
Wajah Don Johnson muncul di layar kaca seminggu sekali di era 1980-an. Ia pemeran utama serial TV Miami Vice, serial drama kriminal yang menampilkan berbagai aksi Don Johnson sebagai detektif Departemen Kepolisian Metro-Dade yang bekerja menyamar di Miami. Jalan cerita serial TV itu selalu menampilkan pemandangan kota Miami dengan pantainya yang terkenal (terutama South Beach), bangunan dengan arsitektur Art Deco, dan kehidupan malam yang semarak.
HR Conference
Siapa nyana tahun 2000 kaki ini bisa menginjak kota Miami saat bekerja di salah satu bank asing. Saat itu saya menghadiri Global Human Resources Conference (Global HR Conference) yang diselenggarakan untuk para Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) organisasi tersebut. Konperensi selalu diadakan di kota berbeda di Amerika, tahun itu konperensi diadakan di Miami.
Pemandangan pantai pesisir Miami terlihat jelas saat pesawat menjelang pendaratan di Miami International Airport. Hotel tempat konperensi diadakan berada di South Beach, peserta konperensi juga menginap di hotel yang sama. Pilihan yang memanjakan peserta konperensi; lokasinya sangat menarik, pantai terpaut di belakang hotel, membuat tamu hotel bisa berenang sepuasnya.
Peserta konperensi terbesar berasal dari Negeri Paman Sam. Maklum, asal dan kantor pusat bank asing itu berada di New York, Amerika Serikat. Kaum kulit putih umumnya senang berenang di pantai, pilihan tempat seperti Miami menjadi kesempatan bagi mereka untuk menikmati waktu di pantai. Tak heran saya menemukan orang-orang kulit putih yang berseliweran di lobby hotel, masing-masing dengan perlengkapan pantainya: bathrobe, kacamata renang, topi pantai, plastik yang mungkin berisi minuman kaleng, buku, dan hal-hal lain yang dibutuhkan saat santai di pantai.
Kegemaran berenang di pantai masih terlihat saat konperensi dimulai esok paginya. Beberapa peserta tampil dengan rambut basah, sepertinya mereka menyempatkan diri berenang di pagi hari. Rambut tak sempat dikeringkan, buru-buru masuk ke ruang konperensi (walau mereka tetap mengenakan busana resmi). Saya jadi berkomentar dalam hati, jangan-jangan mereka tak sempat mandi sebelum muncul di ruang konperensi! Sementara rekan-rekan Direktur SDM dari negara Asia tampil rapi, peserta laki-laki mengenakan jasnya dan peserta perempuan mengenakan blazer.
Limousine
Konperensi beberapa hari itu selalu ditutup sekitar pukul lima sore, memungkinkan peserta melakukan kegiatan masing-masing di malam hari. Apalagi banyak peserta konperensi yang belum pernah mengunjungi kota Miami sebelumnya. Waktu usai konperensi pun dimanfaatkan untuk melihat-lihat Miami, walau hanya bisa melihat kota itu di malam hari.
Di hari pertama konperensi, saya dan peserta negara Asia lainnya menyatu, merencanakan makan malam bersama di luar hotel. Pilihannya restoran Pizza (demi efisiensi biaya), setelah itu rombongan jalan kaki menelusuri area seputar restoran. Sebagai penikmat pemandangan alam, saya hanya menggumam dalam hati, sayang sekali berada di Miami tapi hanya melihat gedung-gedung malam itu.
Saat pulang menuju hotel, taksi yang dinaiki sengaja memutar ke area Villa Casa Casuarina, bangunan megah yang dulu dimiliki perancang terkenal Gianni Versace. Villa itu berada di jalan Ocean Drive, South Beach. Mengapa meluangkan waktu melihat Villa Casa Casuarina walau hanya sekadar lewat saja?
Tahun 1997 (3 tahun sebelum konperensi), Gianni Versace ditembak mati saat melangkah di tangga depan villanya itu. Ia hendak memasuki villa setelah kembali dari News Café. Pembunuhan Gianni Versace di depan villanya menjadi topik berita selama beberapa hari, ketenarannya membuat berita itu mendunia.
Villa Casa Casuarina yang bergaya mediterranean itu terlihat megah, pasti mahal harganya, apalagi berada di lokasi favorit South Beach. Villa itu sedang dalam proses penjualan saat taksi yang membawa saya dan rekan-rekan peserta konperensi melintas. Bisa dimaklumi, keluarga Gianni Versace tak mau menginjak villa itu lagi, salah satu anggota keluarga mereka dibunuh di tempat itu.
Di hari kedua konperensi, lagi-lagi saya menyatu dengan beberapa peserta dari negara Asia untuk makan malam bersama. Berbeda dengan malam sebelumnya, malam itu agak sulit mendapatkan taksi di lobby hotel, banyak yang antri menunggu giliran mendapat taksi. Tiba-tiba seorang peserta konperensi, perempuan bule, berpikir kreatif. Ia mendekati supir limousine yang baru saja menurunkan tamu hotel.
Setelah berbicara sejenak dengan supir, peserta konperensi itu berteriak, “We’re going to Washington Avenue. We need 8 people to join us in this limousine. Anybody interested? We will divide the limousine fare equally; it’s more or less similar with regular taxi fare!”
