
Di suatu masa, iklan yang menampilkan sekelompok anak-anak yang mengenakan kaus berwarna-warni mencolok menarik perhatian banyak orang. Para modelnya terdiri dari berbagai ras: kulit putih, kulit hitam, Cina, hispanic, Eropa Timur, Timur Tengah, dan lain-lain. Penampilan model dari berbagai ras, mengenakan busana berwarna-warni, sungguh mewakili slogan Benetton, perusahaan yang memproduksi busana itu. United Colors of Benetton, begitu bunyi slogan Benetton.
Iklan itu dikeluarkan Benetton, perusahaan busana Italia. Iklan yang dianggap provokatif, kreatif, menampilkan keberagaman mengatasi isu rasisme, peperangan dan AIDS. Benetton pun dijuluki sebagai perusahaan yang berani menyoroti norma sosial dan kecenderungannya melalui iklan.
Prasangka
Saya menganggap iklan Benetton itu menyampaikan pesan, bahwa anak-anak tak memiliki prasangka. Walau berbeda-beda (dari segi ras dan warna baju), mereka bermain dengan segala kepolosan, tak membedakan.
Dalam perjalanan waktu, kepolosan anak bisa berubah. Perbedaan latar belakang, budaya, suku, dan agama bisa menyebabkan timbulnya prasangka (prejudice). Dari pembelajaran iklan di atas, prasangka tidak terbawa dari lahir. Prasangka sering terbentuk akibat belajar dari keluarga, teman pergaulan, dan lingkungan sekitar. Terjadilah stereotip atau anggapan umum tentang karateristik suatu kelompok. Stereotip itu belum tentu betul, stereotip yang tidak akurat dapat menimbulkan diskriminasi.
Indon
Selama bertugas sekitar 3 bulan di Kuala Lumpur, Malaysia, saya tidak pernah mendengar julukan apa pun untuk orang Indonesia. Namun, ketika putri dalam keluarga kuliah di Amerika, ia bercerita tentang singkatan kata Indon untuk menyebut orang Indonesia, yang digunakan mahasiswa dari Malaysia untuk mahasiswa Tanah Air.
Sebutan itu asing di telinga saya, baru pertama kali mendengarnya. Tak berarti apa pun bagi saya. Namun, siswa Indonesia di Amerika pada umumnya tak suka sebutan itu digunakan. Penggunaan kata Indon dianggap bukan untuk tujuan baik, ada konotasi negatif, seolah sebuah ejekan atau bersifat merendahkan.
Entah bagaimana asal ceritanya orang Malaysia menggunakan singkatan kata Indon untuk orang Indonesia. Dari literatur yang saya baca, kata Indon dalam bahasa Melayu Pontianak berarti pelacur. Apakah karena itu penamaan Indon untuk orang Indonesia dianggap penghinaan? Yang jelas, penggunaan istilah singkat Indon telah dilarang digunakan pada tahun 2006.
Paki
Ketika membaca otobiografi Spare, saya menjadi tahu bahwa Pangeran Harry dikritik habis-habisan akibat menggunakan istilah Paki untuk sesama kadet yang berasal dari Pakistan saat ia menjalani pelatihan perwira militer di Royal Military Academy Sandhurst. Pangeran Harry memasukkan insiden itu di dalam bukunya untuk menjelaskan, ia tak menyadari sensitivitas dari sebutan Paki bagi orang Pakistan. Ia menyebut kesalahan yang dilakukannya sebagai bias yang tak disadari (unconscious bias).
Singkatan kata Paki untuk orang Pakistan memiliki konotasi negatif, mengandung ejekan dan bersifat merendahkan. Sebutan Paki itu bermula dari Inggris, dan menyebar ke beberapa negara lain. Konotasi negatif sebutan Paki membuat siapa pun yang menggunakan kata itu menjadi salah. Seperti kesalahan yang dilakukan George W. Bush, Presiden Amerika Serikat, saat ia menyebut hubungan India dan Pakistan menjadi India dan Paki. Setelah seorang wartawan Amerika keturunan Pakistan mengajukan protes, pihak Gedung Putih menyatakan permintaan maaf atas kekhilafan yang terjadi.
Chicano
Saya mengenal sebutan Chicano untuk orang yang berasal dari Amerika Latin saat tinggal di negeri Paman Sam selama beberapa waktu lamanya. Orang-orang dari Amerika Latin, khususnya yang berasal dari Meksiko, menganggap sebutan Chicano sebagai penghinaan. Di dalamnya terkandung unsur kritik atas orang-orang Amerika yang berasal dari Amerika Latin tapi tak mau dikaitkan dengan asal usulnya, dan berusaha berperilaku seperti orang Amerika. Akibatnya, para Chicano itu sering disebut ni de aquí, ni de allá (neither from here nor there), mereka bukan orang Meksiko tapi juga bukan orang Amerika sepenuhnya.
Selain itu, sebutan Chicano sering digunakan untuk menggambarkan kelas dan ras. Orang Amerika menggunakan sebutan itu untuk pekerja kasar imigran dari Amerika Latin, berkulit berwarna, dan hidup di lingkungan kelas bawah.
Nigger
Sewaktu kecil, saya, keluarga, dan teman-teman sekolah biasa menggunakan kata ‘Orang Negro’ saat membicarakan warga Amerika berkulit hitam. Namun, saat tinggal di Amerika, saya belajar untuk menghindari penggunaan 2 kata: Negro dan Nigger. Kedua kata itu sangat sensitif, mengandung sejarah yang menyakitkan bagi kaum kulit hitam Amerika. Sebutan Negro dan Nigger bukan hanya sekadar kata, sebutan itu ternyata digunakan untuk menghina kaum kulit hitam Amerika di zaman perbudakan di negeri Paman Sam.
Sebutan Nigger berasal dari kata Negro dalam bahasa Spanyol dan Portugis, yang berarti hitam, yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang berasal dari Afrika (berdasarkan warna kulit).
Di masa lampau, urusan niaga tak hanya mencakup perdagangan barang dan hasil bumi. Budak juga diperdagangkan, berjuta warga Afrika ditangkap dan diperdagangkan hingga ke benua Amerika. Sebutan Negro tadi berubah menjadi Nigger di koloni yang menggunakan bahasa Inggris, yang merujuk kepada orang-orang yang diperbudak, ras yang hanya pantas untuk pekerjaan kasar.
Apa yang terjadi jika seseorang memanggil warga kulit hitam Amerika dengan sebutan Nigger? Mereka akan marah, kata itu membangkitkan sejarah buruk leluhur mereka, diperlakukan seperti bukan manusia, bekerja sebagai budak tanpa diberi upah dan batas waktu kerja. Walau leluhur mereka yang mengalami masa kelam di zaman perbudakan, namun trauma perbudakan kaum kulit hitam menurun ke generasi berikutnya, menjadi generational trauma.
Penamaan terhadap warga suatu bangsa memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi dan identitas suatu bangsa. Menggunakan penamaan yang mengandung penghinaan patut dihindari; bisa menimbulkan luka, kebencian, prasangka, dan pembentukan stereotip.
Penamaan berisi penghinaan bisa merusak hubungan antar negara (tingkat global), dan hubungan antar individu. Sangat berbeda dengan pesan yang disampaikan melalui iklan Benetton di atas. Warna baju berbeda-beda, warna kulit berbeda-beda, tapi tak ada halangan untuk bersama. Seperti pepatah yang mengatakan, disagreements are fine, disrespect is not. Boleh saja berbeda pendapat, tapi tak perlu menjadi kasar atau menghina orang lain.