Adriani Sukmoro

Tesla

Manusia bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk berbagai tujuan: demi kebutuhan hidup, pindah domisili demi keamanan, mencari peluang yang lebih baik, atau sekadar berinteraksi dengan orang lain di tempat berbeda.

Di zaman batu (prasejarah), manusia berpindah tempat dengan mengandalkan kaki. Kemudian manusia mulai memanfaatkan hewan (seperti kuda, unta, kerbau) untuk membantu membawa beban dan melakukan perjalanan lebih jauh. Hingga di suatu masa manusia mampu mengembangkan sarana transportasi kendaraan roda empat (mobil).

Kemajuan Teknologi

Tak pernah terbayangkan, kemajuan teknologi membawa perkembangan baru pada kendaraan roda empat: manusia bisa mengendarai mobil yang menyetir sendiri (mobil otonom). Para penumpang cukup duduk manis di dalam mobil, mobil berjalan dikendalikan sistem komputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Perubahan alat transportasi sedemikian benar-benar mencerminkan kemajuan peradaban.

Berdasarkan sumber informasi media elektronik, dinyatakan bahwa ide mobil otonom muncul dalam karya ilmiah John McCarthy tahun 1969. John McCarthy memaparkan konsep mobil yang bergerak atau berjalan sendiri melalui kendali komputer. Mobil akan bernavigasi berdasarkan perintah yang diterima dari keyboard

John McCarthy seorang ilmuwan bidang komputer dan kognitif, sekaligus pengajar di Stanford University. Ia mendapat gelar Profesornya di universitas tersebut. John McCarthy figur terkenal, salah satu penemu artificial intelligence (AI). Ia mendirikan laboratorium AI di Stanford University, fokus pada pengembangan konsep mobil otonom di versi awal penemuannya.

Namun realisasi praktis mobil otonom baru terjadi di tahun 1980-an. Mobil otonom dikembangkan melalui proyek Navlab dan ALV dari Universitas Carnegie Mellon tahun 1984, dimana mobil bisa bernavigasi secara otomatis di jalan raya dengan bantuan komputer dan sensor. 

Dalam perkembangannya, Mercedes-Benz dan Universitas Bundeswehr Munich meluncurkan Proyek Eureka Prometheus tahun 1987, proyek yang mengembangkan mobil otonom dengan teknologi canggih di masa itu. 

Keterbatasan teknologi membuat potensi mobil otonom baru mengalami perkembangan signifikan di era digital, dengan munculnya mobil otonom moderen yang dikembangkan oleh Alphabet Inc, perusahaan induk Google (produk Waymo) dan Tesla Inc (produk Tesla). 

Taksi

Saya tergabung dalam Human Resources Director Forum (HRDF), kelompok pimpinan bidang sumber daya manusia (SDM) yang berasal dari berbagai industri di Tanah Air. HRDF melakukan pertemuan secara berkala, saling meng-update berbagai hal terkini menyangkut SDM.

Di suatu kesempatan, Direktur SDM perusahaan PT Blue Bird Tbk (Bluebird Group) menjadi tuan rumah pertemuan HRDF yang diadakan bulan Oktober 2019. Pertemuan berlangsung di kantor pusat perusahaan itu di area Mampang Prapatan Raya.

Usai rapat, selain diajak melihat mobil pertama yang digunakan Bluebird Group saat memulai usaha bisnis transportasi, peserta rapat juga diajak melihat mobil terkini yang digunakan dalam memberikan jasa pelayanan transportasi.

Mobil terkini apakah itu? Mobil listrik Tesla… Tak main-main, Tesla model X!

Harga Tesla model X baru diperkirakan berkisar antara Rp 3,7 miliar hingga Rp 4,4 miliar, tergantung pada variannya (Long Range atau Plaid). Dikatakan bahwa Bluebird Group memiliki 4 unit Tesla Model X 75D, yang digunakan untuk layanan taksi premium e-Silverbird di bandara Soekarno Hatta. Luar biasa, mobil semahal dan secanggih itu dijadikan sarana transportasi bisnis, demi menyentuh segmen pelanggan khusus yang mengutamakan kenyamanan dan mau membayar lebih mahal.

