
Logo kemerdekaan diluncurkan menjelang bulan Agustus setiap tahun. Logo kemerdekaan berperan sebagai simbol komunikasi visual, elemen pemersatu segenap warga negeri ini. Dengan satu logo yang sama, semangat nasionalisme dan kebanggaan sebagai bangsa bisa terpancar secara seragam di seluruh Indonesia.
Logo kemerdekaan tahun 2025 menampilkan angka 80, menandakan negeri ini telah merdeka selama 80 tahun. Di samping angka 80 tertera kata-kata “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”.
Jarak Emosional
Para pejuang kemerdekaan, generasi baby boomer, dan generasi X, dianggap dekat dengan sejarah kemerdekaan. Mereka lahir dan dibesarkan dekat dengan tahun-tahun negeri ini bergerak membangun bangsa; mulai dari era proklamasi kemerdekaan RI, pemerintahan Presiden Soekarno, hingga Presiden Soeharto.
Perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan tercatat dalam sejarah. Generasi muda masa kini mempelajarinya melalui pelajaran sejarah di sekolah. Jarak antara tahun mereka lahir dan dibersarkan (terutama generasi Z) semakin jauh dari tahun kemerdekaan. Generasi muda mungkin saja melihat kemerdekaan sesuatu yang sudah ada, bukan sesuatu yang diperjuangkan.
Nilai-nilai sejarah bisa menjadi kurang relevan dalam kehidupan sehari-hari gen Z. Akibatnya, bisa terjadi jarak emosional antara sejarah dan gen Z, mereka merasa kurang terhubung dengan makna kemerdekaan.
Sarjana Pengangguran
Tagar #KaburAjaDulu mulai ramai digunakan di media sosial, khususnya di platform X, pada Desember 2024. Awalnya, tagar ini digunakan untuk forum diskusi terkait peluang kerja dan pendidikan di luar negeri, namun kemudian berkembang menjadi ungkapan kekecewaan terhadap kondisi ekonomi, politik, dan sosial di negeri ini.
Istilah “Kabur Aja Dulu” menjadi populer di kalangan generasi muda. Bisa saja orang beranggapan, tagar #KaburAjaDulu merupakan bentuk protes generasi muda, yang menganggap kebijakan pemerintah atau kondisi negara tidak ideal. Tagar itu menjadi wadah menyuarakan rasa frustrasi dengan kondisi yang ada, terbersit harapan mencari peluang dan kehidupan yang lebih baik di negara lain.
Sebagian dari generasi muda itu mengalami tantangan mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan kesarjanaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tercatat 425.042 sarjana pengangguran pada Februari 2013 (sekitar 5.87% dari total penganggur), sementara ada 842.378 sarjana pengangguran pada Desember 2024 (sekitar 11.28% dari total penganggur). Persentase sarjana pengangguran tahun 2024 meningkat dua kali lipat dari satu dekade sebelumnya.
Situasi di atas turut menjadi kontributor kekecewaan generasi muda pada kondisi negeri, dan terdorong memilih “kabur”. Mereka jadi bertanya, Indonesia sudah merdeka, tapi merdeka untuk siapa?
Akses Teknologi
Ketika generasi muda melihat berbagai ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan sosial dalam realitas kehidupan rakyat; mereka bisa merasa “terasing” dari makna kemerdekaan. Kemajuan teknologi memungkinkan mereka membandingkan keadaan negeri sendiri dengan negara tetangga, bahkan negara di belahan dunia lain yang lebih maju dan makmur.
Ketika generasi muda merasa putus asa kesulitan mendapat pekerjaan di negeri sendiri, kemajuan teknologi memudahkan mereka mengakses informasi tentang peluang di negeri orang. Siapa yang tak tergiur melihat kesempatan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tempat lain?
Ketika generasi muda melihat kurangnya keteladanan para pemimpin, pemimpin negeri jauh dari rakyat, dan korupsi merajalela di berbagai elemen pemerintahan; generasi muda bisa kehilangan rasa hormat dan bersikap skeptis terhadap perayaan kemerdekaan. Jangan-jangan mereka memandang peringatan hari kemerdekaan sebagai sekadar hari libur nasional.
Lebih jauh lagi, akses teknologi bisa membuat generasi muda lebih tertarik pada budaya asing atau isu-isu global, kurang terlibat secara emosional dengan perkembangan dan permasalahan di dalam negeri.
Arti Kemerdekaan
Kemerdekaan diraih melalui perjuangan fisik dan pengorbanan para pahlawan. Namun, seiring waktu berjalan, makna kemerdekaan mengalami pergeseran sejalan dengan perubahan zaman.
Bagi gen Z yang lahir di era digital dan tumbuh bersama teknologi, arti kemerdekaan tidak lagi terbatas pada perjuangan fisik. Kemerdekaan mencakup kebebasan berpikir dan berekspresi; menyuarakan siapa diri mereka melalui media sosial, karya seni, pilihan karier yang tidak konvensional. Kemerdekaan juga berarti bebas dari keterbatasan akses; termasuk dalam hal pengetahuan, peluang kerja, dan kesempatan berkembang. Dan yang lebih penting lagi, mereka ingin kehidupan yang lebih baik dan nyaman sesuai aspirasi generasi muda.