
Sering kali seseorang dikatakan “beruntung” saat terjadi suatu hasil yang menggembirakan. Ada unsur kebetulan dalam kata “beruntung” itu. Kesempatan tak terduga, lolos dari bahaya, keberhasilan yang datang pada saat yang tepat; menjadi contoh menjelaskan peran kebetulan dalam hidup.
Anggapan bahwa orang itu beruntung seolah mengecilkan faktor-faktor yang tak terlihat; seperti perjuangan di balik hasil, waktu yang dihabiskan untuk mencapai hasil, usaha mencari dukungan dalam mencetak hasil.
Indonesian Idol
Banyak talenta bersuara emas, tapi mereka tidak menjadi penyanyi terkenal. Mungkin karena memang tak berminat berprofesi sebagai penyanyi, atau mungkin karena tinggal di daerah yang tak memiliki sarana menampilkan suara emasnya, atau karena alasan pribadi lainnya.
Judika lahir di Sidikalang dan dibesarkan di Berastagi, Sumatra Utara. Suara emas dan kegemarannya menyanyi sudah terlihat sejak kecil. Terdorong keinginan untuk dikenal, ia mengikuti berbagai lomba di Sumatra Utara. Ia selalu berhasil menjadi juara, setidaknya 3 besar. Namun ia sadar, kesempatan menjadi penyanyi profesional lebih terbuka di ibukota Jakarta. Orang tuanya mengizinkan ia mengadu untung, merantau ke ibukota di usia muda, 16 tahun.
Setahun kemudian, di usia 17 tahun, Judika mengikuti ajang lomba menyanyi Indonesian Idol 2005. Sejak program kontes menyanyi itu diadakan tahun 2004, Indonesian Idol menjadi acara pencarian bakat yang sangat populer di Tanah Air. Sesuai dengan tujuannya, acara itu fokus pada penemuan bintang penyanyi baru, mengadopsi waralaba global Idol yang berasal dari Pop Idol di Inggris.
Peserta yang berhasil masuk tahap akhir Indonesian Idol, sekitar 10-14 orang, mendapatkan ketenaran instan. Setiap minggu mereka menyanyi di hadapan juri, ditayangkan televisi nasional, membuat pemirsa mengenal wajah dan suara mereka. Satu per satu finalis berguguran akibat mendapatkan voting terendah. Judika mencapai tahap final, membuatnya secara rutin muncul di layar kaca TV selama hampir 3 bulan lamanya.
Judika menjadi runner up Indonesian Idol 2005. Jalan ketenaran pun terbuka, ditapaki secara perlahan, hingga ia menjadi salah satu penyanyi andal di Tanah Air hingga kini, 20 tahun setelah mengikuti kontes Indonesian Idol.
Orang sering mengagumi mereka yang terlihat beruntung. Seperti kisah Judika yang beruntung hidup di era yang memberinya sarana untuk menampilkan suara emasnya. Tapi, apakah keberuntungan sepenuhnya yang berperan dalam metamorfosa Judika?
Ia memang berusia muda di masa yang tepat, saat ajang sebesar Indonesian Idol sedang berada di puncak popularitas. Ia bersuara emas, talenta yang terberi dalam diri. Tapi keberuntungan tidak muncul begitu saja. Keberuntungan menghampiri orang-orang yang bergerak, mencoba, dan mempersiapkan diri. Dari kota asalnya, Judika berjuang, berangkat ke Jakarta, menyongsong kesempatan yang ia lihat terpampang di depannya. Dan yang tak kalah penting, Judika berjuang memanfaatkan talenta yang terberi.
Beasiswa
Masyarakat negeri ini mulai mengenal namanya ketika Prof Yohanes Surya ditunjuk sebagai pelatih utama Tim Olimpiade Fisika Indonesia tahun 1993. Tim pelajar yang dilatih berhasil mencetak prestasi internasional dalam International Physics Olympiad (IPhO) dan kompetisi sains internasional lainnya. Kemenangan yang mengharumkan nama bangssa. Prestasi-prestasi tersebut menarik perhatian media dan publik, terutama karena sains dan fisika bukan bidang yang populer di masyarakat umum.
Perjalanan apa yang telah ditempuh Prof Yohanes Surya dalam mengharumkan nama bangsa?
Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga sederhana, menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di sekolah negeri di Jakarta. Otaknya cerdas, menunjukkan minat dan bakat kuat pada sains dan matematika sejak usia dini. Keterbatasan fasilitas membuat ia terbiasa belajar mandiri dan disiplin, memanfaatkan apa yang ada pada diri dan di sekitarnya.
Ia mengikuti seleksi masuk universitas negeri, dan diterima sebagai mahasiswa jurusan Fisika di Universitas Indonesia (UI). Keberuntungan menyertai, ia berhasil mendapatkan beasiswa Supersemar. Beasiswa itu program bantuan pendidikan yang diberikan Yayasan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), untuk membantu mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar bisa melanjutkan dan menyelesaikan kuliah. Sungguh meringankan beban biaya kuliah yang ditanggung orang tuanya.
Usai meraih kesarjanaan S-1, ia memanfaatkan kecemerlangan otak dengan ikut seleksi beasiswa ke luar negeri. Usahanya berhasil, ia mendapat beasiswa kuliah S-2 dan S-3 bidang fisika di College of William & Mary di Williamsburg, negara bagian Virginia, Amerika Serikat. Pengalaman mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam itu membentuk cara pandangnya tentang mutu pendidikan dan kesenjangan global.
Setelah sukses membawa tim pelajar Indonesia memenangkan berbagai pertandingan internasional bidang fisika, Prof Yohanes Surya mendirikan Surya Institute tahun 2006. Institut itu bertujuan mereformasi pendidikan sains dan matematika di Tanah Air dengan menggunakan metode GASING (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan). Institut itu berkembang menjadi STKIP Surya (2009) dan Surya University (2013).
Tak hanya mendirikan sekolah, ia juga membina anak-anak dari daerah tertinggal (termasuk Papua) hingga berprestasi di Olimpiade Sains tingkat dunia. Apa yang dilakukannya membuktikan, anak dari latar belakang miskin bisa unggul jika diberi metode, disiplin, dan kepercayaan.
Keberuntugnan memperoleh beasiswa kuliah mengantar Prof. Yohanes Surya ke kesuksesan dalam dunia pendidikan. Namun, tak bisa diabaikan, ia memanfaatkan talenta yang dimiliki. Untuk mendapatkan beasiswa itu ia berjuang, mengikuti seleksi bersama orang-orang dengan kapasitas yang sama seperti dirinya.
Dalam kehidupan nyata, seseorang beruntung karena ia mengejar keberuntungan itu, keberuntungan tidak datang kepada orang yang diam tak bertindak. Sering kali keberuntungan datang kepada mereka yang hadir, mengambil risiko, belajar, gagal, mencoba lagi, terus melangkah meski hasilnya belum pasti, dan terus menempatkan diri di tempat-tempat di mana peluang bisa menemukan mereka. Kerja keras tidak menjamin kesuksesan, tetapi sangat meningkatkan peluang bertemu keberuntungan.
Orang-orang yang beruntung sering kali adalah mereka yang mencoba meski terasa tidak nyaman. Mereka harus menekan gengsi atau harga diri, berani mengatasi kecemasan dalam situasi baru, meredam kekecewaan saat ditolak, beradaptasi dengan hal-hal di luar harapan.