Adriani Sukmoro

Negeri Berjuta Dewa

Saya bertemu dengan Daljit di Hotel Gran Melia, hotel terdekat dari gedung Graha Aktiva di area Kuningan, Jakarta Selatan, menjelang tahun 2000. Bertemu dengannya untuk urusan wawancara. Saya berstatus kandidat, sementara Daljit berstatus Head of Human Resources American Express Bank (Amex), khusus untuk kantor cabang Amex yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan (Southeast Asia & South Asia). Amex beroperasi di Indonesia saat itu (kantornya di Graha Aktiva), sehingga HR Indonesia di bawah kepemimpinan Daljit.

Wawancara berbuah hasil positif, saya ditunjuk menjadi Human Resources Director Amex Indonesia.

HR Conference

Amex yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, menekankan sinergi dan komunikasi dalam proses kerja. Salah satunya dalam bentuk konferensi para pimpinan. Dari sekian perusahaan asing tempat saya bekerja, Amex merupakan satu-satunya organisasi yang memberi anggaran untuk penyelenggaran konferensi departemen. Hal itu membuat Daljit bisa mengadakan HR Conference setiap semester; 2 kali dalam setahun saya pasti mengikuti Southeast Asia & South Asia HR Conference di Amex.

Setelah beberapa tahun mengikuti kegiatan tersebut, saya menyadari, lokasi yang dipilih untuk konferensi hanya di seputar 3 negara: Singapura, Malaysia, Thailand. Daljit tak pernah memberi alasan jelas mengapa konperensi tak pernah dilakukan di Indonesia. Dugaan saya, isu terorisme dan masalah keamanan Tanah Air secara umum menjadi alasan utama.

Saya juga bertanya-tanya sendiri, mengapa konferensi tak pernah dilakukan di negara Asia Selatan? Bukankah separuh dari tenaga kerja HR yang berada di bawah supervisi Daljit berada di Asia Selatan, khususnya India? Selain memiliki bisnis kartu kredit dan corporate banking di India, Amex mendirikan Financial Resource Centre (FRC) di negara itu. FRC berfungsi sebagai pusat back-office yang mengurus hal-hal berkatian dengan keuangan bagi kegiatan operasional Amex di kawasan Asia Pacific.

Menimbang Daljit sendiri berasal dari Amex India sebelum ia dipromosikan ke posisi tingkat regional, saya pun menyiapkan strategi khusus.

Saat menemui Daljit di kantornya di Singapura untuk urusan penilaian kinerja akhir tahun, beliau memberi kesempatan bertanya kepada saya. Alih-alih bertanya, saya malah memberi usul: bagaimana kalau HR Conference di tahun berikutnya diadakan di India?

Saya melihat Daljit diam sejenak. “Let me think about it,” begitu jawaban beliau.

India

Ternyata, usulan dipertimbangkan Daljit. Pengumuman tentang jadwal HR Conference tahun berikutnya menunjuk New Delhi, India sebagai lokasi konferensi. Walau Daljit menyebut alasan mengadakan konfenrensi di India hanya karena pertimbangan keseimbangan jumlah peserta vs biaya konferensi, saya tahu ide itu berasal dari saya hahaha…

Waaah… betapa senangnya, saya belum pernah mengunjungi India! Kolega HR dari kawasan Asia Tenggara juga senang, mereka pun belum pernah ke India. Kesempatan mengunjungi negara yang sering disebut negeri berjuta dewa.

Saya mengenal India sejak masa kecil. Stasiun televisi yang terbatas di masa kecil sering memutar film-film India. Film-film India terus masuk ke pasar perfilman Tanah Air. Di tahun 1998 film Kuch Kuch Hota Hai membludak di pasar negeri asalnya India hingga ke belahan dunia lain, termasuk Tanah Air (hingga bertahun-tahun lamanya). Keuntungan besar diraih film itu. Saya termasuk di antara penonton Kuch Kuch Hota Hai. Film itu punya daya tarik: cerita romantis, pemandangan, musik yang enak didengar, tarian khas film India, kostum menarik. Akting pemainnya kuat, membuat saya ingat semua tokoh pemainnya.

Surprise surprise… Pengumuman susulan dikirim Daljit ke seluruh peserta konferensi. Beliau mengatur jadwal khusus untuk plesiran ke Taj Mahal yang berada di Agra. Kegiatan plesir dilakukan hari Sabtu, tak menggunakan hari kerja. Tak tanggung-tanggung, biaya plesir itu ditanggung perusahaan. Mungkin bagian dari anggaran team outing. Wow… sesuatu banget!

Langsung saja saya menghubungi kolega HR Director dari luar India. Mumpung ada kesempatan mengunjungi India, mengapa tidak sekaligus mengikuti tur dalam kota Delhi (city tour)?