Langsung saja mobil Tesla yang terpajang di halaman kantor Bluebird Group dikerubuti peserta rapat. Semua ingin berfoto dengan mobil mewah itu. Maklum, tak mungkin membeli mobil semewah itu untuk mobil pribadi.

Berita tentang kecanggihan mobil otonom Tesla di berbagai media membuatnya dikenal luas. Tesla diluncurkan bulan Juli 2003, tapi baru mendapat perhatian publik tahun 2006 setelah peluncuraan tipe Tesla Roadster. Sebelum Tesla Roadster muncul, Tesla dianggap lambat dan tidak praktis. Tesla Roadster mampu melaju lebih cepat, bahkan dianggap sangat cepat untuk mobil listrik. Desainnya cukup menarik, ala mobil sport dengan 2 tempat duduk.

Tesla Roadster memiliki jarak tempuh lebih dari 300 km (untuk sekali isi daya), jauh lebih baik dari mobil listrik lainnya saat itu. Disamping itu, Tesla ramah lingkungan, tidak menghasilkan emisi gas buang saat beroperasi karena menggunakan tenaga listrik.

Pesona Elon Musk, pebisnis yang mengambil alih kepemimpinan perusahaan Tesla tahun 2004, menambah kepopuleran mobil Tesla. Elon Musk dikenal sebagai pebisnis yang inovatif dan memiliki pengaruh, sekaligus tokoh kontroversial.

Dari Seattle ke Portland

Saya mengunjungi negeri Paman Sam bulan Juli 2025. Begitu mendarat di bandar udara internasional Seattle-Tacoma di Seattle, saya dijemput keluarga putri sulung.

Voila! Mobil Tesla model Y berwarna hitam telah menanti, terlihat di depan mata. Ternyata putri sulung dan keluarganya menggunakan mobil Tesla sebagai kendaraan pribadi.

Maka, saya pun menaiki mobil Tesla itu, meninggalkan bandara Seattle-Tacome menuju Portland. Hari itu keluarga putri sulung diundang petani yang menyewa lahan tanah mereka di Portland, guna melihat sang petani memanen hasil pertaniannya.

Jika hanya berfoto dengan latar mobil Tesla saat pertemuan HRDF beberapa tahun lampau, kali ini saya menaiki Tesla, duduk di kursi depan di samping putri sulung yang menyetir mobil. Memang canggih. Mobil bergerak sendiri, bekerja secara otomatis. Membuat supir bisa beristirahat, walau tetap awas mengawasi jalannya kendaraan.

Mengapa harus diawasi? Karena masih ada keterbatasan teknologi mobil Tesla. Seperti misalnya saat mobil sedang melalui sebuah jembatan. Tiba-tiba terjadi gerakan agak melenceng. Putri sulung cepat-cepat mengambil alih setir, mengembalikan mobil ke jalur yang sebenarnya. Ternyata, mobil Tesla itu bingung ketika cahaya di jembatan agak menghalangi Tesla Vision. Tesla Vision itu sistem pengolahan data visual yang ditangkap melalui kamera mobil, memungkinkan mobil memiliki “pemahaman” akan kondisi 360 derajat sekeliling mobil.

Saya jadi bertanya, apakah ada kecelakaan saat mengendarai mobil Tesla yang menyetir sendiri? Ternyata ada. Saya baru tahu, mungkin karena jumlahnya kecil, atau mungkin karena saya yang tak pernah membaca beritanya.

Perjalanan menuju Portland lumayan padat siang itu, rush hour. Jarak tempuh bandara Seattle ke Portland yang biasanya 2.5 jam, menjadi 3 jam lebih. Daya mobil listrik Tesla perlu diisi dalam perjalanan sejauh itu, apalagi keluarga putri sulung sudah mulai menggunakan mobil Tesla itu sejak berangkat dari kediaman mereka di Everett.

