Adriani Sukmoro

Panggilan

Sebagian besar orang melakukan pekerjaan untuk menyambung hidup. Menjadi pekerja kantoran, pengusaha, dokter, perawat, tentara, desainer grafis, juru masak, wartawan, petani, dan lain-lain. Di antara berbagai bidang profesi atau pekerjaan yang digeluti manusia, beberapa di antaranya dianggap sebagai pekerjaan mengandung unsur sosial. Anggapan sedemikian muncul karena dampak dari pekerjaan itu memberi keuntungan atau kebaikan pada orang lain atau khalayak ramai.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sebuah ungkapan mengatakan, guru adalah sebuah profesi yang menciptakan berbagai profesi lainnya. Ungkapan yang dalam maknanya. Melalui pembelajaran yang diperoleh dari guru, murid yang telah lulus melangkah ke ‘dunia nyata’. Mereka terjun ke berbagai profesi, menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh di bangku sekolah.

Tugas guru dianggap mulia, peran mereka sangat krusial dalam membentuk masa depan generasi muda dan bangsa, serta memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan pengetahuan dan moralitas.

Murid bisa saja memiliki guru favorit, guru yang tinggal dalam ingatannya walau ia sudah lama meninggalkan bangku sekolah. Mungkin ada sesuatu yang dilakukan guru tersebut, yang mempunyai makna bagi sang murid. Seperti Ibu Berta, guru mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) tempat saya menuntut ilmu. Saya tak pernah berkomunikasi khusus dengannya. Beliau memperlakukan murid ‘sama rata’, tak ada murid kesayangan atau murid yang mendapat perhatian khusus dari Ibu Berta.

Namun, suatu hari, pengumuman ditempel di majalah dinding sekolah. Diadakan lomba mengarang bagi siswa SMA. Penilaian atas tulisan yang masuk akan dilakukan beberapa guru, di bawah pimpinan Ibu Berta yang menjadi Ketua Panitia lomba.

Saya tergerak mengikuti lomba mengarang itu, dan keluar menjadi pemenang. Kegiatan itu menjadi pemicu awal kesadaran, tentang talenta menulis yang ada dalam diri. Ibu Berta sebagai guru membuka pintu ke dunia baru bagi murid yang suka menulis. Saya jadi melihat kegiatan menulis sebagai sarana penyeimbang hidup, baik jasmani maupun rohani.

Guru tak hanya mereka yang mengajar di sekolah. Butet Manurung menjadi contoh guru bagi orang pedalaman yang tak memiliki akses pendidikan. Ia seorang antropolog yang berjiwa sosial. Ia mendirikan Sokola Rimba, yang memberi pendidikan bagi masyarakat adat Suku Anak Dalam di Jambi, suku yang hidup di pedalaman (hutan rimba). Pendekatan yang dilakukan Butet Manurung bisa diterima suku tersebut, mereka merasakan budaya sukunya dihargai. Dengan sabar dan tekun Butet Manurung mengajar anak-anak suku itu membaca, menulis, dan keterampilan hidup langsung di hutan.

Menjadi seorang guru itu tidak mudah. Ada tanggung jawab besar yang dipikul, baik secara profesional maupun moral. Guru dituntut tak hanya mampu mengajar, tapi juga mampu membimbing sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Rasa cinta dan dedikasi pada profesi, serta kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan di kelas, akan membuat guru itu dikenang murid-muridnya.

Mereka yang sukses secara profesi maupun kemampuan finansial, pasti pernah duduk di bangku sekolah, menyerap ilmu dari para guru. Sementara guru tetap menjalankan profesi sebagai guru, mengantar murid-muridnya menyongsong masa depan.

Seringkali gaji yang diterima guru tak sebanding dengan beban kerja yang mereka pikul. Karena itu, sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diberikan kepada guru. ‘Panggilan’ menjadi guru membuat seorang guru bertahan menjalankan profesinya.

Mengabdi Pada Sesama

Saya cukup terkesan mendengar cerita seorang Frater, tentang pengalamannya mendengarkan panggilan. Usai menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia diajak teman akrabnya di sekolah melamar ke Sekolah Menengah Seminari (setingkat dengan SMA). Ia lalu mengajak seorang teman lagi untuk turut melamar ke sekolah itu.

Mereka bertiga berangkat ke suatu kota di Jawa Tengah, tempat seleksi Sekolah Menengah Seminari. Ternyata, ia yang hanya menemani teman mengikuti seleksi, justru diterima di Sekolah Menengah Seminari. Kedua teman lainnya tidak diterima.

Ia membiarkan kehidupannya mengalir, mengikuti apa yang terjadi. Berhasil lolos seleksi menuntunnya masuk ke Sekolah Menengah Seminari. Ia menemukan dirinya menikmati pelajaran yang diterima, termasuk pelajaran agama. Secara perlahan imannya dikuatkan, ia menapak jalan kehidupannya dengan arah tujuan yang semakin jelas.

Tak terasa ia menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Seminari. Jalannya dituntun melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi), yang membawanya menjadi seorang Frater. Saat membagi ceritanya, ia telah menjadi Frater, yang sibuk dengan berbagai kegiatan sosial dan rohani. Ia seperti tak punya kehidupan pribadi, waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dibaktikan untuk sesama manusia.

Kegiatan Frater itu melampaui dirinya. Ia tak memusatkan perhatian pada dirinya, justru mengabdikan diri untuk membantu sesama insan manusia. ‘Panggilan’ dalam diri membuat Frater itu menikmati tugasnya dan selalu berada dalam komunitas sosial.