Adriani Sukmoro

Yalla… Yalla…

Direktur Operasi di salah satu perusahaan tempat saya bekerja dulu diisi tenaga asing berkebangsaan Mesir. Dalam suatu percakapan informal, beliau mengatakan, kasihan melihat karyawan perempuan di  negeri ini yang harus bekerja mencari nafkah. Walau saya berusaha menjelaskan, bahwa sebagian perempuan bekerja itu ingin menggunakan ilmu yang diperoleh dari pendidikannya (tak melulu bertujuan mencari nafkah), beliau bersikukuh tentang betapa beruntungnya perempuan Mesir yang tak perlu bekerja, bisa menikmati waktu di rumah mengurus keluarga.

Saya tak mau berdebat dengan Direktur Operasi itu. Walau tak setuju dengan pandangannya, latar belakang budaya dan praktik di negara berbeda akan berbeda. Saya tahu perempuan Mesir memiliki hak untuk bekerja, namun tingkat partisipasi angkatan kerjanya masih relatif rendah. Mereka menghadapi tantangan seperti stereotip gender, diskriminasi, dan kurangnya akses ke pendidikan dan pelatihan yang berkualitas. Budaya patriarki sangat kuat di Mesir.

Tanah Firaun

Nama negara Mesir sudah terekam di kepala sejak kecil. Pelajaran sejarah dan pelajaran agama melibatkan berbagai kisah yang terjadi di Mesir. Negara itu kaya akan warisan budaya dari masa lalu yang gemilang. 

Ketertarikan melihat Mesir secara langsung membuat saya dan keluarga sengaja memilih negeri itu sebagai destinasi liburan, mengikuti program tour dari suatu agen perjalanan.

“Welcome to Pharaoh’s land,” terdengar suara tour leader setempat yang menyambut ketika kaki menginjak tanah Mesir. Sambutan hangat yang langsung mengingatkan peserta tour akan Firaun, penguasa Mesir kuno. Gelar Firaun itu diberikan kepada kepala negara dan pemimpin agama yang memerintah Mesir. Mereka dianggap sebagai perantara antara para dewa dan rakyat, memiliki kekuasaan penuh atas kehidupan rakyatnya.

Firaun begitu terkenal dalam sejarah berkat peradaban megah Mesir kuno yang dibangun para pemimpin itu, seperti peninggalan bersejarah piramida (tempat makam para firaun), sphinx (patung singa berkepala manusia yang terletak di dekat piramida), kuil megah, dan Lembah Para Raja (Valley of the Kings). 

Kairo

Kairo, ibukota Mesir, menjadi kota pertama yang disinggahi di Mesir. Kesan pertama? Kota yang menampilkan dua sisi: bangunan moderen dan gedung-gedung tinggi dilengkapi dengan tempat-tempat bersejarah. Patut dicatat, pemerintah dan masyarakatnya mempertahankan tempat-tempat bersejarah itu, membuat Kairo layak dikunjungi.

Dinasti Fatimid yang memerintah Mesir memutuskan memindahkan ibukota Mesir dari Alexandria ke Kairo di abad 10. Kairo yang terletak di daratan dianggap lebih aman dari serangan musuh, sementara Alexandria yang terletak di tepi pantai Laut Mediterania dianggap lebih rentan terhadap serangan dari pesisir.

Peserta tour dibawa ke Museum Mesir (Egyptian Museum) di Kairo. Tempat penting untuk melihat dan mempelajari berbagai koleksi artefak Firaun dari periode Pradinasti hingga era Yunani-Romawi. Patung raja-raja yang berjaya dalam sejarah Mesir disimpan dalam museum itu: Khufu, Khafre, dan Menkaure (ketiga turunan Firaun yang membangun piramida di Dataran Giza, mulai dibangun atas perintah Firaun Khufu). Ada koleksi dari makam Tutankhamun di museum itu, seperti mumi-mumi, topeng emasnya, koleksi papirus, sarkofagus (peti mati untuk mumi, dari kayu hingga batu), perhiasan yang dulu dikenakan para firaun dan bangsawan, dan benda-benda yang dulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sungai Nil

Pengetahuan tentang Sungai Nil diperkenalkan ketika saya masih kecil. Pelajaran agama di sekolah menjelaskan, bayi Musa (keturunan Israel) dihanyutkan dalam sebuah keranjang di Sungai Nil, guna menghindari pembantaian anak laki-laki Israel di masa itu. Seorang Putri Firaun menemukannya di tepi sungai, dan mengangkatnya menjadi anak.

