Adriani Sukmoro

Di Bawah Tekanan

Sebagian orang suka menonton kompetisi atau kontes yang ditampilkan di layar kaca televisi maupun platform digital. Mulai dari kontes menyanyi, kompetisi adu talenta, kontes kecantikan, kontes model, kompetisi memasak, kompetisi olahraga, dan lain-lain.

Mengapa orang suka menonton perlombaan sedemikian? Unsur hasil yang tak bisa diduga, keingintahuan, keterlibatan emosi pada peserta tertentu dalam kompetisi itu, kekaguman akan talenta dan kemampuan peserta, konflik yang mungkin terjadi saat kompetisi berlangsung, serta bagaimana peserta mengatasi tantangan yang dihadapi dalam kompetisi; biasanya menjadi penyebab orang tertarik menonton kompetisi dalam program televisi. Acara sedemikian masuk dalam kategori reality show.

Hadiah Menarik

Saya gemar menonton Amazing Race, program televisi Amerika yang tayang sejak September 2001. Amazing Race merupakan kompetisi antar tim, biasanya ada 10 tim yang terpilih setelah melalui seleksi di belakang layar. Setiap tim terdiri dari 2 orang, kedua orang itu harus bekerja sama selama kompetisi berlangsung.

Berbagai latar hubungan antar pasangan 2 orang tadi: ayah/ibu dan anak, kolega kerja, abang/kakak dan adik, sepasang kekasih, mantan pacar/pasangan, suami dan istri, teman baik (best friends), paman dan keponakan, dan lain-lain.

Peserta berasal dari berbagai bidang profesi, tak ada kekhususan bidang tertentu: auditor pajak, karyawan, bankir, polisi, pemandu petualangan, penjaga pantai, perawat, dokter, pembawa acara TV, atlet, artis/aktor, penari, musisi, dan lain-lain.

Selama kompetisi berlangsung (biasanya dalam 12 episode), ke-10 tim itu dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut kekuatan stamina fisik. Setiap episode kompetisi berisi tugas yang harus dilalui peserta; seperti mendayung, berenang, lari, senam indah di kolam renang, membawa benda berat dalam jarak tempuh tertentu, mendaki/menuruni bukit, menaiki kerangka komidi putar atau korsel (carousel) taman bermain hingga ke puncak tertinggi, menaiki kaki jembatan yang tinggi, terjun payung, bungee jumping, dan berbagai tantangan berat lainnya.

Tak cukup hanya berhadapan dengan tantangan fisik. Ke-10 tim juga dihadapkan pada tantangan kemampuan melakukan hal-hal praktis namun ternyata tak selalu mudah; seperti menggunakan teropong, menggunakan Kompas, memakan makanan yang rasanya tidak enak (termasuk memakan binatang yang tak biasa dimakan) dan sering dalam jumlah besar, menari tarian setempat (lokasi perlombaan), menyanyi menggunakan bahasa setempat, mengenali bahan makanan berdasarkan rasa atau bau, dan lain-lain.

Ke-10 tim juga dihadapkan pada tantangan yang menuntut kemampuan inteligensi atau daya ingat; seperti memecahkan puzzle, memecahkan kode tertentu, mengartikan tanda yang tertulis dalam bahasa setempat, menyusun gambar atau simbol sesuai urutannya, membeli makanan dengan mata uang asing yang tak umum digunakan, membaca peta dan navigasi, berhitung (mengandung unsur matematika), menetapkan strategi penyelesaian tugas, membuat keputusan saat menghadapi 2 pilihan tugas, strategi pengambilan hukuman penalti karena memilih tak melakukan tugas (berdasarkan kalkulasi beratnya tugas dan lamanya waktu menyelesaikan yang lebih lama dari hukuman penalti).

Tim yang paling cepat menyelesaikan keseluruhan tugas, menjadi juara pada episode tersebut. Satu per satu tim yang paling akhir menyelesaikan tugas per episode tereliminasi, hingga akhirnya tersisa 3 tim yang bertahan memasuki babak final (dalam beberapa lomba Amazing Race diberlakukan 4 tim sebagai finalis).

