

Serial soap opera berjudul Santa Barbara ditayangkan di TVRI di akhir tahun 1980an. Saat itu hanya ada TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Tanah Air.
Soap opera itu mengisahkan dinamika kehidupan keluarga Capwell yang tinggal di kota Santa Barbara, negara bagian California. Terjadi persaingan antara keluarga Capwell yang kaya raya dan keluarga-keluarga berpengaruh lainnya di kota itu. Pemandangan kota Santa Barbara ditampilkan sebagai latar serial, membuat saya mengenal nama kota Santa Barbara beserta pemandangannya yang indah.
Montecito
Saat mengunjungi putri sulung dan keluarganya yang tinggal di Ventura, negara bagian California, saya beruntung diajak keluarga itu berkunjung ke Santa Barbara di akhir pekan.
“Nanti kita lewati Montecito, area tempat tinggal Prince Harry dan Meghan Markle. Montecito itu bagian dari Santa Barbara County,” begitu kata putri sulung.
Wow… mau jalan-jalan ke Montecito. Saya tahu anggota keluarga Kerajaan Inggris, pasangan Prince Harry dan Meghan Markle, tinggal di negara bagian California, tapi saya tak tahu persis nama area kediamannya.
Rasanya menjadi semakin excited mengikuti rencana perjalanan akhir pekan. Perjalanan dengan mobil dari Ventura ke Montecito hanya memakan waktu 25 menit.
Saat mobil sudah mencapai Montecito, saya mengamati area itu dengan saksama. Rumah besar dengan halaman luas terlihat silih berganti. Berbagai arsitektur bangunan menarik dan berkualitas menjadi pemandangan Montecito. Kondisi properti megah dan halaman luas identik dengan kehidupan pemiliknya: sangat kaya (harga rumah jutaan dolar), bergaya hidup mewah, kompleks perumahan yang tenang.
Selain orang kaya biasa, Montecito dihuni para celebrity seperti Oprah Winfrey, Ellen DeGeneres, Gwyneth Paltrow, Tom Cruise, Katy Perry, Jennifer Lopez, Prince Harry dan Meghan Markle. Mengapa para celebrity tertarik tinggal di Montecito? Suasana tenang, kawasan bergengsi, dekat dengan berbagai pilihan tempat belanja dan restoran kelas atas, jauh dari budaya paparazi Los Angeles; menjadi daya tarik Montecito.
“Penjualan rumah-rumah di Montecito dilakukan secara tertutup, kerahasiaan dijaga. Jadi kita tidak tahu persis yang mana rumah Prince Harry dan Meghan Markle. Mungkin salah satu rumah yang berpagar,” begitu penjelasan putri sulung.
Saya perhatikan, beberapa rumah mewah di Montecito berpagar di bagian jalan masuknya (gated entrance), bukan seluruh lahannya. Tapi lebih banyak rumah terbuka, tanpa gated entrance, atau hanya memakai pagar tanaman. Terlihat privasi dijaga lewat desain lanskap, bukan pagar tinggi.
Walau tak bisa tahu persis yang mana rumah kediaman Prince Harry dan Meghan Markle, setidaknya sudah melihat suasana pemukiman Montecito yang mereka pilih.
State Street
Sudah jam makan siang saat saya dan keluarga putri sulung tiba di Santa Barbara. Mobil diparkir di lahan yang tak jauh dari State Street, agar restoran yang dituju bisa dicapai dengan jalan kaki.
Siang itu saya sengaja diajak makan siang di restoran Sama Sama Kitchen yang berada di jalan State Street. Kata “Sama Sama” berbau Indonesia. Memang betul, nama restoran menggunakan bahasa Indonesia karena pemilik restoran itu berdarah Tapanuli, namanya Ryan Simorangkir. Ia lahir di Santa Barbara, dibesarkan di Indonesia hingga Sekolah Menengah Atas.
Ia melanjutkan pendidikan di Le Cordon Bleu, tempat pelatihan kuliner profesional yang ternama di kota Pasadena, negara bagian California. Durasi pelatihan Le Cordon Bleu bervariasi, mulai dari beberapa minggu hingga 3 tahun (untuk jenjang sarjana). Ada juga program diploma yang berlangsung sekitar 9 bulan. Peserta pelatihan bisa memilih program yang dibutuhkan, atau yang sesuai kantong (maklum, biaya pelatihannya mahal). Muridnya datang dari berbagai penjuru dunia. Biasanya mereka memiliki passion terhadap dunia memasak. Sebagian di antaranya murid yang memulai pelatihan kuliner dari nol, tapi ada juga yang telah memiliki pengalaman profesional.