Sambutannya lumayan. HR Director dari Singapura, Thailand, Malaysia, dan Korea tertarik bergabung. Kebetulan kesemuanya perempuan, HR ladies. Semua sepakat untuk memperpanjang waktu tinggal lebih lama demi Delhi city tour.

India Gate

Antusiasme mengunjungi India yang sudah dimulai saat menerima pengumuman tentang konferensi HR semakin bertambah saat saya terbang menaiki Singapore Airlines menuju India. HR Director Amex Singapura dan beberapa kolega HR dari kantor regional juga menaiki pesawat yang sama. Alhasil penerbangan menuju India menjadi ramai dengan kicauan kumpulan profesional HR Amex.

Tim penjemput telah siap saat rombongan tiba di Indira Gandhi International Airport, New Delhi. Waaah… kemacetan lalu lintasnya lumayan parah. Jakarta macet, tapi sepertinya kemacetan New Delhi lebih buruk. Mungkin karena ketibaan saat itu pas jam padat (rush hour).

Waktu lama di jalan terlupakan begitu masuk ke dalam kamar Hotel Taj Mahal, tempat konferensi diadakan dan tempat seluruh peserta menginap. Beruntung sekali, pemandangan India Gate terhampar, bisa saya lihat dari kaca jendela kamar hotel. India Gate merupakan salah satu landmark kota New Delhi, monumen yang dibangun untuk memperingati tentara India yang meninggal selama peperangan melawan Inggris dalam Perang Dunia I.

Selama masa konferensi, saya sengaja duduk di kursi dekat jendela kamar hotel sebelum tidur di malam hari, menikmati pemandangan India Gate. India Gate terlihat berwarna-warni akibat pencahayaan dari air mancur yang berada di sekelilingnya; membuat monumen itu semakin menarik di malam hari.

Tandoor

Tim HR Amex India terlihat berusaha keras menjadi tuan rumah yang baik. Tak puas dengan menyuguhkan berbagai makanan lokal selama konferensi berlangsung di Hotel Taj Mahal, tuan rumah membawa rombongan peserta ke restoran Bukhara yang berada di lokasi berbeda, di dalam Hotel ITC Maurya.

Apa keistimewaan restoran itu? Bukhara menghidangkan makanan yang dimasak di tandoor, sejenis oven tradisional berbentuk silinder yang terbuat dari tanah liat dan berbentuk seperti gua kecil. Tandoor digunakan untuk memanggang roti, daging, dan sayuran. Cara masak seperti itu biasa ditemukan di India, Pakistan, dan negara-negara Asia Tengah. 

Saya cukup terkesan melihat tempat memasak tandoor yang dibiarkan terbuka untuk dilihat pengunjung. Bahkan menjadi sarana menjelaskan kekhasan tradisi memasak di negeri itu.

Masakan yang dimasak dalam tandoor disebut tandoori. Cukup banyak tandoori yang terhidang di meja. Ada roti pipih yang disebut ‘naan’ dan ada roti yang disebut ‘roti’ oleh penduduk setempat. Bedanya, ‘naan’ roti beragi, sementara ‘roti’ tanpa ragi. Saya suka naan, kulit luarnya agak crispy, sementara dalamnya lembut dan empuk. Saya juga mencicipi kebab, dal berbentuk sup kacang-kacangan, dan beberapa makanan lokal lainnya. Terus terang saya bukan penggemar makanan India. Bumbu makanan sangat terasa, mungkin karena makanan itu dimasak dengan suhu tinggi dalam tandoor.

Suasana cukup ramai saat makan malam di Bukhara. Selain penuh pengunjung, tim tuan rumah penuh canda, setiap meja diisi tawa sambil makan menggunakan tangan. Tak ada peralatan makan seperti sendok, garpu, dan pisau. Memang begitu tradisi makan orang India, yang dipraktikkan di restoran Bukhara. Setiap tamu diberi celemek (apron) guna menghindari makanan jatuh ke baju, khususnya mereka yang tak terbiasa makan dengan tangan. Tak masalah bagi saya, biasa makan dengan tangan di restoran Padang hahaha…

Dengan bangganya salah satu kolega tuan rumah menjelaskan, Bill Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat, menikmati makan malam di Bukhara saat kunjungan dinas ke India. Bahkan meja tempat rombongan peserta konferensi duduk adalah meja-meja yang digunakan Bill Clinton dan rombongannya saat makan malam di Bukhara.

Lebih seru lagi ketika ada yang mengatakan, Bill Clinton duduk di meja itu saat skandalnya dengan Monica Lewinsky mencuat ke permukaan dan disiarkan melalui televisi. Saya percaya cerita itu saat itu, tapi beberapa waktu kemudian saya sadar, Bill Clinton sedang berada di negara lain (bukan India) saat kasus tersebut muncul. Hahaha… saya dan beberapa kolega HR lainnya terkena keisengan tuan rumah.

