Adriani Sukmoro

Hamburg

Tak banyak tempat di negara Jerman yang masuk dalam itinerary paket tur Eropa Barat yang saya ikuti di suatu kesempatan libur keluarga. Hanya mampir di Munich, yang dikenal dengan acara tahunan Oktoberfest, festival bir yang berlangsung selama 16 hari. Munich juga dikenal sebagai kota kantor pusat BMW yang memproduksi mobil kelas atas. Jerman menjadi tak menonjol, destinasi wisata negara Eropa Barat lainnya lebih melekat di kepala usai menyelesaikan tur tersebut.

Namun, berpuluh tahun kemudian, perusahaan tempat saya bekerja dipimpin seorang CEO berkebangsaan Jerman. Gaya kepemimpinannya cenderung menekan, sangat memperhatikan hal-hal kecil, membuat keingintahuan tentang negara Jerman muncul.

Kereta Hidrogen

Di tahun 2019 lalu, suami saya perlu melakukan kunjungan kerja ke Hamburg, Jerman Barat. Perusahaan yang dipimpinnya, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), sedang mempelajari kemampuan Coradia iLint, kereta hidrogen pertama di dunia yang dibangun oleh Alstom, perusahaan multinasional asal Prancis, dengan pembiayaan dari pemerintah Federal Jerman.

Kereta hidrogen dipertimbangkan banyak pihak karena dianggap ramah lingkungan. Kereta tersebut menggunakan elektrifikasi melalui proses kombinasi hidrogen dan oksigen sehingga tak mengotori alam; emisi yang dikeluarkan adalah air. Hidrogen yang digunakan berasal dari bahan baku sumber-sumber energi berkelanjutan seperti energi angin dan matahari.

Walau sudah pernah menginjak Jerman (mampir di Munich), keingintahuan tentang negara itu membuat saya sengaja ikut mendampingi suami mengunjungi Hamburg.

Bandara

Orang-orang Jerman menyebut bandara di kota Hamburg dengan Flughafen Hamburg. Namun, para turis atau pendatang lebih mengenalnya sebagai Hamburg Airport Helmut Schmidt. Nama mantan Kanselir Jerman Barat, Helmut Schmidt, diabadikan di bandara itu sejak November 2016.

Mata saya langsung memandang ke arah langit-langit bandara setelah mendarat di Hamburg. Atap bandara itu menarik perhatian. Gaya arsitekturnya menarik. Terkesan moderen dan tak umum, belum pernah melihat langit-langit bandara seperti itu. Pikiran langsung menduga, desain atap bandara itu erat hubungannya dengan kepiawaian Jerman di bidang teknik. Jerman memang dikenal dengan kemajuan teknologi dan penyelenggaraan pendidikan teknik berkelas dunia; khususnya bidang otomotif dan teknik mesin.

Atap bandara itu dibangun dengan desain atap melengkung (sweeping roof) yang bersumber dari inspirasi sayap pesawat terbang. Cahaya masuk dari celah-celah tembus pandang di atap melengkung itu. Cahaya alami sedemikian mengurangi penggunaan cahaya buatan atau cahaya listrik. Langit-langit logam melengkung membantu mendistribusikan cahaya alami secara merata ke seluruh terminal. Ruang bandara yang luas serta pencahayaan alami membuat pemandangan Hamburg Airport Helmut Schmidt terlihat moderen, rapi, dan menarik.

Kota Pelabuhan

Saya beruntung bisa menghabiskan satu hari penuh jalan-jalan seputar Hamburg ditemani 2 orang istri pegawai Konsulat RI yang bertugas di kota itu.

Hamburg tercatat sebagai kota kedua terbesar di Jerman Barat. Walau bukan destinasi wisata utama, namun Hamburg dikenal sebagai kota pelabuhan yang menyimpan sejarah. Kedua istri pegawai Konsulat RI tadi membawa saya melihat-lihat area pelabuhan. Suhu udara agak dingin saat itu, jaket harus dipakai.

Container kapal yang besar terlihat di sudut-sudut pelabuhan. Saya juga melihat distrik pergudangan (warehouse district) yang dinamakan Speicherstadt. Banyak turis memanfaatkan wisata air Hamburg dengan menaiki kapal tradisional barkas (Barkasse dalam bahasa Jerman), melintasi jalan-jalan sepanjang Speicherstadt. Biasanya kapal barkas memulai penelusuran air dari Pelabuhan Überseebrücke. Turis bisa melihat bangunan-bangunan yang berdiri dengan tiang pancang kayu berbentuk silinder selama perjalanan barkas, didirikan sebagai penopang atau pondasi struktur bangunan. Gudang-gudang sepanjang Speicherstadt itu masuk dalam situs warisan dunia UNESCO (UNESCO World Heritage Site).

