Adriani Sukmoro

Spanish Point

Samudra Atlantik Utara terletak di antara benua Amerika Utara (di bagian Baratnya) dan Eropa serta Afrika (di bagian Timurnya). Samudra itu memainkan peran penting dalam perdagangan, kolonisasi, dan pertukaran budaya selama berabad-abad di masa lampau. Pantai-pantai yang dilalui Samudra Atlantik Utara menciptakan pemandangan indah.

Blue Flag Status

Saat saya dan putri sulung berlibur di Irlandia, Spanish Point menjadi salah satu tempat yang dikunjungi. Awalnya saya kurang memperhatikan mengapa tempat itu masuk dalam itinerary yang ditawarkan agen perjalanan. Baru mengerti setelah kaki menginjak Spanish Point, mata pengunjungnya dihadapkan pada pemandangan pantai yang menawan.

Spanish Point bukan kota, lebih pantas disebut desa turisme; berada di provinsi Clare (County Clare), Irlandia. Spanish Point memiliki pesisir pantai sepanjang 2.5 kilometer. Pantainya yang bersih mendapat Blue Flag Status dari Foundation for Environmental Education (FEE). Status itu diberikan berkat kualitas air pantai yang bersih, manajemen lingkungan pantai, keamanan, dan pelayanan di Spanish Point. Blue Flag Status itu membuat banyak turis lokal dan asing yang sengaja datang untuk berenang atau surfing di sana.

Hotel Armada

Agen perjalanan menempatkan saya dan putri sulung serta peserta tur lainnya menginap di Hotel Armada. Wooow… kejutan manis! Hotel itu menawarkan kenyamanan. Mulai dari welcome drink berupa prosecco yang enak sekali rasanya. Prosecco itu anggur bersoda dengan rasa buah yang ringan, beraroma bunga, dan gelembungnya meriah. Saking enaknya, tanpa malu-malu saya meminta izin menambah segelas prosecco lagi.

Saat memasuki kamar hotel, langsung merasa nyaman melihat ruang kamar yang lumayan besar. Ada sofa panjang dan meja kecil lengkap dengan sepasang kursi, bisa digunakan untuk leyeh-leyeh sambil membaca buku-buku yang disediakan. Di sudut kamar tersedia meja tulis dan kursi yang nyaman untuk menulis atau mengetik komputer. Sebagai seorang yang rutin menulis, langsung saja saya kesengsem dengan kamar hotel itu. Ingin rasanya tinggal seminggu di Hotel Armada, pasti tergali berbagai ide menulis dengan suasana kamar seperti itu, dilengkapi dengan pemandangan sekeliling hotel.

Tak berlama-lama di dalam kamar, saya dan putri sulung langsung menuju Cocktail Lab yang berada di lantai dasar hotel. Terlihat banyak botol minuman beralkohol dan gelas-gelas yang terpajang di Cocktail Lab. Lab itu digunakan sebagai tempat pegawai lab bereksperimen membuat campuran cocktail buatan sendiri. Tamu hotel diberi voucher untuk mencoba minuman hasil racikan Cocktail Lab. Hmmm… rasanya enak. Apalagi saya dan putri sulung menikmati minuman itu sambil duduk di sofa sisi luar Cocktail Lab yang menyuguhkan pemandangan pantai. Letak Hotel Armada yang berada di tanah tinggi, memungkinkan pemandangan pantai luas terlihat dari kaca Cocktail Lab. Pemandangannya spektakuler, indah sekali.

Saya tak berani meminta tambahan minuman usai menghabiskan segelas minuman racikan yang enak tadi. Maklum, harus bayar untuk minuman tambahan. Sekaligus khawatir menjadi tipsy, merasa limbung akibat efek alkohol.

Armada Spanyol

Puas menikmati pemandangan dari area Cocktail Lab, saya dan putri sulung segera keluar dari hotel, tak mau melewatkan kesempatan menelusuri pantai Spanish Point yang bersih dan indah.

Saat menapaki jalan, di satu titik saya menemukan plakat terbuat dari batu. Ternyata plakat itu dibangun untuk menghormati Raja Juan Carlos dan Ratu Sophia dari Kerajaan Spanyol yang mengunjungi Spanish Point tanggal 2 Juli 1986. Waaah… saya dan putri sulung berkunjung ke Spanish Point tepat di tanggal sama: 2 Juli 2025. Raja dan Ratu Spanyol berada di Spanish Point 29 tahun sebelum kunjungan saya ke sana!

Mengapa Raja dan Ratu Spanyol menyempatkan diri mengunjungi Spanish Point?

