
Hierarki dalam organisasi tergambar dalam struktur yang mengecucut ke atas, seperti bentuk piramida. Bagian bawah lebih lebar, lebih banyak karyawan yang berada pada posisi di level bawah. Bagian paling atas yang mengerucut itu diisi posisi pemimpin organisasi: Chief Executive Officer (CEO), Presiden Direktur, Menteri, Kepala Badan, dan lain-lain.
Giliran Bicara
Seorang karyawan membina karier di perusahaan asing selama beberapa tahun lamanya. Karyawan itu terbiasa memanggil nama kecil karyawan lainnya, tanpa memandang posisi jabatan mereka. Kebiasaan itu bukan muncul dari inisiatif pribadi karyawan tadi. Memang begitulah kebiasaan di perusahaan asing tersebut, memanggil dengan nama kecil menjadi bagian dari praktik sehari-hari. Karyawan saling mengetahui nama kecil dari dari mulut ke mulut, atau bisa juga dari surel yang dikirimkan karyawan bersangkutan dalam komunikasi internal.
Kebiasaan memanggil karyawan dengan nama kecil tanpa melihat jabatan menjadi bagian dari budaya organisasi. Praktik sedemikian dianggap mengurangi hubungan kerja yang bersifat formal atau kaku; mendorong komunikasi terbuka, dan menggalakkan kesetaraan. Kesetaraan dalam organisasi memudahkan terjadinya perlakuan yang adil dan melibatkan siapa pun tanpa kecuali. Perbedaan kepangkatan atau level antar atasan-bawahan dianggap bisa diperkecil dengan memanggil nama kecil karyawan setiap kali berkomunikasi.
Di satu titik perjalanan karier, karyawan perusahaan asing tadi beralih dari dunia korporasi swasta asing ke dunia birokrasi (lembaga pemerintah). Perbedaan pertama yang dialaminya, sebutan ‘Bapak’ dan ‘Ibu’ digunakan sebagai sapaan resmi dalam lembaga pemerintahan. Ada nuansa hormat dan formalitas yang terkandung di dalamnya. Di balik itu, panggilan hormat sedemikian membuat jarak, diperlukan tata krama dalam interaksi sosial di kantor.
Di suatu kesempatan, karyawan tadi bersama 2 pejabat tinggi lembaga tempatnya bekerja, bertugas memberi pengarahan di kantor wilayah yang terletak di salah satu ibukota propinsi. Rombongan terbang dari kantor pusat Jakarta ke ibukota propinsi itu, khusus menyampaikan beberapa masukan penting berkaitan dengan program yang sedang dijalankan lembaga pemerintahan tersebut.
Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) setempat memberi kesempatan bicara kepada ketua rombongan tim dari kantor pusat. Selanjutnya kesempatan bicara diberikan kepada anggota tim kantor pusat lainnya. Tanpa berpikir panjang, mantan karyawan perusahaan asing tadi mengambil kesempatan itu untuk menyampaikan materi.
Beberapa hari kemudian, ia melihat perubahan sikap dari pejabat tinggi yang bicara paling akhir dari rombongan di atas. Beliau yang biasanya ramai berbicara, selalu ada topik pembicaraan yang dibahas; terlihat bersikap dingin, tidak banyak bicara. Mengapa terjadi perubahan sikap?
Setelah mengamati situasi, karyawan tadi baru menyadari, telah terjadi kesalahan yang tak dapat dianggap enteng. Giliran berbicara faktor penting dalam dunia birokrasi. Pejabat tinggi tersebut berpendapat, beliau lah yang seharusnya menjadi pembicara kedua, bukan seseorang yang berasal dari dunia swasta dan berstatus sebagai Advisor.
Karyawan itu mendapat pelajaran berharga. Ia melakukan kesalahan akibat kurang menyadari kuatnya birokrasi, termasuk dalam giliran bicara. Tingkat posisi dan jabatan perlu diperhatikan, perlu memberi kesempatan kepada pejabat yang mungkin merasa berpangkat lebih tinggi.
Zoom Meeting
Di suatu perusahaan swasta, rapat yang melibatkan beberapa departemen dari berbagai domisili kantor diadakan melalui platform zoom. Menjelang jam zoom meeting, beberapa karyawan level menengah hadir dan saling menyapa.
Tak lama kemudian seorang karyawan yang memimpin departemen bergabung di layar zoom. Ia tidak menyapa, mematikan suara (mute), dan tidak mengaktifkan kameranya. Peserta yang telah hadir tak berani menyapa, takut mengganggu pemimpin departemen tersebut. Setelah pemimpin departemen lainnya bergabung, barulah ia menampilkan diri dan menyapa para pemimpin departemen tersebut.
Kesan apa yang terlihat dari situasi di atas? Orang bisa saja beranggapan, pemimpin departemen itu hanya mau berkomunikasi dengan karyawan yang dianggap selevel dengannya.
Dalam dunia kerja, keadaan seperti di atas bisa saja terjadi dalam interaksi sosial di kantor. Beberapa karyawan memilih berbicara dengan kolega yang selevel atau yang berada di level lebih tinggi. Secara sadar atau tidak sadar, karyawan ‘pemilih’ itu mengabaikan karyawan yang berada di level yang lebih rendah darinya.
Kecenderungan mengabaikan karyawan yang berada di level lebih rendah bisa menimbulkan kesan tak menghargai atau tak menghormati orang lain. Perilaku sedemikian cenderung melemahkan semangat kerjasama, kolaborasi, dan bisa saja membuat budaya kerja yang tak sehat.
Level Conscious
Ada saja orang yang mementingkan status, jabatan, kepangkatan, level, hierarki, ranking dalam berinteraksi, termasuk dalam interaksi di dunia kerja. Julukan level conscious diberikan pada orang-orang itu.
Level conscious bisa memiliki sisi positif. Orang tersebut terdorong untuk meningkatkan diri dan kemampuannya, berusaha menampilkan diri terbaik mereka. Namun masalah muncul jika level conscious mengambil alih jati diri seseorang, membuatnya tak memandang orang lain sebagaimana seharusnya. Mereka bisa saja di-cap sebagai pemimpin sombong.
Orang-orang yang memiliki level conscious cenderung mengukur keuntungan dari suatu hubungan. Mereka mau membina hubungan baik dengan orang-orang yang dianggap bisa membawa keuntungan untuk karier, usaha bisnis, peningkatan status diri karena berada dalam lingkup pergaulan tertentu. Hubungan mereka dengan orang lain lebih didasarkan atas strategi pemanfaatan, bukan hubungan sosial yang sesungguhnya (tanpa pamrih).