Adriani Sukmoro

Pengaruh

Di suatu kesempatan, saya mewawancarai seorang Direktur perusahaan swasta. Dalam kesempatan itu, saya bertanya tentang gaya kepemimpinan yang dipraktikkannya. Ia menunjuk pada prinsip buku The 5 Levels of Leadership yang diuraikan John C. Maxwell, penulis dan pembicara dari Amerika Serikat.

Saya jadi tertarik menggali dan membagi perspektif yang dipetik dari buku itu. Secara garis besar dijelaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau gelar. Kepemimpinan itu proses memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Proses yang dijalani mencerminkan tingkat kematangan, pengaruh, dan dampak seorang pemimpin terhadap orang-orang di sekitarnya.

Pemimpin Berdasarkan Jabatan

Irwan, karyawan berprestasi di unit kerjanya, dipromosikan menjadi Team Leader. Di posisi baru itu 5 orang anggota tim melapor padanya. Irwan menyadari, ia bertanggungjawab penuh atas kinerja unit yang dipimpinnya, yang berarti memastikan setiap anggota tim menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dan sesuai target pencapaian.

Irwan pun mengadakan rapat di hari pertamanya menjadi Team Leader. Ia membagi tugas dan menetapkan tenggat waktu (deadline). Anak buahnya mendengarkan, dan mengikuti instruksi yang diberikan. Namun Irwan belum melihat antusiasme atau inisiatif dari anggota timnya.

Menurut John C. Maxwell, situasi di atas menggambarkan level pertama kepemimpinan: seseorang menjadi pemimpin karena jabatannya. Level pertama ini disebut Position.

Pada tahap ini, orang mengikuti pemimpin karena mereka “harus”, bukan karena “ingin”. Pengaruh berasal dari otoritas formal yang diberikan oleh organisasi. Meskipun posisi adalah awal yang sah dan umum, namun John C. Maxwell menekankan bahwa jika seorang pemimpin berhenti di level ini, maka dampaknya akan terbatas. Kepemimpinan sejati tidak bisa dipaksakan; ia harus tumbuh.

Pemimpin Berdasarkan Hubungan

Irwan menyadari, ia perlu menggalang kerja sama dalam timnya. Ia pun berusaha mengenali setiap anggota tim, dengan menanyakan apa tujuan yang ingin dicapai dalam kariernya, mendengarkan masukan yang diutarakan. Dalam proses mengenal anggota tim itu, Irwan berusaha menciptakan suasana kerja yang mendukung.

Demi mengejar deadline, Irwan terpaksa bekerja hingga malam hari saat mengerjakan kampanye suatu produk baru yang akan segera dipasarkan perusahaan. Arief, salah seorang anggota timnya, menawarkan bantuan, turut membantu bekerja hingga malam hari. Padahal pekerjaan itu bukan tugas yang ada dalam tanggung jawabnya.

Situasi di atas menggambarkan, pengaruh kepemimpinan Irwan mulai terbina. Anak buahnya membantu melakukan pekerjaan bukan karena keharusan, tapi karena memang ingin.

Menurut John C. Maxwell, situasi di atas menggambarkan level kedua kepemimpinan: seseorang menjadi pemimpin berkat hubungan. Hubungan atasan-bawahan mulai terbina, Irwan telah membangun hubungan, kepercayaan, dan kepedulian. Level kedua ini disebut Permission.

Di level ini, komunikasi terbuka, empati, dan perhatian terhadap kesejahteraan tim menjadi kunci. Pemimpin yang berhasil di level ini belajar mendengarkan dan menghargai orang-orangnya sebagai manusia, bukan hanya pekerja.

Pemimpin Berdasarkan Hasil Kerja

Beberapa waktu kemudian, perusahaan mencanangkan peluncuran produk baru lainnya. Irwan membuat perencanaan terstruktur, memberi pengarahan pada anggota tim, menggalang kerja sama dengan bagian terkait di dalam perusahaan.

Peluncuran produk baru tersebut sukses, hasil penjualan melampaui target 30%. Manajemen perusahaan senang dengan keberhasilan Irwan dan timnya. Anak buah juga senang dengan hasil kerja itu. Mereka melihat pemimpin mereka tak hanya peduli pada anak buah, tapi memiliki kemampuan menyelesaikan tugas dan menghasilkan kinerja yang baik. Keberhasilan itu membuat anggota tim menghormatinya.

