
Hari ini Jakarta dilanda hujan lebat. Beberapa area di Jakarta Utara, termasuk tol bandara, digenangi air. Banjir… banjir… begitu seruan dalam video yang menggambarkan genangan air yang lumayan tinggi.
Jadi teringat, beberapa tahun lalu Jakarta juga dilanda hujan lebat, terjadi kemacetan merata di ibukota. Teman dan kolega di berbagai WhatsApp Group (WAG) mengeluh, terjebak kemacetan lalu lintas akibat dampak jalanan yang digenangi air. Seorang di antaranya mengeluh karena harus mendengarkan pengemudi taksi yang ditumpanginya terus berceloteh selama terperangkap dalam kemacetan.
Pengamat Politik
Saya mengerti situasi tidak nyaman yang dialami kolega di atas. Pengalaman sama terjadi ketika saya menaiki taksi dari bandara Soekarno Hatta menuju rumah di Selatan ibukota. Jam macet (rush hour) membuat perjalanan pulang ke rumah ditempuh sekitar 1.5 jam lamanya.
Setelah keluar kompleks bandara, pengemudi taksi mengajak ngobrol, langsung mengangkat topik politik. Membahas berbagai permasalahan politik, pejabat pemerintah, dan lembaga pemerintah. Semula saya mendengarkan. Namun, setelah dua puluh menit berlalu, saya mulai merasa tak nyaman. Supir taksi melontarkan kritik dan keluhan. Bukan saya tak setuju kritik terhadap penguasa, tapi lebih kepada ketidaktertarikan pada masalah politik. Apalagi sang pengemudi terlalu bersemangat menyuarakan opini politiknya, terkesan “memaki” subyek yang dibicarakan.
Pengemudi taksi itu mungkin melek politik, seorang pemerhati politik yang suka mengikuti berita politik. Di masa kini, berita politik bisa diakses dengan gampang, baik berita yang bisa dipertanggungjawabkan maupun berita yang sekadar menyalin dari sana sini. Sepertinya pengemudi taksi itu menghabiskan banyak waktu luangnya mengikuti berita politik, sehingga terdengar seolah ia terlibat dalam berbagai situasi politik yang diceritakannya.
Mengisi waktu ngobrol dengan penumpang taksi bisa menghilangkan kejenuhan akan perjalanan atau pekerjaan yang dilakukan. Namun, pengemudi taksi itu lupa, penting untuk mendahulukan kenyamanan penumpang. Jika penumpang terlihat tak bereaksi atas pembicaraan yang dilakukan, supir bisa mengganti topik, atau membiarkan penumpang menikmati waktunya sendiri.
Rem Mendadak
Seorang kolega di perusahaan asing tempat saya bekerja tahun 2000an mengalami kecelakaan. Ia menjabat sebagai Direktur Human Resources (HR) di cabang perusahaan asing itu di India. Kakinya cedera, terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit. Ia tak bisa bekerja selama beberapa bulan selama pemulihan kakinya.
Direktur HR cabang Malaysia yang masih bujangan ditugaskan perusahaan sebagai pejabat sementara posisi kolega itu di India. Beliau pun terbang ke India guna menjalankan tugas sementara di New Delhi. Saya beruntung, ditunjuk menjadi pejabat sementara posisi Direktur HR cabang Malaysia, sembari tetap memegang posisi saya saat itu (Direktur HR cabang Indonesia). Pengalaman pertama bertugas di luar negeri sendiri.
Saya pun mondar mandir Jakarta – Kuala Lumpur – Jakarta selama beberapa bulan penugasan; setiap minggu menghabiskan 3 hari di Kuala Lumpur dan 4 hari di Jakarta.
Hotel tempat menginap di Kuala Lumpur sengaja dipilih yang paling dekat dengan kantor. Taksi hotel tempat menginap itu menjadi langganan. Saya selalu dijemput taksi hotel di Kuala Lumpur International Airport, begitu pula saat menuju bandara menuju kepulangan ke Jakarta.
Seperti biasa, di suatu hari Minggu sore saya terbang ke Kuala Lumpur. Saya dijemput taksi hotel di Kuala Lumpur International Airport. Taksi disetiri supir keturunan India. Supir yang ramah, bercerita tentang bagaimana leluhurnya memutuskan pindah dari negara asal ke Malaysia. Lalu saya menyempatkan waktu menghubungi anak buah di Jakarta melalui telepon genggam, memberi pengarahan tentang hal tertentu yang harus dilakukan sebelum tenggat waktu.
Jalanan tidak macet di Minggu sore itu; taksi melaju kencang di jalan tol. Saya menikmati pemandangan dari jendela mobil usai berbicara dengan anak buah. Tiba-tiba sebuah mobil dari jalur berbeda memotong dengan tajam. Supir taksi terpaksa menekan rem secara mendadak, terdengar sumpah serapahnya terhadap mobil yang kurang beretika lalu lintas tadi. Rem mendadak membuat saya terdorong ke depan kursi, sementara tas sandang yang tadi diletakkan di kursi terjatuh ke lantai mobil.
“Are you okay?” tanya supir kepada saya sambil menolehkan kepala ke kursi penumpang.
“I’m fine,” jawab saya sambil memungut tas dan meletakkannya kembali di kursi.
Saya melihat supir mengarahkan pandangan ke lantai kursi. Saya tak berpikir apa pun saat itu.