Semua peserta Amazing Race mengatakan, kompetisi program TV itu cukup berat, melelahkan secara fisik dan mental. Tapi selalu banyak orang yang melamar menjadi kontestan saat audisi program itu dibuka. Mengapa mereka tertarik?

Hadiah besar menunggu pemenang Amazing Race. Amazing Race versi Amerika Serikat menghadiahkan 1.000.000 dollar Amerika!

Kesuksesan program Amazing Race Amerika Serikat membuat program itu muncul di beberapa negara lain, antara lain versi Kanada yang menghadiahkan 250.000 dollar Kanada bagi pemenangnya, versi Australia menghadiahkan 250.000 dollar Australia.

Tampil dalam kompetisi Amazing Race juga merupakan pencapaian bagi kontestannya. Selain bisa tampil di layar TV yang ditonton banyak orang, kontestan bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, biasanya mengambil lokasi di landmark negara itu (sepenuhnya dibayar penyelenggara acara). Kompetisi itu memberi kesempatan bertualang, melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Kontestan dipaksa keluar dari zona nyaman, siap menghadapi tantangan yang tak bisa diduga.

Komunikasi

Dari pengamatan menonton lomba kecepatan menyelesaikan setiap tugas Amazing Race, dinamika hubungan antar pasangan peserta terlihat memainkan peranan penting. Mulai dari komunikasi yang terjalin baik, mengenal kekuatan dan kelemahan pasangan dalam tim, hingga respek terhadap pasangan atas hasil kerjanya, sebaik atau seburuk apapun hasilnya. “Good job!” Komentar sedemikian yang ingin didengar pasangan dalam tim atas hasil jerih payahnya menyelesaikan tugas lomba.

Sepasang tim dokter (laki-laki dan perempuan) ikut dalam salah satu kompetisi Amazing Race Kanada. Kekuatan mereka terletak pada kemampuan intelektual, tak terlalu kuat dalam perlombaan fisik. Setelah beberapa episode, terlihat kelemahan fisik dokter perempuan. Ia mengeluh, menangis, berulang kali menyerah. Dokter laki-laki pasangannya tak memarahi, justru memberi dorongan. Kerja sama sedemikian membuat pasangan dokter itu bisa menyelesaikan tugas, walaupun akhirnya tereliminasi di episode selanjutnya.

Sepasang rekan kerja berprofesi sebagai polisi (laki-laki) menjadi kontestan Amazing Race Australia. Sesama kontestan berpikir, sepasang polisi itu pasti memiliki kemampuan fisik dan kognitif. Tak sembarang orang bisa jadi polisi. Namun, hasil lomba mereka tak menonjol dari episode 1 hingga 6. Sebutan stupid cops muncul karena hasil tak bagus itu. Kedua polisi itu tak saling menyalahkan, mereka menjalani lomba dengan keseriusan. Baru di episode 7 mereka berhasil mencapai finish di urutan ke-3, lalu semakin membaik prestasinya, hingga menjadi juara 1 di episode 10. Di babak semifinal mereka hampir saja kalah, namun beruntung mencapai finish di urutan ke-3, membuat mereka masuk final. Kemampuan mengingat dan stamina akhirnya membawa mereka menjadi juara Amazing Race Australia.

Karakter

Karakter seseorang bisa terlihat saat ia berada dalam tekanan. Penonton bisa melihat berbagai karakter pasangan yang berlomba dalam Amazing Race. Kekhawatiran tereliminasi membuat peserta berperilaku seperti ia apa adanya, lupa ada kamera yang selalu mengikuti, merekam segala perilaku mereka.

Seorang suami terlihat gampang naik emosinya, faktor lelah dan gagal berkali-kali melakukan tugas lomba membuatnya marah. Ia terbantu oleh istri (pasangannya) dalam Amazing Race. Istrinya sosok yang tenang, meredakan kemarahan suami saat ia frustrasi mengerjakan tugas lomba. Biasanya peserta tak bisa konsentrasi jika sedang marah, karena itu penting untuk tetap tenang dan percaya bisa mengatasi tugas lomba.

Seorang peserta merajuk tak mau melakukan tugas lomba karena perselisihan dengan pasangan dalam timnya. Faktor lelah membuat peserta itu menjadi sensitif dan emosional, komunikasi dalam tim menjadi terganggu. Tentu waktu terbuang selama peserta merajuk.