Menurut informasi yang tersedia, di masa mudanya Ryan Simorangkir kurang menyukai makanan Indonesia. Namun, saat tinggal di Bali, ia dan rekan bisnisnya menikmati makanan kaki lima di sana, yang membangkitkan kecintaannya pada warisan kuliner Tanah Air.
Pemilihan nama restoran “Sama Sama” menunjukkan terima kasih atas kedatangan pelanggan yang makan di restoran itu. “Sama Sama” diartikan “You are welcome”, begitu penjelasan putri sulung.
Penculik Anak
Saat itu keluarga putri sulung baru memiliki Ralph, putra pertama yang berusia beberapa bulan. Usai menghabiskan makanan, saya sengaja mengambil alih pengawasan Ralph. Menggendongnya dan membawa berkeliling agar orang tuanya bisa bebas menikmati makan siang (maklum, tak ada tenaga ART di Amerika).
Saat jalan-jalan melihat toko sepanjang State Street sambil memomong bayi, sepasang laki-laki dan perempuan bule berumur mendekati saya.
“He looks like Ralph. Is he Ralph?” tanya sang perempuan.
Lumayan surprise ada yang mengenali Ralph, bayi berusia beberapa bulan, di tengah kota Santa Barbara.
“Yes, this is Ralph,” jawab saya.
“Where are his parents?” tanya perempuan itu lagi dengan pandangan menyelidik.
“Oh, they’re having lunch in a restaurant over there,” jawab saya sambil menunjuk ke arah restoran Sama Sama Kitchen. Restoran tidak kelihatan dari tempat saya berdiri, membuat pasangan bule itu tak bisa melihat putri sulung maupun menantu.
“And who are you?” tanya perempuan bule itu lagi, masih dengan pandangan menyelidik.
“I’m Clarissa’s mother,” jawab saya, menyebutkan nama putri sulung.
“Oh I see… Nice to meet you.” Akhirnya kedua pasangan itu beranjak pergi.
Setelah puas membawa Ralph jalan-jalan seputar State Street, saya kembali ke restoran Sama Sama Kitchen. Ternyata, pasangan bule tadi tetangga mertua putri sulung yang tinggal di Ojai. Mereka sering berolahraga jalan kaki di hari Sabtu, menempuh perjalanan dari Ojai ke Santa Barbara dengan jalan kaki. Padahal jarak tempuhnya sekitar 53 kilometer, memakan waktu 45 menit jika ditempuh dengan mobil. Entah berapa lama mereka berjalan kaki untuk mencapai Santa Barbara.
Informasi itu saya ketahui dari putri sulung, yang baru saja menerima telepon dari mertua perempuan. Sang mertua menanyakan, apakah betul Ralph sedang berada di Santa Barbara, dan apakah betul saya (ibunya Clarissa) sedang berada di Santa Barbara? Hahaha… kedua pasangan bule tadi khawatir Ralph diculik perempuan berkulit Asia. Mereka menghubungi besan untuk memastikan kebenaran dari apa yang saya katakan.
Riviera Amerika
Saya perhatikan, banyak bangunan di kota Santa Barbara bergaya kolonial Spanyol. Iklim kota ala Mediterania, pesisir pantai yang indah, plus arsitektur bergaya kolonial membuat Santa Barbara dijuluki “The American Riviera”.
Santa Barbara dikenal karena pantainya yang indah. Seorang ekspatriat di salah satu perusahaan asing tempat saya bekerja dulu, memilih menetap di Santa Barbara setelah pensiun. Mungkin karena suasananya yang rileks, dan banyak cahaya matahari.
Tapi, ada bagian tertentu wilayah Santa Barbara yang rawan banjir. Walau demikian, calon pembeli properti tak perlu takut. Keterbukaan informasi di Amerika membuat mereka bisa mendapatkan informasi dari FEMA tentang area mana yang rawan banjir di kota itu. FEMA (Federal Emergency Management Agency), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang mengoordinasikan respons pemerintah terhadap bencana di AS. Lembaga ini merupakan bagian dari Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, pemetaan area rawan banjir tentu memudahkan mereka mengirim bala bantuan saat banjir terjadi.