Di mana mengisi daya listrik Tesla? Pelayanan pengisian daya mobil Tesla cukup gampang ditemukan, tersebar di beberapa lokasi. Stasiun pengisian dayanya disebut Tesla Supercharger. Supercharger dirancang khusus untuk pengisian daya cepat pada kendaraan Tesla, dikatakan bahwa kecepatan pengisiannya lebih tinggi dibandingkan pengisi daya standar. Beberapa alat pengisian daya terdapat di Tesla Supercharger, beberapa mobil Tesla dapat sekaligus mengisi daya di situ.

Namun putri sulung dan suaminya selektif memilih lokasi Tesla Supercharger. Mereka memperhatikan review pengguna Tesla Supercharger di beberapa lokasi yang dilewati dalam perjalanan; menghindari lokasi yang diberi komentar “lambat mengisi”, hanya memilih lokasi dengan komentar positif “cepat mengisi daya”.

Pengisian daya memakan waktu beberapa menit. Saya dan keluarga putri sulung tentu mencari kegiatan saat Tesla mengisi daya. Tak perlu pusing. Lokasi Tesla Supercharger biasanya dekat swalayan dan restoran. Bisa membeli camilan dan minuman, atau makan siang, saat menunggu daya listrik Tesla terisi. Bahkan putri sulung mengikuti zoom meeting di dalam mobil saat mobil Teslanya sedang mengisi daya.

Laris

Menurut data media elektronik, sebanyak 1.8 juta mobil Tesla terjual tahun 2023. Jumlah penjualan yang sama diraih tahun 2024. Namun, data penjualan semester satu 2025 menunjukkan penjualan Tesla yang menurun. Menurut beberapa analisis, penurunan angka penjualan itu berkaitan dengan fokus perusahaan yang terlalu menekankan pada kemampuan ‘mengemudi otonom’ (autonomous driving), daripada mengembangkan model mobil Tesla.

Analsis itu mungkin ada betulnya. Saat saya transit di Taipei dalam perjalanan pulang dari negeri Paman Sam ke Jakarta, saya mendengar percakapan dua orang pria berbahasa Indonesia. Pembicaraan seputar model mobil. Keduanya akur mengatakan, tak tertarik dengan Tesla, mobil itu dianggap tak memiliki selera. Mungkin maksudnya modelnya kaku, kurang menarik.

Menurut berita terkini, Tesla yang bisa mengemudi secara otonom penuh (full self-driving) sedang di uji coba di India (Delhi dan Mumbai), serta di Jepang. Bagaimana dengan Indonesia? Saya belum pernah melihat mobil Tesla di jalan raya di Tanah Air. Mungkin Tesla kurang terjangkau (harganya sangat mahal), infrastruktur pengisian daya mungkin kurang memadai, pilihan model mungkin kurang sesuai dengan selera pasar negeri ini. Selain itu belum ada dealer resmi dan jaringan servis resmi Tesla di Tanah Air, yang mungkin menimbulkan persepsi konsumen tentang kesulitan perawatan jangka panjang mobil Tesla.

Satu hal lagi yang bisa menjadi tantangan pemasaran Tesla di Tanah Air. Mereka yang mapan secara finansial, mampu membayar supir pribadi. Mereka mungkin lebih memilih disetir supir pribadi daripada disetir mobil otonom. Supir pribadi bisa melakukan hal-hal ekstra selain menyetir mobil.

Dulu, mengemudi membutuhkan keterampilan dan konsentrasi penuh dari manusia. Kini, dengan bantuan sensor, kamera, dan kecerdasan buatan, mobil bisa berjalan, berpindah jalur, berhenti, bahkan menghindari rintangan tanpa bantuan pengemudi.

Perubahan ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga memberi dampak positif. Mobil listrik seperti Tesla ramah lingkungan (green energy). Walau perlu mengisi daya di tengah jalan untuk perjalanan jarak jauh, mobil listrik memberi kemudahan bagi orang yang mengemudi.

Entah perubahan apa lagi yang akan terjadi di masa depan. Manusia akan selalu mencari cara mendapatkan kemudahan. Dari mengandalkan kaki di zaman batu, hingga mobil yang berjalan sendiri dikendalikan mesin pintar, merupakan cerminan hasil rasa ingin tahu dan inovasi tiada henti. Kemajuan teknologi akan membuat perjalanan perubahan terus berlangsung, belum berakhir.