Adriani Sukmoro

Taiwan

Drama seri Meteor Garden ‘meledak’ sejak ditayangkan di layar kaca televisi. Tak hanya di Taiwan, negara asal drama seri itu diproduksi, kepopuleran Meteor Garden merambah ke berbagai penjuru Asia, bahkan meluas ke benua lainnya. Jerry Yan, Barbie Hsu, Vanness Wu, Vic Chou, dan Ken Chu; para pemain utama Meteor Garden, menjadi duta negara Taiwan selama beberapa waktu lamanya, diundang sebagai tamu ke negara-negara lain.

Kepopuleran Meteor Garden mengangkat nama Taiwan. Banyak pelancong yang datang ke negara itu, ingin melihat bagaimana negeri geng F4, geng 4 mahasiswa tokoh utama Meteor Garden yang berasal dari keluarga kaya. Saya dan putri bungsu termasuk di antara pelancong yang ingin melihat Taiwan dari dekat. Taiwan dipilih sebagai destinasi liburan di suatu kesempatan.

Tuts Piano

Teresa Teng penyanyi Taiwan yang dikenal di seantero Asia pada masa jayanya. Lagu-lagunya berbahasa Mandarin, menjadi hit di antara penggemar keturunan Cina. Lagu-lagunya tetap disukai hingga kini, beberapa kali saya mendengar lagu The Moon Represents My Heart dinyanyikan penyanyi muda di tempat-tempat hiburan. Lagu itu dinyanyikan Teresa Teng di salah satu albumnya.

Saya mengenal nama Teresa Teng berkat lagu Good Bye My Love yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang. Pada awalnya saya berpikir Teresa Teng penyanyi Jepang yang berhasil menembus tangga lagu berskala dunia. Lagu-lagunya yang terkenal di banyak negara Asia membuat beberapa lagunya dinyanyikan dalam bahasa negara tertentu.

Taiwan Tour yang saya dan putri bungsu ikuti membawa peserta ke Gunung Jinbao. Udara Taiwan bersih, tidak panas dan tidak dingin saat itu. Perjalanan ke Gunung Jinbao itu untuk mengunjungi Chin Pao San, area pemakaman pribadi. Mengapa bersusah payah mengunjungi tempat pemakaman di Taipei? Ternyata tujuan kunjungan ke sana untuk melihat makam Teresa Teng.

Saya baru menyadari saat itu, Teresa Teng penyanyi Taiwan, bukan penyanyi Jepang. Tempat pemakaman penyanyi terkenal itu dinamakan Yun Garden, sesuai nama aslinya: Teng Li-yun.

Terlihat taman yang tertata indah di area pemakaman. Pemandangan sekeliling menarik, bisa melihat Museum Ju Ming dan Laut Cina di kejauhan. Patung keemasan Teresa Teng berdiri di taman itu, menunjukkan kegemarannya menyanyi. Pagar putih pendek dengan gambar not balok memperindah pemandangan taman.

Walau masa kepopuleran Teresa Teng di tahun 1970an hingga 1980an, saya melihat banyak buket bunga diletakkan di makam penyanyi itu. Foto dirinya juga terpampang di makamnya. Lagu-lagunya terdengar diputar di makam itu, membuat mereka yang berziarah ke sana bisa mendengarkan suaranya yang bagus dan lagu yang dipopulerkannya.

Tak jauh dari makamnya terdapat piano elektronik raksasa dengan desain berteknologi tinggi. Pengunjung dapat memainkan piano elektronik itu dengan menginjak balok-balok piano, seolah sedang memainkan tuts piano dengan kaki. Saya dan putri sulung sempat menguji piano, dan betul, keluar nada-nada sesuai dengan injakan kaki di atas piano itu. Piano yang sengaja dibangun di seputar makam Teresa Teng menjadi sarana peringatan yang unik untuk penyanyi tersebut, saya belum pernah melihat hal semacam itu sebelumnya.

Teresa Teng meninggal di usia muda, 42 tahun. Ia sedang berlibur di Chiang Mai, Thailand, saat penyakit asma akut yang kambuh merenggut nyawanya.