Mengapa Santa Barbara bisa dilanda banjir? Kota itu berada di antara Pegunungan Santa Ynez dan pantai. Saat hujan deras, air mengalir cepat dari lereng curam ke daerah yang lebih rendah, menyebabkan terjadi limpahan air dalam volume besar dalam waktu singkat. Beberapa wilayahnya juga memiliki jenis tanah yang mengering saat musim panas, sehingga ketika hujan datang, air sulit meresap, menyebabkan genangan air permukaan menumpuk dan terjadilah banjir. Beberapa kawasan yang sebenarnya merupakan tempat aliran air atau dataran banjir telah dibangun, sehingga lebih rentan mengalami genangan.
Santa Barbara County Courthouse
Usai makan siang, keluarga putri sulung membawa saya mengunjungi gedung pengadilan di kota Santa Barbara. Santa Barbara County Courthouse, nama gedung itu, banyak dikunjungi wisatawan karena dianggap sebagai salah satu gedung publik yang indah di negeri Paman Sam. Dari atas gedung pengadilan wisatawan bisa menikmati panorama kota Santa Barbara, lautan dan kepulauan Channel yang letaknya lumayan dekat, gedung-gedung beratap genteng merah, dan pegunungan seputar kota.
Tak dipungut bayaran untuk memasuki gedung pengadilan itu. Selain daya tarik di atas, Santa Barbara County Courthouse mengandung unsur sejarah, dengan desain bergaya Spanish-Moorish. Gaya arsitektur Spanish-Moorish itu perpaduan budaya Spanyol dan Moor, kaum Muslim dari Afrika Utara yang pernah menguasai sebagian besar Semenanjung Iberia selama ratusan tahun.
Memasuki area gedung pengadilan yang dibangun tahun 1929 itu serasa memasuki istana bergaya Eropa. Saya sungguh terkesan. Saya menemukan banyak elemen lengkung (arches) dekoratif, dimulai dari Great Arch, salah satu pintu masuk utama gedung. Tangga penghubung lantai satu dan lantai dua sangat dekoratif, dengan ubin yang dilukis. Beberapa bagian memiliki rel tangga yang dibuat dari besi yang ditempa.
Sungguh kagum melihat ubin ruangan gedung yang dilukis tangan, penuh estetika. Lukisan pada balok dan langit-langit bergaya abad pertengahan terlihat di galeri Figueroa One yang terletak di lantai satu gedung. Di lantai dua terdapat Ruang Mural (Mural Room), langit-langitnya dilukis dengan gaya renaissance. Menurut informasi, lukisan itu dibuat Giovanni Battista berdasarkan lukisan di kapel-kapel. Saya juga melihat mural di berbagai lokasi di gedung pengadilan tersebut.
Taman gedung tertata rapi dengan rumput hijau, pohon palem, dan tanaman bersejarah. Taman itu diberi nama Sunken Gardens. Sering digunakan sebagai spot foto dan berbagai kegiatan lainnya, seperti acara pernikahan, pemutaran film, acara komunitas.
Di dinding menara Santa Barbara County Courthouse terdapat jam besar yang terlihat dari luar. Jam itu dibuat dan dipasang oleh Seth Thomas Clock Company tahun 1929, perusahaan pembuat jam terkemuka di Amerika, sehingga banyak yang menyebutnya jam Seth Thomas. Jam menara itu dipasang setelah gedung pengadilan asli dibangun kembali pasca gempa tahun 1925. Modelnya langka, dan masih berfungsi hingga kini.
Sebenarnya desain jam menara itu dibuat dengan mekanisme untuk memukul lonceng. Namun, entah kenapa, tak pernah ada lonceng perunggu (lonceng tradisional) yang benar-benar dipasang. Sebagai gantinya, empat lonceng (bukan lonceng sungguhan) dipasang di ruang galeri jam (Clock Gallery), tapi hanya untuk pajangan visual. Lonceng pajangan itu terbuat dari styrofoam atau fiberglass.
Karena tak ada lonceng perunggu yang bisa berbunyi, gedung pengadilan menggunakan sistem elektronik. Saat jam memukul waktu, sistem elektronik memutar suara rekaman lonceng. Suara rekaman disinkronkan dengan mekanisme jam Seth Thomas. Sejak tahun 2011 sistem carillon elektronik Santa Barbara County Courthouse diperbarui, agar bunyinya lebih akurat dan sesuai dengan gerakan jam (tepat waktu).