Saya melihat banyak kanal, sungai, jembatan di area pelabuhan dan sepanjang perjalanan. Tercatat keberadaan lebih dari 2500 jembatan di Hamburg, menjadi kota dengan jembatan terbanyak di benua Eropa. Hamburg memang dilintasi Sungai Elbe dan anak sungainya (yang mungkin menjadi penyebab banyaknya jembatan di kota itu), dan terhubung dengan Laut Utara. Pemandangan kota itu tak lepas dari keberadaan air di sana sini.

Untuk merasakan makanan penduduk setempat, saya dibawa mampir ke salah satu kios yang berada di tepi jalan (street food). Ada beberapa pilihan makanan yang bisa dicoba: Fischbrötchen (sandwich berisi ikan), Labskaus (sejenis makanan mengandung buah bit merah), Franzbrötchen (roti manis), dan Currywurst (sosis panggang). Untuk urusan makanan, saya bukan tipe orang yang bisa mencoba apa saja. Kekhawatiran terjebak rasa tidak enak dan bisa terkesan tak menghargai makanan lokal, saya mencari aman, memilih Currywust. Istri pegawai konsultat tadi tampak sudah terbiasa dengan cita rasa makanan lokal, mereka menyantap makanan yang dipilih dengan cepat dan menikmatinya. Sementara saya berusaha menikmati Currywurst walau rasanya kurang mengena di lidah.

Jalan-jalan hari itu ditutup dengan makan siang di restoran Thai. Sengaja dipilih meja dengan pemandangan laut yang indah. Sepertinya gampang mencari makanan di Hamburg, banyak keberadaan café di kota itu.

Lokasi Strategis

Saat berjalan-jalan seputar pelabuhan Hamburg, saya melihat gedung dengan logo Unilever di bagian atasnya (atap). Gedung itu dinamakan Unilever-Haus, terletak di distrik HafenCity, dekat pelabuhan Hamburg. Bentuk bangunannya moderen, berstruktur futuristik, terlihat kaca dan logam digunakan di bangunan itu. Gedung itu digunakan Unilever sebagai kantor pusatnya di Hamburg. Desain arsitektur bangunannya yang unik membuat gedung itu mendapat beberapa penghargaan, salah satunya penghargaan The World Architecture Festival Award 2009.

Kehadiran kantor Unilever di Hamburg menandakan pentingnya kota itu di peta dunia bisnis. Lokasi Hamburg dan pelabuhan yang dibangun di kota itu dianggap strategis, menjadi hub dari kegiatan operasi bisnis di benua Eropa.

Lokasi strategis membuat beberapa negara mendirikan kantor konsulat di Hamburg, termasuk Indonesia. Tujuannya untuk kepentingan ekonomi, perdagangan bilateral, investasi, dan promosi ekspor; serta bisa mencakup wilayah lebih luas di Jerman bagian Utara.

Produk Berkualitas

Produk keluaran Jerman dikenal berkualitas tinggi. Siapa yang tak kenal produk mobil mewah dari Jerman seperti Mercedes-Benz, BMW, Audi, Porsche, Volkswagen? Produk otomotif itu mempunyai segmen pasar sendiri, yang bertahan hingga saat ini. Perusahaan Bosch asal Jerman juga dikenal dengan produk elektroniknya yang berkualitas tinggi. Sepatu Adidas dan Puma yang dipakai banyak atlet karena kualitasnya juga berasal dari Jerman.

Keberhasilan perusahaan-perusahaan Jerman meluncurkan produk berkualitas tak lepas dari budaya kerja yang terpateri pada sumber daya manusianya. Budaya kerja Jerman menekankan pada profesionalisme, ketekunan, ketepatan waktu, efisiensi, dan cara kerja berstruktur. Perusahaan Jerman sering melakukan perencanaan yang teliti, komunikasi yang jelas, dan fokus pada hasil (results-driven mindset).

CEO Jerman yang pernah saya hadapi di perusahaan tempat bekerja dulu menerapkan cara kerja seperti di atas. Keinginan untuk mendapatkan hasil sempurna membuat CEO itu mengurusi hal-hal kecil, sering kali terjun langsung untuk hal-hal yang seharusnya ditangani departemen bersangkutan. Tak jarang dalam tindakannya itu, CEO Jerman tersebut bersikap menyerang, membuat sebagian karyawan merasa disudutkan.

Mungkin karena itu timbul guyonan tentang orang Jerman di media. Mengapa orang Jerman menghasilkan produk berkualitas tinggi? Jawabannya: karena mereka tak perlu bersikap ramah saat bekerja.