Saya penggemar buku-buku yang ditulis Agatha Christie saat menginjak usia remaja. Sungai Nil pun semakin melekat di kepala saat membaca Death On the Nile, novel detektif karya Agatha Christie. Novel itu menceritakan pembunuhan yang terjadi di dalam kapal pesiar yang membawa turis mengarungi Sungai Nil. Visualisasi Sungai Nil semakin diperkuat setelah cerita fiktif novel itu diangkat ke layar lebar. Film produksi Hollywood seperti The Ten Commandments, Cleopatra, dan The Prince of Egypt juga menampilkan Sungai Nil.

Saat kunjungan ke Kairo, peserta tour dibawa melihat Sungai Nil, sungai terpanjang di dunia. Kairo terletak di tepi Timur Sungai Nil, sekitar 800 km di hilir Bendungan Tinggi Aswan. Beberapa atraksi turisme terdapat di sana, namun setiap tempat membutuhkan tiket masuk berbayar. Akibatnya peserta tour hanya dibawa menikmati pemandangan Sungai Nil, tidak dibawa masuk ke Lembah Para Raja (Valley of the Kings) yang terkenal, makam Raja Ramses terdapat di sana.

Terlihat pemandangan perahu layar ramping melintas, membawa turis mengarungi Sungai Nil. Perahu layar itu disebut felucca, perahu tradisional Mesir yang telah digunakan selama berabad-abad untuk berlayar di Sungai Nil. Perahu bergerak didorong angin, turis bisa menikmati pemandangan sungai dengan santai di dalam felucca. Lagi-lagi karena biaya dan waktu sempit, peserta tour tak diberi kesempatan menaiki felucca.

Piramida Giza

Mengunjungi piramida pasti menjadi salah satu agenda perjalanan di Mesir. Piramida Giza merupakan piramida paling terkenal berkat keajaiban konstruksinya. Usianya pun sangat tua.

Saat peserta tour di bawa ke sana, terlihat 3 piramida di kompleks Giza: Piramida Khufu (Cheops) yang terbesar, Piramida Khafre (Chephren) yang sedikit lebih kecil namun tampak lebih tinggi karena berdiri di tanah yang lebih tinggi, dan Piramida Menkaure (Mykerinos) yang terkecil di antara ketiganya. Di antara ketiga piramida itu terlihat patung Sphinx, yang berada tepat di sampingnya.

Mengapa patung Sphinx yang terbuat dari batu, bertubuh singa dan berkepala manusia itu terkenal?

Patung itu mengandung mitologis, ada makna simbolis dan religius sebagai bagian dari kebudayaan Mesir kuno. Patung itu memberi gambaran tentang pemimpin ideal: kuat seperti singa (hewan kuat di padang pasir), dan cerdas serta bijaksana (ditunjukkan melalui gambaran kepala manusia). Patung Sphinx juga diyakini sebagai penjaga spiritual piramida.

Patung Sphinx Agung yang paling besar dan paling terkenal dibangun dekat Piramida Khafre. Panjangnya mencapai 73 meter dari kaki depan hingga ekor, dan tingginya 20 meter dari dasar tubuh hingga puncak kepala.

Saat itu akhir tahun, namun udara tetap terasa panas. Banyak turis mancanegara yang berkunjung, membuat pengunjungnya harus pintar-pintar mencari celah berfoto di piramida.

Papirus

Papirus, lukisan khas Mesir kuno, menjadi salah satu kenang-kenangan yang saya beli saat peserta tour dibawa ke pusat perbelanjaan. Papirus itu langsung dibingkai setelah kembali ke Tanah Air, menjadi hiasan dinding di rumah yang dipajang dekat tangga.

Papirus bukan kertas, namun terasa lembut jika disentuh, berwarna coklat muda kekuningan. Papirus terbuat dari batang tanaman papirus (cyperus papyrus); tanaman air yang tumbuh subur di daerah rawa sekitar Sungai Nil. Bagian dalam batang tanaman itu yang dipotong, kulit luarnya dibuang, dan bagian dalam yang berserat diiris tipis-tipis. Begitulah cara tanaman papirus diolah menjadi lembaran-lembaran yang menyerupai kertas. 

Orang-orang Mesir kuno menggunakan papirus sebagai media tulis; juga membuat berbagai benda lain seperti perahu, tikar, dan keranjang.

Saya sering memperhatikan berbagai pajangan di dinding setiap kali menapaki tangga rumah, gambar dan hieroglif papirus salah satu di antaranya. Walau tak mengetahui pasti apa yang diceritakan, saya menduga adegan kehidupan sehari-hari di masa lampau digambarkan dalam lukisan papirus itu. Terkesan penggunaan warna cerah dan simbolisme yang kuat.

“Yalla… Yalla…”

Begitu teriakan tour leader saat memanggil peserta tour untuk segera menaiki bus, rombongan harus melanjutkan perjalanan. Ayo, cepat, mari… begitu arti teriakan tadi. Peserta tour pun segera bergegas naik ke dalam bus.