

Ketika masih kecil, orang tua saya selalu membawa keluarganya ke Danau Toba saat liburan sekolah. Pemandangan Danau Toba yang menakjubkan membuat liburan sekolah yang terjadi dua kali dalam setahun ditunggu-tunggu seisi rumah. Kegiatan berenang yang disukai seisi keluarga bisa dilakukan seharian saat menginap di rumah peristirahatan di tepi Danau Toba. Keriaan selama liburan itu membuat saya berpikir, alangkah senangnya jika bisa memiliki rumah dekat dengan danau atau laut.
Pindah Tugas
Putri sulung menikah dengan seorang perwira angkatan laut Amerika Serikat. Sesuai kebijakan angkatan laut, putri sulung dan keluarganya harus pindah tempat tinggal setiap beberapa tahun, mengikuti ke mana rotasi tugas suaminya. Biasanya perpindahan itu setiap 2 atau 3 tahun.
Rotasi tugas dalam kemiliteran bertujuan untuk pelatihan, pengembangan karier, dan peningkatan keterampilan. Rotasi sedemikian membuat para perwira memperoleh beragam pengalaman, mencegah rasa jenuh, menjaga keseimbangan tenaga kerja, serta memungkinkan kemajuan karier dengan memenuhi persyaratan pelatihan dan kepemimpinan tertentu.
Setiap kali menempati pos baru, saya selalu mengunjungi kediaman keluarga putri sulung di Amerika. Kunjungan terakhir ke rumah mereka di Panama City Beach, negara bagian Florida.
Mendekati tahun ke-3 tinggal di Panama City Beach, putri sulung mengabarkan rencana perpindahan mereka selanjutnya. Kali ini mereka akan pindah ke Everett yang terletak di negara bagian Washington.
Everett menjadi pangkalan angkatan laut Amerika karena lokasinya strategis, berperan sebagai pelabuhan utama bagi satuan tempur laut, termasuk akses langsung ke Samudra Pasifik tanpa masalah pasang surut atau hambatan lainnya.
Saya pernah mendengar nama kota Everett ketika putri sulung kuliah di Auburn, yang letaknya di negara bagian Washington juga. Pabrik Boeing yang besar terdapat di Everett. Keberadaan pabrik Boeing di Everett tentu membawa dampak positif bagi perekonomian kota itu. Prototipe pesawat Boeing 747 diberi sebutan City of Everett; peluncurannya menjadi peristiwa besar bagi kota Everett.
Pemandangan Laut
Ketika sudah pindah ke Everett, putri sulung mengundang saya berkunjung ke rumahnya. Namun, kondisi anggota keluarga yang perlu mendapat perawatan medis khusus di Jakarta membuat saya tak membuat rencana bepergian.
Hingga beberapa tahun kemudian, putri sulung mengabarkan, mereka akan pindah ke kota lain tahun depan (2026), sejalan dengan promosi jabatan suaminya. Ia mengingatkan, sebaiknya mengunjungi Everett tahun 2025 ini mumpung mereka belum pindah.
Akhirnya saya terbang jauh, menapakkan kaki di Everett. Saat kendaraan memasuki kota Everett, saya melihat pemandangan laut dari dalam mobil di titik-titik tertentu.
Putri sulung dan keluarganya selalu memilih tempat tinggal yang dekat dengan pangkalan angkatan laut (naval base) agar jarak tempuh ke kantor tak terlalu jauh. Namun rumahnya tak pernah berada dekat laut selama ini.
Saya menjadi takjub ketika kendaraan memasuki Sound Avenue, jalan di mana rumah putri sulung berada. Pemandangan laut terhampar luas. Lebih takjub lagi saat memasuki ruang keluarga rumahnya. Dinding kaca yang lebar menampilkan pemandangan laut yang indah. Laut luas berwarna biru jernih, dipadukan dengan langit cerah berwarna biru. Seperti pemandangan yang sering terlihat dalam postcard. Pantas putri sulung dan suaminya membeli rumah itu. Di mana pun duduk di ruang keluarga, pemandangan laut bisa dinikmati dari balik kaca.
Saya pernah berpikir, memiliki rumah di pinggir laut berisiko. Bisa ada potensi bencana alam tsunami atau abrasi, kelembapan, korosi tinggi yang mempercepat kerusakan benda-benda, efek garam terhadap peralatan rumah, dan risiko banjir akibat hujan atau dampak kenaikan permukaan laut. Biaya asuransi bisa meningkat akibat kondisi itu.
Ternyata, dampak di atas tak terjadi di Everett. Air dari keran (tap water) bisa diminum langsung. Entah karena air keran itu bersumber dari air tawar yang diolah, atau air laut yang telah didesalinasi (diubah menjadi air tawar).
Port of Everett Marina
Saat akhir pekan, keluarga putri sulung membawa saya ke Jetty Landing Park yang berada di Pelabuhan Marina Everett (Port of Everett Marina). Ada taman bermain di sana, membuat warga lokal rajin membawa anak-anak mereka mengunjungi tempat itu.
Saat anak-anak bermain, saya mengamati kapal yang berjajar di tepi laut, tak jauh dari taman bermain. Ternyata ada area peluncuran kapal di Jetty Landing Park. Menarik juga melihat bagaimana kapal diluncurkan dari darat ke laut.
