah yang berbintang Virgo. Sambutannya positif, saling mendorong: iya, mengapa tak merayakan ulang tahun bersama-sama seperti dulu? Akan menjadi kenangan tersendiri…

The Virgo ladies pun jadi sibuk menggodok persiapan. Diputuskan untuk mengundang semua teman kuliah, makan siang bersama. Di mana tempatnya? Pacific Place menjadi pilihan, lokasinya di tengah Jakarta, jarak tempuh kurang lebih sama bagi teman seangkatan yang berdomisili di berbagai penjuru Jabodetabek.

Makanan nusantara menjadi pilihan, salah satu restoran yang menyajikan makanan nusantara di mal itu dipilih sebagai tempat makan siang bersama.

Diputuskan untuk memilih 24 September sebagai tanggal acara, demi memastikan segenap Virgo ladies telah merayakan ulang tahunnya. Mereka yang bernaung di bawah zodiak Virgo lahir di antara 23 Agustus hingga 22 September. Biar sah, meniup lilin ulang tahun setelah hari kelahirannya, begitu alasan keputusan pemilihan tanggal acara.

Menjelang

Surpise… surprise… Saat mempersiapkan pengaturan pemesanan makanan ke restoran secara lebih awal (pre-order), terungkap fakta yang selama berpuluh tahun tak diketahui. Fiska, anggota angkatan kuliah, ternyata berbintang Virgo juga. Fakta terungkap setelah Fiska mengakui sendiri. Entah kenapa selama ini ia bungkam, mungkin merasa tak perlu mendeklarasikan hari kelahirannya. Virgo ladies pun bertambah, dari 6 orang menjadi 7 orang.

Walau hanya kumpul-kumpul makan siang merayakan ulang tahun bersama teman kuliah seangkatan, mengoordinir kepesertaan itu tak gampang. Demi reservasi tempat dan alokasi anggaran, ada proses pembukaan pendaftaran dan penutupan pendaftaran. Tapi yang namanya pertemanan, ada saja yang mendaftar setelah pendaftaran ditutup.

Another surprise… Dalam jangka waktu 24 jam, peserta yang mendaftar setelah pendaftaran ditutup tadi, mengabarkan bahwa ia tak bisa hadir berhubung sesuatu keperluan. Disusul peserta yang mendaftar lainnya terpaksa mengundurkan diri karena urusan pribadi. Tak masalah, yang penting acara tetap berjalan, panitia melakukan revisi pre-order makanan dan minuman beberapa kali sesuai perubahan-perubahan itu.

24 September

Rabu siang, 24 September, the Virgo ladies kompak mengenakan jeans, blus putih, dan hijab biru, dress code tuan rumah. Tuan rumah berbintang Virgo semua hadir, kecuali Ita yang berdomisili di Amerika Serikat. Mereka sengaja datang lebih awal, siap di restoran menyambut para undangan.

Betul sekali. Semua langsung sibuk melepas rindu, suasana restoran jadi ramai. Hari itu hari kerja, banyak pegawai kantor yang makan siang di mal tersebut. Untung urusan reservasi dan pemesanan makanan ditangani dengan baik, membuat pelayanan restoran berjalan dengan baik.

Surprise masih berlangsung. Seorang teman seangkatan yang tak pernah mendaftarkan kehadiran, tiba-tiba muncul begitu saja, muncul terlambat pula. Sementara seorang lainnya yang mendaftar tapi tak pernah menanggapi pertanyaan tentang pilihan menu, tiba-tiba muncul meramaikan. Restoran itu pun menjadi penuh sesak oleh 41 orang sarjana lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Aging Gracefully

Sepanjang hayat di muka bumi, setiap tahun usia seseorang bertambah. Pertambahan usia di masa anak-anak, remaja, dan dewasa biasanya tak terlalu menjadi bahan pemikiran. Usia produktif, pikiran fokus pada pendidikan, pekerjaan, dan masa depan.

Ketika pendidikan telah selesai, pekerjaan sudah dijalani, perjalanan sudah menapak lebih dari separuh rata-rata usia manusia pada umumnya, seseorang bisa saja mulai merasakan waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, orang itu mulai menghitung angka. Padahal istilah age is just a number mengingatkan, usia hanyalah angka yang menunjukkan berapa tahun seseorang sudah hidup di muka bumi. Hal terpenting dalam perjalanan usia itu justru seberapa banyak kah pengalaman yang telah dikumpulkan?

Eleanor Roosevelt, seorang aktivis dan istri mantan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt, mengatakan, orang muda bisa terlihat cantik berkat kemudaannya, namun orang tua terlihat cantik berkat pengalaman hidupnya. Sementara Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16, mengatakan, yang penting bukan berapa tahun usia seseorang, tapi bagaimana kehidupan orang itu selama tahun-tahun usianya. Baik Eleanor Roosevelt maupun Abraham Lincoln menunjuk pada pentingnya peranan hal-hal yang dilakukan seseorang selama hidupnya, yang menjadikannya aging gracefully.

Beberapa penulis telah menerbitka buku tentang aging gracefully. Buku-buku itu secara umum menyampaikan pesan:

  • Penerimaan terhadap usia lanjut – kerutan di wajah, rambut beruban, langkah yang lebih lambat menjadi penanda kehidupan yang telah dijalani, dan tantangan yang telah teratasi. Penerimaan bukan berarti menyerah, dan bukan menolaknya, tapi memilih untuk fokus pada anugerah di setiap tahap kehidupan, bukan menolaknya.
  • Kekuatan perspektif – prioritas cenderung berubah seiring bertambahnya usia. Hal-hal yang dulu terasa mendesak, bisa saja menjadi tak penting lagi. Tekanan untuk menyenangkan semua orang, meraih tanpa henti, atau membandingkan diri dengan orang lain perlahan memudar. Sebagai gantinya, hadir minat lebih besar terhadap hal-hal yang disukai (seperti hobi), keinginan menghabiskan waktu bersama orang tercinta, menikmati pagi yang tenang, dan menghargai pencapaian yang sifatnya pribadi.
  • Kesehatan adalah kekayaan – sangat penting merawat tubuh dan pikiran demi menjaga kesehatan fisik dan mental. Jika seseorang merasa fit dan selalu fokus pada hal-hal positif, langkah kaki akan ringan dan suasana hati positif.
  • Mensyukuri hidup – perlu menyadari bahwa setiap tahun yang dilalui dengan sehat adalah anugerah. Setiap hari menjadi kesempatan untuk belajar, menghargai apa yang dimiliki, dan menebar kasih kepada keluarga dan sahabat.