Seorang istri terlihat dominan saat berpasangan dengan suaminya sebagai tim dalam Amazing Race. Sang istri memberi instruksi, menegur suami dengan keras bila salah melakukan tugas, dan tak meminta maaf jika ia melakukan kesalahan. Situasi tegang selalu menyertai mereka saat melakukan tugas lomba.

Selalu ada kontestan yang tak disukai peserta lainnya dalam Amazing Race. Biasanya karena karakter pasangan tersebut. Ambisi memenangkan kompetisi membuat kontestan yang tak disukai itu menggunakan cara yang dianggap licik. Seperti misalnya, sengaja memberi informasi yang salah kepada tim lain, tak menolong tim yang pernah menolong mereka, memengaruhi kontestan lain agar menjatuhkan kontestan tertentu, sengaja mengambil taksi tim lain (demi mengejar waktu), dan lain-lain.

U-Turn dan Aliansi

Detour merupakan salah satu sesi lomba yang harus dikerjakan tim. Sesi Detour meminta tim memilih mengerjakan salah satu dari 2 pilihan tugas yang diinstruksikan. Kadang-kadang peserta diberi kesempatan untuk melakukan U-Turn. Dengan U-Turn, tim yang pertama kali tiba di tempat tanda U-Turn , bisa memaksa tim tertentu melakukan ke-2 tugas Detour tadi. Keputusan tim mana yang dipaksa melakukan ke-2 tugas Detour sepenuhnya tergantung pada keputusan tim yang pertama kali tiba tadi.

Namun, tak semuanya mau memanfaatkan kesempatan U-Turn itu. Sebagian pasangan tim bermain dengan sportivitas, tak menjatuhkan tim lain dengan cara yang bisa merugikan. U-Turn tentu merugikan, tim yang terkena membutuhkan waktu lebih lama karena harus menyelesaikan kedua tugas Detour.

Ada juga tim yang menerapkan strategi menciptakan aliansi dengan tim lain, demi mencapai tujuan yang saling menguntungkan. Aliansi membuat tim-tim tersebut tidak saling menjatuhkan atau merugikan.

Di salah satu lomba Amazing Race, aliansi antar dua tim berjalan dengan baik. Tim yang terlihat kuat dan memenangi beberapa episode lomba, secara sukarela beberapa kali membantu tim yang mereka anggap sebagai kelompok aliansinya. Bantuan itu membuat tim yang dibantu tak terkena eliminasi, melaju hingga ke babak semifinal.

 Namun, hal tak terduga terjadi di saat kontestan memasuki babak semifinal. Setiap tim diminta memilih tim yang harus melakukan 2 tugas Detour. Tim yang paling banyak terpilih, bernasib sial, harus melakukan 2 tugas; sementara tim lainnya hanya melakukan 1 tugas (dan bisa pula memilih di antara 2 opsi tugas tadi).

Kejutan muncul ketika tim yang telah dibantu, yang dianggap sebagai aliansi, justru memilih tim yang telah membantu mereka. Alasannya, pasangan tim itu terlalu kuat, mereka tak ingin tim kuat tersebut masuk final. Mereka berharap, jika pasangan tim yang kuat gagal masuk final, mereka memiliki kesempatan untuk menang. Hadiah besar yang menanti sangat menggiurkan.

Sebagian penonton berpendapat, apa yang dilakukan tim itu bagian dari strategi untuk menang. Kehadiran mereka berlomba, bukan untuk menjalin pertemanan. Sebagian penonton lainnya berpendapat, tim yang telah dibantu itu tidak tahu berterima kasih, malah ‘menusuk dari belakang’. Penonton kecewa tim yang kuat tak masuk final, hanya karena persekongkolan yang terjadi antar tim yang masuk semifinal. Penonton yang kecewa bersyukur, pemenang Amazing Race bukan tim yang dianggap sebagai ‘penghianat’.

Walau hanya menonton tayangan, tak pernah ikut perlombaan apapun yang menuntut kekuatan stamina, saya merasa terbawa dalam petualangan lomba yang dijalani kontestan Amazing Race. Seperti kata pembawa acara itu: “It’s an adventure of a lifetime.”