
Komunikasi dipermudah di era digital. Komunikasi menjadi langsung (instant), mudah didapat, dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Platform WhatsApp menjadi sarana utama berkomunikasi di masa kini, memudahkan orang tetap berhubungan tanpa dibatasi waktu dan jarak. Seseorang yang tinggal jauh di negeri orang atau di benua berbeda, bisa menjangkau teman-temannya di Tanah Air, berkat keberadaan kelompok WhatsApp. Orang bisa tergabung dalam berbagai kelompok WhatsApp: keluarga, teman sekolah, teman kuliah, tim kerja di perusahaan, teman yang memiliki hobi sama, dan lain-lain.
Meminjam
Ayu dan suaminya sudah memasuki masa pensiun. Uang pensiun seharusnya memadai, mampu menopang kehidupan Ayu dan keluarganya. Namun, gambaran menghasilkan uang di masa pensiun membuat Ayu dan suaminya mendirikan usaha ternak. Ternak dibeli, lalu dikembangbiakkan dan dijual. Uang pensiun digunakan sebagai modal usaha ternak tersebut.
Entah karena tidak berpengalaman, atau mungkin kurang berbakat menjadi pebisnis, usaha ternak mereka gagal. Uang pensiun pun hilang. Ayu dan keluarganya mengalami tantangan keuangan, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ayu terpaksa menghubungi teman dan kerabat melalui telepon genggamnya. Ia perlu meminjam dana dari mereka guna memenuhi kebutuhan hidup. Dari sekian banyak yang dikirimi pesan, hanya sedikit yang menjawab. Kalimat yang berisi meminjam dana mungkin membuat mereka yang menerima pesan tak bersedia diganggu.
Segelintir yang menjawab pesan, di antaranya bersedia membantu ala kadar. Ada yang menjawab pesan, dan menjelaskan tak bisa membantu karena sesuatu dan lain hal. Ayu merasa senang mendapat bantuan. Ia juga merasa bersyukur pada mereka yang menjawab pesannya walau tak bisa membantu. Mengapa? Karena ternyata, tak mendapat jawaban atau tanggapan terhadap pesan menimbulkan perasaan tak enak luar biasa. Selama berhari-hari pikiran Ayu tak bisa lepas dari pesan yang tak ditanggapi itu.
Hati Ayu tersentuh ketika orang yang dihubungi mengirim balasan. Walau balasan belum tentu memenuhi permintaannya, setidaknya orang itu membaca dan turut prihatin atas situasinya.
Mantan Kolega
Andi, seorang karyawan perusahaan swasta, memerlukan informasi untuk suatu kegiatan. Informasi itu bisa diperoleh dari salah seorang mantan kolega di perusahaannya dulu.
Andi pun menghubungi mantan kolega tadi melalui WhatsApp. Pesan terkitim, tapi tak ada tanggapan. Andi menunggu hingga akhir hari itu, tetap tak ada tanggapan. Andi pun memeriksa keabsahan nomor yang dihubungi ke sumber lainnya, sumber lain itu membenarkan nomor yang dihubungi.
Andi sangat membutuhkan informasi yang dimiliki mantan kolega itu. Setelah 2 hari berlalu, Andi mencoba menghubungi langsung nomor mantan kolega itu melalui telepon genggam. Hubungan tersambung, namun nada panggil tidak diangkat. Andi menjadi penasaran. Ia menulis pesan lagi, menanyakan kabar mantan kolega, dan menyampaikan tujuannya menghubungi yang bersangkutan. Lagi-lagi tak ada tanggapan.
Pertanyaan pun muncul di kepala Andi. Apakah mantan koleganya itu sudah berubah? Tak mau sembarangan berhubungan dengan orang lain, termasuk mantan rekan kerja di perusahaan dulu? Perasaan tak enak muncul dalam diri Andi. Ia jadi berpikir, mantan koleganya itu sombong.
Respek Dalam Komunikasi
Kemajuan teknologi yang membuat ketersediaan berbagai media komunikasi dimanfaatkan banyak orang. Menerima sapaan teman, kolega, kerabat, handai taulan melalui platform WhatsApp terjadi; bisa menjadi kegiatan rutin, bisa menjadi kegiatan yang muncul untuk kepentingan tertentu.
Apapun tujuan pengiriman pesan itu, penerima pesan seyogianya menanggapi. Tanggapan tentu sesuai dengan apa yang perlu disampaikan. Tidak perlu merasa kecil hati, atau merasa bersalah, jika tanggapan tak sesuai dengan harapan pengirim pesan.
Mengapa perlu membalas pesan dari teman, kolega, kerabat, handai taulan, yang masuk dalam media komunikasi? Membalas pesan menunjukkan respek terhadap pengirim pesan. Orang tersebut menghubungi karena ada sesuatu keperluan. Membalas pesan juga menunjukkan perhatian atau kepedulian terhadap pesan dan pengirim pesan. Walau hanya tanggapan sederhana yang ditulis dengan bahasa sopan dan berempati, penerima pesan bisa menangkap unsur respek dan kepedulian dari tanggapan itu.