Kapal ditempatkan di atas trailer yang ditarik oleh mobil. Untuk menurunkan kapal ke laut, supir mengarahkan mobilnya berjalan mundur secara perlahan, menuruni ramp yang dibuat dengan permukaan miring. Ramp itu menjadi jalur lintasan kapal menuju laut. Supir terlihat berhati-hati menggerakkan mobilnya, demi menjaga agar trailer tetap lurus. Ketika sebagian badan kapal sudah mengapung, kapal dilepaskan dari trailer dan didorong perlahan ke air.
Saya melihat kapal-kapal itu terawat rapi. Biaya membeli kapal dan perawatannya pasti tidak murah. Hanya orang mampu secara finansial dan hobi plesir ke tengah laut yang mau menghabiskan uang untuk memiliki kapal. Apalagi saat dibawa ke sisi lain Port of Everett Marina, saya melihat area penyimpanan kering kapal (dry storage). Tentu mahal harus membayar dry storage itu.
Berkat penjelasan menantu yang perwira angkatan laut, saya baru mengerti bahwa kapal sebaiknya tersimpan di darat, demi menjaga lambung kapal tetap kering, yang akan memperpanjang umur kapal. Kapal yang dibiarkan terlalu lama mengapung di air laut bisa mengalami kerusakan lambung, korosi, dan gelembung osmotik (terutama kapal fiberglass).
Jika tadi saya melihat kapal diluncurkan dari darat ke laut, di area dry storage ini saya melihat proses pengangkatan kapal dari laut ke daratan, dan pencucian kapal sebelum dimasukkan ke dry storage.
Boulevard Bluffs Neighborhood
Menyadari saya hanya memiliki waktu singkat di Everett, sebelum penghuni rumah bangun, setiap pagi saya menyempatkan exercise, olahraga jalan kaki di seputar kawasan tempat tinggal keluarga putri sulung. Walau jarang terlihat orang di jalan di pagi menjelang matahari muncul, sangat aman berolahraga di Everett.
Selain pemandangan tepi laut yang indah, rumah-rumah yang saya lewati semuanya memiliki halaman luas yang terawat dan bangunan rumah yang menarik. Kawasan itu menunjukkan hunian warga kelas menengah ke atas. Suasananya tenang, bersih, ramah keluarga; lokasinya dekat dengan alam, tapi tak lepas dari fasilitas perkotaan.
Kawasan itu disebut Boulevard Bluffs, berada di atas tebing tinggi (bluff). Letaknya di antara Mukilteo Boulevard dan Highway 526 (Boeing Freeway).
Saat olahraga pagi hari, saya melihat Harbor’s Edge, apartemen tiga lantai di jalan utama, Mukilteo Boulevard. Letak jalan utama itu lumayan tinggi, memungkinkan mereka yang menyewa apartemen (terutama lantai 3 apartemen) mendapat pemandangan laut. Namun, ketinggian apartemen pasti mengganggu rumah-rumah yang berada di belakangnya, pemandangan pantai jadi terhalang bangunan apartemen yang tinggi.
Di suatu sore, saat jalan-jalan mengitari kawasan perumahan bersama keluarga putri sulung, terdengar keramaian di dalam rumah tetangga yang letaknya di sebelah rumah.
“Waduh, lupa, ada undangan kumpul-kumpul di rumah Von hari ini,” kata putri sulung.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil dari teras rumah itu. Langsung bisa dikenali dari paras wajah dan warna kulitnya, perempuan itu keturunan Asia.
“Come on in, Clarissa, Bill! We just start the gathering!” kata Von, si pemilik rumah, memanggil putri sulung dan suaminya.
Saya pun ikut keluarga putri sulung mampir ke rumah Von, bergabung dengan tamu-tamu lainnya yang sudah kumpul di rumah itu. Von yang berdarah Kamboja, terlihat gesit melayani para tamu. Ia menikah dengan pria Amerika yang bekerja di perusahaan Boeing di Everett.
Saya berasumsi, keramaian itu untuk merayakan ulang tahun anak penghuni rumah. Banyak anak-anak sedang bermain di dalam rumah, berbagai macam permainan anak berserakan di lantai. Makanan berat dan makanan ringan yang disediakan terasa enak semua. Belum terlalu terlambat hadir, karena acara tiup lilin dilakukan kemudian.
Setelah beberapa saat saya baru diberitahu, acara kumpul-kumpul itu untuk merayakan keberhasilan warga Boulevard Bluffs memenangkan petisi yang diajukan kepada City Council.
Petisi itu berisi keberatan tertulis warga Boulevard Bluffs atas rencana pembangunan apartemen oleh pengembang properti. Pembangunan apartemen di kawasan perumahan dengan pemandangan laut dianggap akan merusak lingkungan.
Saya jadi teringat Harbor’s Edge, apartemen 3 lantai di jalan utama Mukilteo Boulevard. Saya setuju dengan petisi warga Boulevard Bluffs. Jika dibiarkan, berbagai pengembang properti akan berlomba-lomba mendirikan apartemen di kompleks hunian yang menjaga kelestarian alam, pantai, dan pemandangannya. Bahkan besar kemungkinan, pengembang properti akan membangun apartemen setinggi mungkin demi tujuan komersial, tak mengindahkan dampak lingkungan.
Pasti ada yang menggerakkan warga beramai-ramai mengajukan petisi ke City Council. Siapa dia? Ternyata Von yang gesit itu. Lingkungan Boulevard Bluffs beruntung mempunyai seorang warga yang menggerakkan penghuni lainnya menjaga kenyamanan hidup di kawasan itu.