
Swalayan, toko, restoran, dan berbagai tempat penjualan lainnya membutuhkan seorang kasir. Pembeli melakukan transaksi pembayaran barang yang dibeli melalui kasir, baik tunai maupun non-tunai, serta mendapatkan struk dari kasir sebagai bukti transaksi pembayaran.
Peran kasir menjadi bagian operasional swalayan, toko, restoran, dan tempat penjualan lainnya; kasir bertanggung jawab mengelola uang, menghitung kembalian, dan memastikan kelancaran proses pembayaran.
Uang Tunai
Uang tunai menjadi alat pembayaran dalam transaksi pembelian di masa lampau. Uang tunai bisa menjadi godaan bagi seorang kasir, terutama jika ada kesempatan untuk mengambilnya dan kurangnya pengawasan di tempat kerja. Ketiadaan pencatatan digital pada transaksi tunai mempermudah kasir menyembunyikan tindakan curang.
Kemajuan teknologi masa kini membuat berbagai usaha meminimalisir kemungkinan kecurangan dalam transaksi pembayaran dengan tunai. Banyak bisnis beralih ke sistem pembayaran non-tunai, seperti kartu kredit, kartu debit, dompet digital, QRIS, dan lain-lain.
Sistem pembayaran non-tunai itu biasanya terintegrasi dengan sistem Point of Sale (POS), menyediakan pencatatan transaksi yang lebih akurat dan transparan. Selain itu, penggunaan mesin kasir (cash register) yang dilengkapi laci kasir (cash drawer) biasanya terhubung dengan sistem POS, sehingga membantu meningkatkan efisiensi dan keamanan transaksi tunai, serta memudahkan pengelolaan uang.
$100
Saya penggemar buku. Pasti mampir di toko buku saat bepergian ke luar negeri, biasanya mencari buku berbahasa Inggris yang sesuai selera dan tidak dijual di Tanah Air.
Di suatu kesempatan, saat mengunjungi Amerika Serikat, saya mampir ke toko buku. Beberapa waktu lamanya memuaskan diri melihat-lihat buku. Sayang tak ada buku baru yang pas dengan selera. Saya memutuskan membeli sebuah buku yang sedang diobral. Harganya hanya $5.
Menjadi kebiasaan saya membayar tunai dengan mata uang negara setempat saat belanja di luar negeri. Saya menghindari penggunaan kartu kredit. Mengapa? Tujuannya untuk meminimalisir dampak nilai tukar mata uang asing ke rupiah.
Jika membayar dengan kartu kredit di luar negeri, bank penerbit akan mengonversi mata uang asing ke dalam rupiah. Kurs yang digunakan biasanya kurs jual yang ditetapkan bank penerbit kartu kredit itu, bukan kurs tengah BI. Wajar jika kurs bank tersebut lebih tinggi dari kurs pasar, bisnis selalu mencari kesempatan memperoleh laba. Selain itu, sebagian besar kartu kredit mengenakan biaya transaksi luar negeri (foreign transaction fee), berkisar antara 1% hingga 3% dari total pembelian.
Saat berbelanja di toko buku tadi, uang tunai US$ tersedia di dompet saya, mata uang asing itu sudah disiapkan dari Tanah Air. Tak perlu mengantri, toko sedang sepi, saya pun langsung berhadapan dengan kasir.
Saya menyerahkan uang tunai sebesar $100 kepada kasir, seorang pemuda berkulit hitam. Lalu saya iseng memperhatikan beberapa barang unik yang dipajang di area kasir. Walau kepala menunduk melihat barang-barang tadi, dari sudut mata saya melihat kasir mengamati saya beberapa saat. Saya berpikir, kasir itu menunggu, siapa tahu saya akan membeli barang yang sedang saya amati.
Karena tak berniat membeli barang yang dipajang di area kasir itu, saya pun kembali menengadah menatap kasir. Kasir menyerahkan kembalian uang tunai, lalu menutup cash drawer. Saya menatap uang yang ada di tangan, hanya $5…
Tiba-tiba saya menyadari apa yang terjadi. Saya sadar betul, tadi menyerahkan uang $100 untuk membayar buku obral seharga $5 karena tak memiliki uang kecil.
“I gave you $100,” saya berkata singkat kepada kasir itu sambil menatap matanya.
“Oh yes,” hanya itu jawaban sang kasir. Ia tak berdebat, tak meminta maaf. Ia tertangkap basah mencoba mengelabui, seorang kasir yang tak mengembalikan uang pembeli sebagaimana seharusnya.
Lalu ia pun sibuk menggunakan intercom yang ada di meja kasir. Gaung intercom bisa didengar siapa saja yang berada dalam toko buku itu. Saya mendengar ia memanggil seseorang. Ternyata kasir itu memanggil supervisor guna membuka cash drawer yang sudah ditutup tadi.
Supervisor datang ke area kasir. Ia mengomel dengan bahasa cukup keras dan jelas terdengar. Ada nada ancaman terhadap kasir, Supervisor akan melaporkan kejadian itu ke Manajer toko.