Lentera

Cuaca agak panas ketika rombongan tur dibawa ke Shifen Old Street yang terletak di distrik Pingxi. Suasana ramai terlihat di jalan tua Shifen, banyak turis yang berdiri di atas jalur rel kereta api sambil sibuk menulis di kertas lentera.

Toko-toko yang menjual lentera dan cendera mata berdiri di sekitar rel kereta api itu. Peserta tur dipersilakan memilih lentera sesuai warna yang disukai. Banyak peserta tur (yang kesemuanya warga Tanah Air keturunan Cina) memilih warna merah, warna yang dianggap melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, kesejahteraan. Perayaan-perayaan seperti perkawinan keturunan Cina dan Tahun Baru Cina pasti diselimuti warna merah di sana sini.

Saya dan putri bungsu memilih warna putih, agar gampang menulis harapan-harapan baik di lentera itu. Usai menulis harapan di kertas lentera, lentera dihidupkan, lalu dilepas ke udara. Lentera itu  terbuat dari kertas yang tipis, ringan, dan tahan api; dilengkapi bahan bakar yang dipanaskan. Daya apung yang timbul membuat membuat lentera naik ke udara, terbang tinggi. Kondisi Shifen Old Street yang luas dan terbuka memungkinkan lentera yang diterbangkan para turis tak saling bersinggungan, bisa terbang bebas di udara.

Karena kepanasan, saya agak kurang menikmati kegiatan pelepasan lentera. Padahal ada alasan mengapa melepas lentera itu menjadi atraksi turisme. Tradisi melepas lentera dimulai sejak abad 19, di masa pemerintahan Dinasti Qing. Di masa itu kelompok bandit bisa datang ke rumah rakyat dan merampok harta benda. Penduduk desa biasanya lari menyelamatkan diri ke gunung saat bandit datang. Setelah bandit pergi dan situasi dianggap sudah tidak berbahaya, lentera akan diterbangkan ke udara, menjadi tanda bagi mereka yang bersembunyi di gunung bahwa situasi sudah aman untuk pulang ke rumah.

Seiring perjalanan waktu, kebiasaan menerbangkan lentera itu kemudian berkembang menjadi Lantern Festival, hal-hal baik didoakan selama festival lentera.

Air Terjun

Usai meramaikan pelepasan lentara ke udara, peserta tur dibawa ke Air Terjun Shifen yang letaknya tidak jauh dari Shifen Old Street. Setelah berpanas-panas di rel kereta api, pemandangan air terjun itu cukup menarik perhatian.

Air Terjun Shifen merupakan air terjun terluas dan terbesar di Taiwan (berdasarkan volume air), paling banyak dikunjungi di negara itu. Penduduk setempat menamakan Air Terjun Shifen sebagai Little Niagara; bentuknya dianggap menyerupai Air Terjun Niagara di Amerika Serikat. Saya sudah pernah melihat Air Terjun Niagara yang jauh lebih besar dan luas, ketinggian jatuhnya air pun jauh lebih dahsyat. Saya kurang bisa melihat kemiripan antara Air Terjun Shifen dan Air Terjun Niagara.

Pengunjung bisa menaiki jembatan gantung untuk turun ke bawah untuk melihat air terjun lebih dekat. Atau sekadar berjalan-jalan di sekitar jalur hiking yang ada di kawasan itu.

Alishan

Kunjungan ke Alishan melekat di kepala. Alishan berada di pegunungan, suasana dan pemandangannya memberi nuansa berbeda, tinggal di dalam ingatan. Apalagi Alishan merupakan tempat penduduk asli Taiwan, ada 12 desa yang didiami penduduk di sana.

Peserta tour dibawa menghirup udara segar di hutan alam terbuka Alishan National Forest Recreational Area. Pohon-pohon tinggi dan kokoh mengisi hutan itu, saya melihat beberapa pohon cemara raksasa saking tinggi dan lebar batangnya. Beberapa tanaman bunga dan pakis tumbuh di pohon cemara raksasa itu.