Saya merasa beruntung dibawa makan malam di Bukhara. Restoran itu sangat terkenal di New Delhi, banyak kepala negara (Putin dan Donald Trump di antaranya) dan para celebrity yang menjadi tamu di sana. Reservasi untuk mendapatkan meja perlu dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Jadi kebayang kan usaha keras tuan rumah untuk memberikan yang terbaik bagi peserta HR conference?

Agra Fort

Konperensi telah selesai di hari Jum’at. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Di hari Sabtu pagi yang cerah seluruh peserta konferensi naik ke dalam bus yang siap membawa rombongan ke Taj Mahal di Agra. Perjalanan memakan waktu 4 jam, diselingi dengan mampir di Benteng Agra (Agra Fort).

Agra Fort merupakan peninggalan dinasti Mughal yang memerintah India sekitar 331 tahun. Agra Fort ini terletak di Agra, kota yang sama di mana Taj Mahal didirikan. Di masa itu Agra merupakan ibukota pemerintahan dinasti Mughal, sebelum dipindahkan ke Delhi.

Saya melihat Agra Fort unik, keseluruhan dinding benteng itu berwarna merah karena konstruksi bangunannya menggunakan pasir merah (red sandstone). Agra Fort bukan sekadar benteng. Di dalamnya terdapat kompleks tempat tinggal dinasti Mughal selama beratus tahun. Bangunan istana, taman, gedung pertemuan, dan masjid ada di dalam Agra Fort. Dinasti Mughal menganut agama Islam walau memerintah populasi yang mayoritas beragama Hindu.

Kaisar Shah Jahan, salah seorang kaisar selama pemerintahan dinasti Mughal, yang membangun Taj Mahal, tinggal di dalam Agra Fort. Ironisnya, ketika ia menua dan jatuh sakit, anak-anaknya saling berebut kekuasaan. Salah satu putranya yang memenangkan pertikaian justru menempatkan Shah Jahan sebagai tahanan rumah di dalam Agra Fort.

Nilai sejarah yang dikandung dan desain arsitektur Agra Fort yang menarik, membuatnya menjadi situs warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage site).

Makam Mewah

Taj Mahal kurang lebih berarti Istana Mahal. Pantas disebut demikian karena makam yang dibangun Kaisar Mughal Shah Jahan untuk mengenang istrinya, Mumtaz Mahal, sangat mewah bak istana. Mumtaz Mahal meninggal di usia 38 tahun, saat melahirkan anak mereka yang ke-14. Makam Shah Jahan juga berada di dalam Taj Mahal, disemayamkan di sisi istrinya setelah meninggal dunia.

Keindahan, kemewahan, dan desain arsitekturnya membuat makam itu sangat terkenal, masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site. Konstruksi makam itu selesai dibangun selama 16 tahun, dari tahun1632 hingga 1648. Sementara bangunan di seputarnya serta taman yang mengelilingi baru selesai secara keseluruhan tahun 1653.

Rombongan tiba di Taj Mahal setelah matahari muncul, sehingga saya tidak mendapat pengalaman seperti cerita putri sulung dan suaminya yang khusus mengunjungi India demi melihat Taj Mahal. Mereka melihat Taj Mahal sebelum matahari terbit. Apa yang tampak? Ketika matahari muncul perlahan, terjadi transformasi cahaya keemasan lembut pada dinding marmer putih makam akibat pantulan sinar matahari. Berulang kali putri sulung mengeluarkan pujian atas pemandangan Taj Mahal saat sunrise. Suasana Taj Mahal yang masih sepi sepagi itu juga memberi kenyamanan, bisa berfoto sepuas mungkin tanpa terganggu turis yang hilir mudik.

Walau sudah menjelang siang hari, saya dan peserta konferensi tetap menikmati pemandangan Taj Mahal. Dinding marmer putih menjadi ciri khas makam mewah itu, seperti yang terlihat dari miniatur Taj Mahal yang saya beli di sana. Miniatur itu masih tersimpan rapi di lemari pajangan di rumah.

Saya jadi teringat foto Putri Diana duduk di salah satu bangku di halaman Taj Mahal. Foto itu sangat indah, berlatar belakang makam mewah bermarmer putih, diambil bulan Februari 1992. Bertolak belakang dengan Taj Mahal yang menjadi simbol cinta luar biasa seorang suami kepada istri, Putri Diana justru datang sendirian ke Taj Mahal, fotonya mengesankan seorang istri yang kesepian. Pangeran Charles yang mengunjungi India bersamanya, memilih menghadiri pertemuan bisnis di Bangalore daripada menemani istrinya menikmati pemandangan Taj Mahal.