Proses hotel check-in segera saya jalani saat tiba di hotel. Sambil menunggu administrasi dilakukan petugas hotel, saya meraih telepon genggam dari saku tas sandang. Telepon genggam tak ada. Saya cari lagi, tetap tak ada. Saya cari di dalam tas, tak ada juga. Saya menjadi bingung. Telepon genggam itu saya taruh di saku tas sandang usai berbicara dengan anak buah di dalam taksi. Memang selalu disimpan di saku tas saat saya memakai tas itu.
Tiba-tiba saya sadar. Tadi supir melakukan rem mendadak. Tas saya terjatuh ke lantai mobil. Telepon genggam itu kemungkinan besar lepas dari saku tas, dan tergeletak di lantai mobil. Saya segera berlari ke luar lobby hotel, mencari taksi yang mengantar tadi. Karena tak melihatnya di parkir sekitar lobby, saya melapor ke front desk hotel. Mereka memanggil supir bersama taksinya ke lobby.
“There is nothing left in the car, madam,” kata supir itu.
Ia membuka pintu mobil, menyilakan saya memeriksa tempat duduk dan lantai mobil. Tak ada telepon genggam saya di sana. Namun, insting mengatakan, telah hilang beberapa menit setelah saya meninggalkan taksi, masuk ke dalam hotel. Saya yakin supir itu telah mengambil telepon genggam saya. Apalagi ia melihat ke lantai mobil selama beberapa saat ketika bertanya apakah saya baik-baik saja setelah insiden rem mendadak. Di saat itu supir pasti sudah melihat, telepon genggam saya terjatuh di lantai mobil.
Supir itu memiliki dua pilihan: mengambil telepon genggam dan menyerahkan kepada saya, atau justru mengambil telepon genggam untuk kepentingan dirinya. Ia memilih yang kedua. Seperti pepatah yang mengatakan, opportunity makes a thief. Kesempatan bisa membuat seseorang menjadi pencuri atau penjahat.
Manipulasi Pajak
Malas menyetir sendiri membuat saya memutuskan naik taksi di suatu sore, walau jarak tujuan sebenarnya dekat. Pengemudi taksi menyapa dengan ramah. Saya pun mengajaknya ngobrol.
Lumayan tersentuh saat mendengar ia sarjana ekonomi dan mantan karyawan kantor. Langsung timbul pertanyaan dalam pikiran, bagaimana kisahnya hingga ia mencari nafkah sebagai pengemudi taksi?
Perusahaan tempatnya bekerja pun kelas menengah. Ia memulai karier sebagai staf biasa hingga meningkat menjadi Supervisor di bagian keuangan. Kemajuan teknologi membuat perusahaan itu memanfaatkan automasi. Akibatnya beberapa karyawan terdampak (termasuk supir tadi), pekerjaan mereka diambil alih teknologi. Perusahaan memutuskan melepas karyawan terdampak, sang supir pun terpaksa mencari pekerjaan lain.
Tak sempat menganggur, ia mendapat pekerjaan di suatu perusahaan distributor. Ia ditunjuk menjadi Kepala Bagian Keuangan. Jabatan yang menjanjikan, lebih tinggi dari posisi sebelumnya. Namun, setelah menjalani pekerjaan beberapa waktu lamanya, ia merasa tak nyaman. Perusahaan meminta ia memanipulasi laporan pajak, guna mengurangi beban pajak yang harus ditanggung perusahaan.
Hati nuraninya berontak. Ia tahu tugas yang diperintahkan melanggar hukum. Kejujuran menjadi salah satu prinsip hidupnya. Ia tak mau melakukan manipulasi. Akibatnya, ia diminta meninggalkan perusahaan.
Ia menganggur selama dua bulan. Pikirannya kalut. Ada istri dan anak yang ditanggung. Apalagi anak sudah bersekolah. Ia tak bisa diam, harus mendapatkan pekerjaan, menafkahi keluarga. Jangan sampai anak-anaknya berhenti sekolah karena ia tak mampu membiayai pendidikan mereka.
Peluang yang ada di depan mata hanya kesempatan menjadi pengemudi taksi di suatu perusahaan penyedia transportasi. Ia melamar, menjalani tes dan wawancara. Tanpa berpikir panjang, ia segera menerima tawaran menjadi pengemudi taksi perusahaan itu ketika dinyatakan lulus.
Kini sudah 2 tahun ia bekerja sebagai pengemudi taksi. Bukan menyesali nasib, ia malah bersyukur masih ada pekerjaan untuknya. Apalagi anaknya mendapat beasiswa pendidikan dari perusahaan. Anaknya terpilih berkat prestasi akademiknya di sekolah.
Kini ia menyimpan keinginan untuk bisa terpilih dalam program umroh. Perusahaan transportasi itu menyediakan program umroh sebagai bentuk apresiasi bagi karyawan dan pengemudi terbaik atau yang berprestasi; fasilitas kesejahteraan karyawan.
Saya sangat terkesan akan pengalaman hidup sang pengemudi taksi. Saat tiba di tujuan, argometer taksi menunjukkan tarif hanya sebesar Rp 40.000 karena tujuan perjalanan yang dekat. Tapi hati terketuk untuk memberi lebih, menghargai usaha perjuangannya untuk tetap bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Saya menyerahkan uang Rp 100.000; membuatnya terkejut dan berulang kali berterima kasih. Hari itu cuaca cerah, secerah hati berbagi rezeki dengan pengemudi taksi.