Kunjungan itu erat kaitannya dengan sejarah masa lampau. Menurut catatan yang tertera di batu plakat tadi, armada Spanyol dikerahkan Raja Philip II yang mengepalai Kerajaan Spanyol tahun 1556-1598, untuk menyerang Inggris dan menjatuhkan Ratu Elizabeth I. Sebanyak 130 kapal armada Spanyol diberangkatkan dari Lisbon, Portugal untuk misi itu pada bulan Mei 1588. Armada Spanyol tersebut dilengkapi sekitar 8.000 pelaut, 18.000 prajurit, dan 40 kapal perang.

Nasib malang menimpa kapal armada Spanyol, cuaca buruk dan badai laut memporak-porandakan rencana invasi. Kapal-kapal hancur akibat hantaman badai laut. Para serdadu Spanyol berusaha menyelamatkan diri dari kapal yang siap tenggelam, sebagian di antaranya berhasil menyelamatkan diri, berenang ke pantai desa Spanish Point. Namun, nasib malang tetap saja menimpa mereka. Para serdadu Spanyol yang berhasil mencapai pantai ditangkap, peguasa desa memutuskan untuk membunuh kesemuanya.

Jasad serdadu Spanyol yang dibunuh itu dikuburkan secara massal di area desa yang dinamakan Tuama Na Spáinneach (Tomb of the Spaniards), makam orang Spanyol. Selama beratus tahun tak ada yang tahu di mana makam tersebut. Baru di tahun 2015 sekelompok ahli sejarah menemukannya saat sedang melakukan penelitian di area itu.

Tak heran desa itu dinamakan Spanish Point, berkaitan dengan sejarah yang terjadi di sana. Saya berasumsi, kunjungan Raja Juan Carlos dan Ratu Sophia ke Spanish Point merupakan simbol penghormatan terhadap para prajurit Spanyol yang tewas di masa perang di tanah Irlandia itu.

Angin sepoi-sepoi menyertai saat saya dan putri sulung jalan-jalan di pantai. Sengaja menyentuh air laut, merasakan kedinginannya. Walau dingin, banyak orang dewasa dan anak-anak yang berenang di laut itu. Penuh kenangan bagi saya, menyentuh dan main air Samudra Atlantik Utara…

Steamed Clam

Menginap di tepi pantai membuat saya dan putri sulung memilih menu seafood saat makan malam. Menu ikan dan steamed clam menjadi pilihan. Saya dan putri sulung langsung terperangah saat makanan datang dan dihidangkan pelayan restoran di meja. Steamed clam dihidangkan dalam pot bundar, dengan ukuran lumayan besar. Saya pikir tak akan sanggup menghabiskan steamed clam dengan porsi sebesar itu. Ternyata, rasa enaknya membuat saya dan putri sulung gesit menghabiskannya.

Banyak turis kulit putih yang memilih makan malam di Johnny Burke’s Bar, pub yang terdapat di dalam Hotel Armada. Pub itu dinamakan sesuai dengan pendiri Hotel Armada, Johnny Burke. Johnny Burke memulai bisnis Hotel Armada tahun 1968. Putranya yang bernama sama, John Burke, mengambil alih bisnis keluarga itu tahun 1999.

Di bawah kepemimpinan John Burke, Hotel Armada diperluas dan dipermoderen, menyuguhkan pengalaman berkesan bagi para tamunya. Hotel itu menjadi kekinian, mendapat review positif dari tamu pengunjungnya. Beberapa penghargaan telah diraih Hotel Armada, salah satunya dikenal sebagai hotel yang mengutamakan kelestarian alam.

Tamu hotel bisa makan sambil menikmati berbagai minuman alkohol di Johnny Burke’s Bar. Bahkan ada live music di malam hari, membuat pengunjungnya betah duduk di sana. Saya dan putri sulung tak menghabiskan waktu di sana, bukan peminum alkohol.

Pelangi

Di pagi hari saya dan putri sulung beruntung mendapat meja di sisi restoran yang menghadap laut saat sarapan pagi. Menyadari mungkin hanya sekali itu kesempatan mengunjungi Spanish Point, saya dan putri sulung sengaja berlama-lama sarapan sambil menikmati pemandangan laut.

Di hari terakhir berada di Spanish Point, saya dan putri sulung olahraga jalan kaki menelusuri desa seputar Hotel Armada. Suasananya tenang, teratur, dipenuhi udara bersih. Pelangi yang muncul menjadi daya tarik pagi itu. Tidur nyenyak di Hotel Armada membuat saya tak tahu pasti, apakah pelangi itu muncul karena hujan dini hari tadi atau karena kabut di atmosfer. Bagi saya pribadi, pelangi pertanda baik. Warna-warni pelangi melambangkan harapan dan keindahan, bermakna hal-hal menyenangkan.

Walau saya telah mengunjungi banyak tempat di berbagai belahan dunia, Spanish Point menjadi salah satu tempat yang tinggal dalam ingatan.