Sikh

Berhubung Daljit penganut agama Sikh, mengunjungi kuil Sikh dimasukkan dalam agenda saat kelima HR ladies dari Korea, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia mengikuti city tour di hari ekstra menginap di New Delhi.

Berkat penjelasan tour leader, saya jadi mengerti mengapa Daljit mengenakan turban. Bukan sembarang turban, ada rambut panjang di balik turban kaum laki-laki Sikh, sebagai simbol sakral agama Sikh. Saya juga melihat Daljit mengenakan gelang besi di pergelangan tangannya. Dikatakan gelang besi melambangkan keabadian Tuhan dan ikatan dengan komunitas Sikh.

Walau tour leader yang mendampingi rombongan tak menjelaskan peristiwa yang menimpa Indira Gandhi, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri India; saya ingat betul berita yang saya tonton dari televisi di masa kecil. Indira Gandhi dibunuh pengawalnya, seorang penganut Sikh, di bulan Oktober 1984. Pembunuhan itu dianggap sebagai upaya balas dendam kaum Sikh atas Operation Bluestar, operasi militer yang dilakukan pemerintah India terhadap Golden Temple di Amritsar untuk mengusir kaum militan yang bertahan di dalam kuil. Golden Temple merupakan kuil yang sangat suci bagi kaum Sikh. Penyerangan militer membuat kuil itu rusak dan memakan banyak korban; berbuntut kemarahan komunitas Sikh.

Kedua pengawal Sikh yang membunuh Indira Gandhi memakai turban dan bermarga Singh, persis seperti Daljit. Saya tak berani mengungkit kasus itu, baik kepada Daljit maupun selama city tour. Masalah politis, pasti sensitif. Apalagi ribuan kaum Sikh dibunuh militer India menyusul kematian Indira Gandhi.

City Tour

Selain kuil Sikh, rombongan tour diajak mampir ke Lotus Temple yang terletak di tanah luas (lebih dari 100.000 meter persegi) di New Delhi. Kuil itu tempat ibadah agama Bahai. Walau populasi umatnya hanya sekitar 2 juta orang (minoritas), namun Lotus Temple yang berbentuk bunga teratai raksasa cukup unik, menjadi salah satu ikon kota New Delhi yang banyak dikunjungi turis.

Tak lupa diajak ke Secretariat buildings, melihat kompleks gedung pemerintahan, termasuk kantor Perdana Menteri India. Hanya melihat dari seputaran saja, akses ke Secretariat buildings tak terbuka untuk umum.

Tour leader sengaja membawa rombongan HR ladies ke Chandni Chowk, pusat perbelanjaan dan kuliner di Delhi. Katanya harga lebih murah untuk beli oleh-oleh di pasar ramai itu. Kolega dari Singapura dan Korea Selatan tampak bersemangat sekali menelusuri pasar dengan gang-gang sempit, dipenuhi toko-toko yang menjual berbagai macam barang seperti pasar di Tanah Air. Mungkin pengalaman belanja di gang-gang sempit, berdesakan dengan orang banyak, dan mencicipi makanan sambil menikmati suasana pasar menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mereka, sementara saya hanya bisa tersenyum kecut. Di Jakarta menghindari masuk ke dalam pasar, eh di Delhi malah diajak ke pasar…

Saya membeli kalung dan anting khas India, model seperti itu tak bisa ditemui di Tanah Air. Walau berhadapan dengan penjual di pasar, mereka bisa berbahasa Inggris. India memang bekas jajahan Inggris, bahasa Inggris masih digunakan setelah India mendapat kemerdekaannya. Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi dalam berbagai praktik sehari-hari.

Agama Hindu yang dianut mayoritas rakyat India memiliki banyak dewa, membuatnya disebut negeri berjuta dewa. Setelah kembali ke Tanah Air, saya mengirim email ke Daljit. Berterima kasih telah memungkinkan saya dan peserta HR conference dari luar India menginjak negeri berjuta dewa.

Kenangan yang tertinggal selain kisah di atas? Ketika rombongan konferensi HR dibawa ke kantor FRC, satu per satu peserta mendapat kalungan mala, rangkaian bunga khas India yang sering terlihat di film-film Bollywood. Lalu ‘bindi’ berwarna merah ditempelkan di dahi setiap peserta perempuan. Bindi itu titik yang sering terlihat di dahi perempuan India, dikaitkan dengan agama Hindu. Bindi diletakkan di dahi karena dahi merupakan cakra keenam, pusat energi dan intuisi.

Sepanjang hari itu saya biarkan Bindi melekat di dahi. Simbol yang berarti baik: perlindungan dari nasib buruk.