Saya jadi membaca situasi yang terjadi. Kasir itu ingin mengelabui pembeli. Pantas ia memperhatikan saya tadi selama beberapa saat. Mungkin mempelajari, apakah saya menyadari besaran uang yang saya serahkan atau tidak? Warga lokal memang jarang membayar tunai, sering bergantung pada kartu non-tunai; sehingga mungkin kasir beranggapan saya tak sadar nilai uang yang diserahkan. Apalagi mungkin saya terlihat sebagai warga asing, bisa saja tak familiar dengan nilai mata uang US$.
Dari omelan Supervisor, saya jadi tahu bahwa kasir itu telah melakukan hal sama sebelumnya. Saya menjadi percobaan kedua dalam usahanya mengambil kesempatan mencuri uang, dengan memberi uang kembalian yang lebih kecil dari seharusnya.
Cash Register
Suatu hari saya dan beberapa kolega kantor memutuskan makan siang di luar kantor. Pilihan makanan yang beragam dan harga yang lebih terjangkau membuat saya dan kolega kantor memilih makan siang di foodcourt sebuah mal.
Masing-masing langsung menyebar membeli makanan sesuai selera. Saya mendekati salah satu stan makanan, dilayani seorang pekerja perempuan. Saat hendak membayar, kasir mengatakan cash register sedang rusak, tak bisa digunakan. Saya diminta membayar dengan uang tunai.
Saya memperhatikan suasana stan. Pekerja perempuan yang melayani tadi hanya menundukkan kepala, sementara kasir menatap saya, menunggu pembayaran. Pembayaran pun terpaksa dilakukan tunai.
Tak ada bukti bahwa kasir tadi melakukan kecurangan. Namun pembayaran tunai tanpa bukti transaksi pembayaran menjadi area abu-abu (grey area), pembayaran tak tercatat dalam cash register. Saya jadi berpikir, kasir dan pekerja perempuan yang melayani tadi bisa saja bekerja sama, tak melaporkan penjualan makanan dan minuman. Uang tunai yang dibayarkan pembeli masuk ke kantong pribadi mereka.
Niat Curang
Merekrut kasir yang bisa dipercaya bukan hanya penting, tapi wajib. Kasir merupakan penjaga gawang keuangan. Kecurangan kasir akan merugikan usaha, apalagi bila dilakukan secara rutin dan sistemik.
Pembeli yang menyadari dicurangi kasir, pasti akan kembali menagih uangnya yang dicurangi. Situasi itu membuat wajah usaha bisnis tercoreng, karena kecurangan kasir menjadi bagian tanggung jawab usaha bisnis.
Tidak jujur, manipulatif, tak bertanggung jawab, tidak beretika, tanpa integritas, berani mengambil risiko; merupakan karakter yang harus dihindari untuk mempekerjakan seseorang sebagai kasir.
Walau telah dilakukan sistem transaksi dengan cash register atau POS, jika kasir berniat tidak baik, tetap saja ia bisa melakukan kecurangan.
Misalnya, kasir sengaja memasukkan transaksi pembatalan (void) atas transaksi yang sebenarnya sah. Uang pembatalan (refund) seolah-olah dikembalikan kepada pembeli, padahal uang itu masuk ke kantong pribadi kasir.
Bisa juga terjadi pembelian fiktif, seolah-olah terjadi pembelian (yang dilakukan sang kasir), kemudian ia memasukkan transaksi pembatalan dan proses refund. Transaksi pembelian fiktif tadi membuat kasir mengambil kesempatan mendapatkan uang refund.
Pada situasi lainnya, seorang kasir memanipulasi harga. Kasir sengaja memasukkan data harga lebih tinggi dari semestinya, membuat pembeli membayar lebih mahal dari harga sebenarnya. Selisih uang yang dibayarkan pembeli diambil kasir untuk kantong pribadi.
Alat pindai (scan) harga barang bisa mengatasi situasi di atas, sehingga kasir tak bisa menaikkan harga barang dari semestinya. Apakah transaksi pembayaran sudah aman dari kecurangan? Belum tentu. Kasir yang licik bisa saja mengakali saat pembeli lengah, dengan sengaja dua kali memindai harga barang. Tanpa disadari pembeli, ia membayar dua barang walau sebenarnya hanya membeli satu barang saja. Setelah pembeli berlalu, kasir akan mengajukan refund atas barang berlebih tadi, mengambil uang refund untuk kantong sendiri.
Swalayan, toko, restoran, dan berbagai tempat penjualan lainnya, bertanggung jawab mencegah manipulasi kasir. Tak kalah penting, pembeli turut menjadi benteng terjadinya kecurangan. Pembeli harus waspada, memperhatikan saat kasir memindai harga barang jika ada alat scan, memeriksa struk pembayaran untuk memastikan harga barang dan jumlah barang yang dibeli, hitung uang kembalian jika pembayaran dilakukan secara tunai, simpan data elektronik untuk memastikan transaksi elektronik sesuai pembelian.