Adriani Sukmoro

Menulis Mozaik Kehidupan

Beragam alasan mengapa seseorang menulis. Di antaranya karena didorong hobi, ingin menciptakan karya melalui tulisan. Sebagian lainnya karena ingin berbagi pengetahuan, meninggalkan warisan (legacy). Bahkan menulis bisa menjadi sarana terapi; si penulis bisa melepaskan emosi, mengekspresikan diri, menyuarakan perasaan, memahami diri sendiri, mengungkapkan pikiran yang mungkin sulit dikatakan secara lisan.

Penulis biasanya ingin karyanya dibaca orang lain. Mengapa? Karya tulis yang dibaca berarti diapresiasi; pembaca merasa perlu mengetahui isi karya tulis itu, mendapat manfaat pengetahuan atau pengalaman hidup.

Karya yang dibaca biasanya memberi kepuasan pribadi bagi penulis. Seolah ada pengakuan atas karya tulisnya. Walau jarang yang bisa menggantungkan mata pencaharian dari menulis, tetap saja potensi keuntungan finansial dari hasil karya tulis menjadi pendorong menghasilkan karya tulis lainnya.

Cara Menerbitkan Buku

Suatu hari ada pesan masuk dalam telepon genggam saya. Pesan dari Lila, teman kuliah dulu. Ia bertanya, bagaimana caranya menerbitkan buku?

Pertanyaan tepat sasaran, saya memang sudah berpengalaman menerbitkan 5 buku: 3 buku fiksi yang diterbitkan sendiri (self-published) dan 2 buku non-fiksi yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Ternyata Lila suka menulis. Berpuluh tahun berteman dekat dengan Lila, baru tahu dia suka menulis.

Sebagai orang yang senang menulis, saya sengaja bertemu dengan Lila di suatu mal untuk mendengar passion menulisnya. Lila sering mengisi waktu luangnya dengan menulis. Tapi tulisannya disimpan saja, teronggok di dalam laci meja. Naskah tulisan tak pernah dikirim ke penerbit, tak pernah juga dikirim mengikuti kompetisi menulis.

Lila bermimpi menerbitkan bukunya di suatu saat. Keinginan yang mungkin terpendam lama, dan sekarang dorongan dalam diri begitu kuat, ia ingin mewujudkan mimpinya. Saya sangat mengerti apa yang berkecamuk dalam pikiran Lila. Ia ingin tulisannya dibaca orang. Menerbitkan tulisan dalam buku menjadi salah satu cara untuk membagi cerita yang telah ditulis.

Proyek Buku

Saya hanya bisa membagi pengalaman menerbitkan buku pada Lila, tak bisa membantu lebih jauh. Menerbitkan buku sendiri membutuhkan dana pribadi, nilainya lumayan, tidak murah. Boro-boro mendapat keuntungan dari penjualan buku, buku yang diterbitkan belum tentu laku terjual. Tak ada jaminan modal yang dikeluarkan bisa kembali.

Namun, keinginan Lila yang belum terwujud tak bisa hilang dari pikiran. Bagaimana caranya membantu teman menerbitkan karya tulisnya?

Nah, terkadang hal tak terduga terjadi di saat tak terduga.

Di suatu kesempatan, langkah kaki membawa saya bertemu dengan Ari Kartika Dewa, pemimpin Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPTUI). Ada urusan yang perlu didiskusikan bersama pimpinan LPTUI itu. Di saat pamit usai meeting, Ari menyerahkan 2 buah buku yang diterbitkan LPTUI. Buku itu ditulis karyawan LPTUI, diterbitkan berkat kerja sama LPTUI dengan Biliknulis. Ternyata, karyawan LPTUI telah melalui proses belajar menulis, dibimbing Biliknulis untuk bisa menuangkan pengalaman mereka ke dalam tulisan.

Saya jadi terkesan. Buku karyawan LPTUI diterbitkan di masa pandemi Covid-19 berlangsung. Ide kreatif, membantu karyawan mengisi masa-masa sulit pandemi dengan produktif, menghasilkan karya. Mereka jadi bebas menumpahkan kegalauan, kesedihan, kemarahan, atau bahkan sebaliknya, berbagi kegembiraan, berbagi rasa syukur.

Langsung saja saya menghubungi Lila, menunjukkan buku karya karyawan LPTUI. Menyarankan Lila untuk belajar dari Ari Kartika Dewa, how to publish a book.

Saya tak tahu kelanjutan referensi yang diberikan di atas, hingga Lila menghubungi di awal Desember 2024. Dia sudah ngobrol dengan Ari, lalu muncul ide membuat buku bersama teman-teman seangkatan, alumni Fakultas Psikologi. Ide seperti itu pernah muncul di grup alumni beberapa tahun lampau, tapi tak ada motor penggeraknya, hilang bersama waktu. Kali ini harapan lebih mungkin terjadi, Ari sudah berpengalaman menerbitkan buku bersama tim LPTUI dan Biliknulis.

Kerja Keroyokan

Woro-woro di grup WhatsApp alumni seangkatan berhasil menarik peminat, sejumlah alumni mendaftarkan diri, ikut dalam proyek membuat buku. Dan saya pun ikut terpanggil. Proyek buku alumni itu proyek kebersamaan. Kapan lagi bekerja sama dengan teman-teman seangkatan, meninggalkan rekam jejak hidup melalui tulisan dalam sebuah buku?

Saya mengutip apa yang dikatakan The Three Muskeeters. Ketiga kesatria dan pengawal Raja Perancis itu memiliki motto, all for one and one for all. Setiap individu dalam kelompok alumni penulis perlu memberi semangat dan dukungan satu sama lain. Buku tak akan terwujud jika satu, atau dua, atau tiga, mundur teratur, mengurungkan niat menulis dengan alasan masing-masing.

Proyek penerbitan buku pun diluncurkan, buku berupa antologi, berisi kumpulan karya tulis alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Proses bergulir, semua belajar menuangkan pengalaman hidupnya ke dalam tulisan, dibimbing Biliknulis. Di balik proses itu, terjadi dorongan psikologis untuk menyelesaikan tulisan. Tak perlu takut tulisan jelek, tak layak diterbitkan. Kehadiran pembimbing menguatkan kepercayaan diri menulis. Kerja ‘keroyokan’ memberi efek positif. Dalam kurun waktu satu bulan, seluruh tulisan telah masuk ke Biliknulis.

Para penulis diminta mengusulkan judul buku yang dianggap cocok menggambarkan kisah pengalaman yang terkandung di dalamnya. Muncul beberapa usulan, judul Mozaik Kehidupan yang dipilih berdasarkan hasil voting para penulis.

Senang melihat kebersamaan alumni penulis mewujudkan buku Mozaik Kehidupan. Bersyukur saya turut berkontribusi dalam buku itu. Dan jauh di dalam lubuk hati, bahagia melihat Lila menggapai impiannya, karya tulisnya ada dalam buku itu.