Ternyata, peserta konperensi itu menanyakan tarif limousine menuju Washington Avenue. Otaknya menghitung dengan cepat. Kapasitas penumpang yang bisa masuk limousine sebanding dengan tarif mobil itu. Jika dibagi rata, setiap penumpang limousine akan membayar harga yang kurang lebih sama dengan harga taksi biasa. Mereka yang antri taksi tak berpikir seperti perempuan bule peserta konperensi tadi.
Saya dan rekan-rekan dari negara Asia tadi bertujuan ke tempat yang sama: Washington Avenue. Setelah sempat saling berpandangan, saya dan rekan-rekan dari negara Asia itu segera berlompatan masuk ke dalam limousine. Mumpung belum ada yang bereaksi terhadap undangan sharing kendaraan limousine. Betul pemikiran peserta konperensi tadi. Biaya mahal limousine menjadi tak terlalu mahal jika dipadati beberapa penumpang dan biaya ditanggung bersama. Ide brilliant!
Waaaah… seumur hidup tak pernah berpikir bisa menaiki mobil limousine. Hanya melihat mobil itu melalui film-film Hollywood. Luar biasa, walau duduk berhimpitan, saya pernah naik limousine di Miami!
Pertarungan Hak Asuh
Negara bagian Florida terletak di bagian Selatan Negeri Paman Sam, letaknya paling ujung, dekat dengan negara Kuba. Kondisi ekonomi Kuba memburuk setelah negara Soviet pecah. Bantuan dana yang secara rutin diterima Kuba dari Soviet selama ini menjadi hilang. Diperburuk oleh gaya kepemimpinan Fidel Castro, Presiden Kuba yang dianggap diktator. Akibatnya, banyak warga Kuba yang melarikan diri ke negara lain, terutama ke Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara impian.
Jarak yang dekat membuat banyak pelarian Kuba yang menjadikan negara bagian Florida sebagai tujuan melarikan diri. Miami menjadi incaran karena letak geografis kota itu paling dekat dengan Kuba. Menurut data populasi, lebih dari 50% penduduk Miami berasal dari negara lain (lahir di negara lain), jumlah terbesar imigran di kota itu berasal dari Kuba. Di antaranya Gloria Estefan dan Emilio Estefan. Pasangan suami istri itu lahir di Kuba, dibawa keluarga masing-masing hijrah ke Amerika Serikat demi menghindari gejolak revolusi di Kuba. Mereka mendirikan kelompok musik Miami Sound Machine, yang berhasil mencetak rekor lagu-lagu pop tahun 1980an. Lagu-lagunya bernuansa musik Kuba: semarak, mengundang pendengarnya berdansa, bercampur dengan irama salsa dan rumba.
Selama konperensi, saya menyempatkan menonton berita di saluran TV setempat setiap pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur. Berita tentang Elian Gonzalez Brotons, seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun berkebangsaan Kuba, memenuhi semua saluran TV, membuat saya mengikuti berita itu.
Elian dibawa ibunya melarikan diri dari Kuba, menuju negara bagian Florida bulan November 1999. Peristiwa naas menimpa ketika kapal kecil yang membawa mereka tenggelam, menewaskan ibu Elian dan beberapa penumpang lainnya. Elian selamat, terapung-apung di tengah laut, hingga ditemukan nelayan asal Bahama sekitar 10 mil dari pantai Kuba. Elian akhirnya diselamatkan oleh pihak kepolisian pantai Amerika Serikat, lalu diberi suaka sementara dan diizinkan menetap bersama pamannya yang sudah menjadi warga negara Amerika dan menetap di Miami.
Kasus perebutan hak asuh muncul ketika ayah kandung Elian, warga Kuba yang menetap di Kuba, menuntut Elian dikembalikan ke Kuba untuk tinggal bersamanya. Pihak keluarga ibunya yang menetap di Miami berusaha mempertahankan Elian tinggal di Amerika.
Hubungan Amerika dan Kuba yang tak ideal membuat kasus perebutan hak asuh itu menjadi kasus politik antar negara. Pemerintah Kuba memberi bantuan pada ayah Elian agar sukses memenangkan kasus itu.
Saat break makan siang, peserta HR Conference harus duduk di meja yang telah ditetapkan, guna mendorong networking (peserta konperensi duduk bersama peserta dari benua berbeda). Bisa menebak topik apa yang dibicarakan di meja makan tempat saya bergabung? Betul, berita persidangan kasus Elian yang terus menerus muncul di TV dan media cetak jadi topik pembicaraan. Topik itu melibatkan semua peserta konperensi yang duduk di meja saya, masing-masing memberi komentar. Ternyata banyak peserta konperensi yang juga mengikuti berita itu.
Hasil persidangan muncul setelah saya kembali ke Tanah Air. Kantor Imigrasi Amerika memutuskan, ayah kandung Elian yang memiliki hak asuh. Keluarga ibunya yang tinggal di Miami tak membiarkan Elian diambil, sehingga petugas Kehakiman dan Imigrasi mengambil paksa Elian dari rumah pamannya di Miami. Peristiwa itu cukup dramatis, petugas yang mengambil paksa Elian dilengkapi dengan peralatan senjata.
Ayahnya membawa pulang Elian Gonzalez ke Kuba di akhir Juni 2000.
Apa yang saya ingat dari kunjungan ke Miami? Sayang sekali, gedung tinggi dan pantai hotel yang tersisa di kepala. Bahkan saya pulang tanpa sempat berenang di Miami, kota yang terkenal dengan pantai indahnya. Begitulah jika tak sempat jalan-jalan, hanya melihat Miami di malam hari. Bahkan foto-foto yang ada hanya foto dalam ruangan konperensi!