Pemandangan serba hijau di Alishan National Forest Recreational Area terpadu dengan keindahan alam sepanjang bentang lahannya (landscape). Terlihat batu-batu kokoh berwarna coklat di area itu. Ada platform yang dibangun khusus bagi pengunjung hutan itu untuk menikmati matahari terbit atau matahari terbenam. Mungkin karena keterbatasan waktu dan biaya, paket tour yang saya ikuti tak memasukkan agenda kegiatan itu. Padahal awan berwarna-warni dan bintang-bintang di langit bisa terlihat dari platform itu saat matahari terbenam. Pengunjung juga bisa melihat Sungai Chenyoulan, puncak gunung tertinggi Yushan, dan beberapa titik pemandangan lainnya dari platform tersebut.

Peserta tour kemudian dibawa ke stasiun kereta Alishan Forest Railway. Saya segera tertarik saat melihat kereta tua kayu (keseluruhan badan kereta terbuat dari kayu), yang akan membawa saya dan peserta tour lainnya berkeliling di Alishan. Pengalaman unik, baru kali itu saya menaiki kereta tua kayu, tanpa AC, jendela terbuka menangkap angin dari udara luar pegunungan yang segar dan bersih. Tempat duduknya pun dari kayu, tak dilapis bantalan empuk.

Jalur kereta api hutan Alishan telah ada sejak zaman Jepang dan memiliki jaringan rel kereta api sempit sepanjang 86 km. Dulu dibangun dan digunakan untuk mengangkut kayu; sekarang menjadi daya tarik pariwisata populer. Cukup puas menikmati pemandangan sepanjang jalur kereta api hutan itu. Hanya sayang perjalanan dilakukan di musim panas. Tak bisa melihat bunga sakura yang katanya bermekaran sepanjang jalur kereta di musim semi.

Perjalanan dengan kereta tua itu aman dan selamat, tak ada aral melintang. Setelah meninggalkan Taiwan, saya baru tahu ada turis yang meninggal akibat kecelakaan kereta Alishan Forest Railway. Kereta tergelincir (keluar dari jalur rel) dan memakan korban. Kejadian itu terjadi beberapa kali di tahun yang berbeda. Alishan Forest Railway juga pernah ditutup akibat tanah longsor tahun 2009, dan akibat badai tahun 2015.

Sebelum meninggalkan Alishan, peserta tour dibawa ke Yuyupas, pusat budaya di pegunungan Alishan, untuk menonton pertunjukan tarian dan musik tradisional. Sekolompok gadis muda menari dengan gerakan kaki lincah. Setelah menari beberapa waktu lamanya, mereka mengajak penonton untuk mencoba menari bersama mereka. Putri bungsu saya langsung turun dari bangku penonton dan bergabung bersama penari. Ia cepat menghapal gerakan langkah, bisa menari lincah bersama para gadis Alishan. Tarian perang suku Tsou juga ditampilkan dalam pertunjukan itu.

Perkebunan teh menjadi mata pencaharian utama penduduk Alishan. Alishan dikelilingi kebun teh yang tumbuh subur. Tanah dan hawa pegunungan Alishan cocok untuk menghasilkan teh oolong. Beberapa peserta tour membeli teh oolong yang diproduksi di Alishan.

Oleh-oleh apa yang paling banyak diborong peserta tour? Kue nanas atau nastar. Saya baru tahu saat mengunjungi Taiwan, bahwa nanas banyak dihasilkan di Taiwan. Nanas tumbuh di hampir semua daerah negara itu. Kue nanas Taiwan itu kaya dengan isi nanas, tidak pelit seperti banyak nastar produksi Tanah Air. Maklum nanas berlimpah di Taiwan.

Peserta tour dibawa ke beberapa museum dan balai peringatan (memorial hall). Salah satunya Chiang Kai-shek Memorial Hall yang dibangun di tanah luas, sekitar 25 hektar. Chiang Kai-shek memiliki beberapa istri dan selir selama hidupnya. Namun saya hanya melihat gambar besar istri ke-3nya, Soong Mei-Ling, di Memorial Hall itu. Entah terlewatkan, atau memang tak ada gambar istri lain dan selirnya.

Saya dan putri bungsu iseng menghitung tangga saat turun dari Chiang Kai-shek Memorial Hall. Ada 89 anak tangga, menandakan usia Chiang Kai-shek saat meninggal dunia.