Menurut John C. Maxwell, situasi di atas menggambarkan level ketiga kepemimpinan: seseorang menjadi pemimpin berkat hasil kerja. Level ketiga ini disebut Production.

Anak buah mengikuti pemimpin karena mereka menghargai kontribusi nyata dan prestasi pemimpin tersebut. Di level ini, pemimpin menjadi teladan produktivitas, menunjukkan bahwa kepemimpinannya membawa hasil konkret. Ia mampu membuat tim bekerja lebih efektif, memecahkan masalah, dan membawa organisasi ke level lebih tinggi.

Pemimpin Berdasarkan Pengembangan Pemimpin Lain

Kinerja positif yang dihasilkan tim yang dipimpin Irwan membuat lebih banyak tanggung jawab dibebankan pada tim tersebut. Irwan sendiri dipromosi menjadi Unit Leader, dan diizinkan menambah jumlah anak buah. Kini 10 orang anak buah melapor padanya.

Irwan mulai melatih Adi, salah seorang anggota tim, dalam membuat presentasi. Ia meminta Adi memaparkan proyek yang dikerjakan pada bagian terkait. Dalam proses membimbing itu, Irwan melatih Adi untuk percaya diri, dan menyadari potensinya.

Adi mendapat exposure melalui kesempatan memaparkan proyek yang ditanganinya. Ia semakin bersemangat bekerja, apalagi beberapa orang ditugaskan sebagai anak buah menangani proyek itu. Keberhasilan proyek membuat Adi dipromosi menjadi Team Leader dalam unit yang dipimpin Irwan.

Menurut John C. Maxwell, situasi di atas menggambarkan level keempat kepemimpinan: seseorang menjadi pemimpin karena mengembangkan pemimpin lain. Level keempat ini disebut People Development.

Pemimpin melipatgandakan pengaruhnya dengan mengembangkan pemimpin lain. Anak buah akan mengikuti pemimpin yang membantu mereka berkembang. Bentuk kepemimpinan di level keempat ini berkelanjutan dan membangun masa depan. Pemimpin tersebut menjadi mentor, pelatih, dan pembuka jalan bagi pertumbuhan orang lain.

Pemimpin Berdasarkan Teladannya

Gaya kepemimpinan Irwan membuat timnya merasa nyaman dan berkembang. Anak buah menghormatinya. Anak buah yang menjalani rotasi tugas ke bagian lain pun berbicara hal-hal positif tentang kepemimpinannya. Selain itu, Irwan sering diminta menjadi pelatih untuk sesi pelatihan karyawan. Ia juga dilibatkan dalam berbagai rapat pembuatan strategi perusahaan. Irwan menjadi role model pimpinan atau atasan di perusahaannya.

Menurut John C. Maxwell, situasi di atas menggambarkan level kelima kepemimpinan: puncak dari perjalanan kepemimpinan. Anggota tim dan karyawan lainnya mengikuti pemimpin karena siapa dia dan apa yang dia wakili. Pemimpin di level ini telah membangun reputasi, integritas, dan pengaruh luar biasa yang melampaui organisasi atau jabatannya. Ia menjadi inspirasi dan meninggalkan warisan kepemimpinan. Level kelima ini disebut Pinnacle.

The 5 Levels of Leadership karya John C. Maxwell itu memaparkan peta perjalanan kepemimpinan beserta tantangan untuk terus tumbuh: Position, Permission, Production, People Development, Pinnacle. Kepemimpinan tak boleh berhenti hanya pada posisi. Kepemimpinan perlu tumbuh melalui pembinaan hubungan, kinerja yang berhasil, pengembangan orang lain, hingga membentuk warisan.

Dalam dunia yang terus berubah, pemimpin ideal adalah mereka yang mau naik tangga kepemimpinan secara sadar dan konsisten. Leadership is influence; nothing more, nothing less. Kata-kata bijak dari John C. Maxwell itu menekankan besarnya pengaruh seorang pemimpin dalam membentuk kehidupan orang lain, bukan hanya sekadar mencapai target organisasi.